Smaragama: Kenikmatan Cinta

Kenikmatan cinta suami istri sumber kebahagiaan pernikahan. Karena itulah Kitab Smaragama memberi wejangan, bahwa: “Kepada kalian diberikan indra penciuman, maka berciumanlah dengan masing-masing pasangan, kecup-kucuplah harum sekujur penjuru badan, biarkan bibir kalian merasai manisnya madu kemesraan, biarkan lidah kalian bertualang di belantara perbukitan, memanjat tugu kerinduan dan menari di ujung lingkaran, mengembarai kelembutan ngarai berhutan, dan menemukan permata idaman”

Ilustrasi Dito Sugito

Bait Tiga: PERSEMBAHAN PERAWAN

Demikianlah yang tersurat dalam kehidupan Sangaji dan Salindri, sepasang duta kebahagiaan, juga para pengantin yang disucikan pernikahan, tatkala kedua pasangan saling mempersembahkan keperjakaan dan keperawanan di malam kebahagiaan.

Barangkali terasa kