Slow Living, Slow Down, dan Slow Parenting dalam Kehidupan yang Cepat

Slow Living, Slow Down, dan Slow Parenting dalam Kehidupan yang Cepat

Pengasuhan lambat adalah tentang membiarkan anak-anak menjalani kehidupan yang lebih lambat dan lebih sederhana, sehingga mereka dapat menemukan dunia dengan kecepatan mereka sendiri.

“Pengennya sih istirahat, tapi duh … kerjaanku banyak banget!”

 Sepertinya kata itu bak kalimat sakti untuk memiliki alasan seseorang tak bisa bersantai-santai, sekaligus mendeklarasikan diri di hadapan sekitar atau circle terdekat sebagai orang sibuk.

Kehidupan perkotaan yang cepat, dengan aktivitas satu dan lainnya tumpang tindih, plus seolah ada stereotipe bahwa hanya orang-orang yang cepat akan lebih menuntaskan pekerjaannya, membuat manusia seakan berkejaran dengan waktu.

Lihat saja beberapa kemajuan teknologi yang menempatkan teori bahwa perilaku menunggu itu buang waktu, tidak produktif, lalu sebagai kontra-nya menawarkan percepatan proses sesuatu.

AI contohnya. Proses menulis seperti yang saya lakukan ini tentu akan lebih ekspres menggunakan kemajuan itu. Mungkin termasuk ilustrasi tulisan juga.

Temuan para pengguna AI belakangan mengemukakan kekurangannya, salah satunya tak terlalu memberi sentuhan untuk tidak apa-apa bila ada ketidaksempurnaan kerja manusia.

Lalu, mengapa kita perlu slow down; dan apa bedanya dengan slow living?

Slow Living dan Sejarahnya

Konsep slow living yang diviralkan lewat wawancara dengan Lulu Tobing, beberapa waktu lalu adalah pola pikir di mana seseorang memilah model kehidupan yang lebih bermakna, dengan hanya melakukan hal-hal yang bernilai dalam kehidupan.

“Lah, bagaimana bisa ketika yang paling bernilai bagi saya adalah bekerja atau karir. Atau yang bernilai adalah populer, sehingga harus update terus dengan segala sesuatu!” Seorang teman menanggapi demikian.

“Ya, dia Lulu Tobing yang mungkin sudah berapa harta dan simpanannya. Kalau kita yang masih mengumpulkan pundi-pundi untuk masa depan?” Teman yang lain menimpali.

Sebagai komentar, berikut kelanjutan definisi tadi.

Pemahaman slow living berarti mengerjakan dengan kecepatan terukur dan spesifik untuk setiap aktivitas. Daripada mengerjakan segala sesuatu seketika, bergerak melambat fokus pada mengerjakan hal tersebut dengan lebih baik atau maksimal.

“Nah, kalau dengan tempo kecepatan spesifik untuk setiap kegiatan, aku setuju. Kerja boleh sigap, tapi makan ya dinikmati.”

Dengan pemahaman seperti di atas, konsep slow living mengajak individu untuk memperlambat diri dan mengerjakan hal-hal prioritas saja.

Dari mana asal konsep ini sebenarnya?

Konsep slow living hanya satu dari gerakan memperlambat diri yang dimulai tahun 1980an di Itali. Saat itu ada event pembukaan gerai McDonald di jantung kota Roma. Carlo Petrini dan beberapa aktivis membentuk gerakan Slow Food sebagai kontra Fast Food.

Slow Food ini berpihak pada olahan makanan tradisional. Saat ini gerakan ini sudah memiliki pegiat dan pendukung lebih dari 150 negara dan terus berupaya melindungi tradisi gastronomik, mendorong pembayaran setimpal untuk produsen pangan lokal, menggiatkan tradisi menikmati makanan berkualitas dan tentu saja tentang keberlangsungan sumber pangan yang berkelanjutan.

Gerakan Slow Food yang sudah hampir empatpuluh tahun itu lalu didukung oleh Carl Honore, penulis dan pegiat Slow Movement. Menurutnya konsep Slow ini bisa diterapkan di berbagai aspek kehidupan.

Mulai Slow Travel, Slow Fashion, Slow Fitness, Slow Gardening, dan sebagainya.

Jujur, dari semua istilah itu saja, saya paham hanyalah Slow Fashion di mana seseorang mulai dari membeli pakaian yang non trend, awet bisa dikenakan bertahun-tahun, tanpa mengikuti keluaran terbaru, tren OOTD di media sosial, atau apapun itu.

Apa bedanya dengan Slow Down?

Konsep slow down sesungguhnya inti dari konsep Slow Living.

Memberlakukan konsep Slow Down dalam aktivitas sehari-hari adalah dengan fokus melakukan satu per satu pekerjaan atau tanggung jawab, daripada mengerjakan sesaat lalu beralih ke pekerjaan lain, lalu sebentar lagi ke pekerjaan yang lain lagi.

Para tokoh dan pegiat Slow Down meyakini melakukan hal ini adalah pilihan berkesadaran, dan tak selalu mudah, akan tetapi tingkat kepuasan ketika satu demi satu pekerjaan itu selesai, menjadi lebih maksimal.

Penemu Zen Habit, Leo Babauta, mengungkapkan ada beberapa aturan untuk menerapkan konsep Slow Down ini, yang saya ambil acak beberapa di antaranya.

1. Tidak semua tanggung jawab diambil, fokus hanya yang menjadi prioritas, dan bernilai untuk hidup

2. Fokus pada apa yang akan dilakukan sekarang, bukan yang minggu depan, bukan juga yang sudah berlalu.

3. Jangan selalu terhubung. Ketika fokus bekerja di dalam kehidupan, yang tak berhubungan dengan network atau internet, jangan membawa ponsel atau tidak mengupayakan laptop terhubung dengan wifi.

4. Fokus pada orang di realita, akan apa yang dibicarakannya, atas apa yang dilakukannya terutama ketika bertemu. Bukan malah melihat ponsel masing-masing.

Lalu, apakah mungkin menerapkan Slow Down parenting kepada anak-anak?

Ternyata ada istilah Slow Parenting, di mana dengan konsep serupa. Fokus melakukan satu per satu kegiatan, dan tidak memburu-burunya, meski anak-anak generasi sekarang juga banyak yang ‘dikejar-kejar’ tugas-tugas sekolah, dan memiliki sedikit waktu bermain non gadget.

Ditemukan bahwa Slow Parenting ini ternyata banyak bermanfaat untuk anak-anak; menjadikan mereka

• Lebih berani dan percaya diri

• Lebih terbuka dan membuka diri akan hal baru

• Lebih tenang juga, karena tidak dilimpahkan kepanikan orang tua

Selanjutnya, berikut beberapa tips untuk menerapkannya

1. Stop, Lihat, dan Dengarkan

Berikan banyak waktu untuk beraktivitas satu kegiatan, biarkan mereka eksplor dan merasakan banyak pengalaman baru

2. Tidak memberi target yang membuat cemas, sehingga anak hanya fokus di mencapai target, bukan merasai pengalaman saat berkegiatan

3. Hadir ketika anak berkegiatan, meski sebentar; karena anak akan merasa diapresiasi dengan kehadiran kita sebagai orang tuanya 

Dan, yang terpenting sebagai esensi parenting model ini; orang tua mampu memberi contoh bagaimana memperlambat ritme sehari-hari.

Bukankah orang tua yang rileks dan tidak cemas, akan memberi contoh kepada anak-anak untuk tidak juga melulu cemas mengikuti ritme kehidupan di masa sekarang?

Terintimidasi Konten Parenting : Kamu Nggak Sendiri, kok, Bu!

Rupa-rupa Wajah dan Mental Manusia ala Squid Game

Kisah Perempuan, Drama Korea dan Realita

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta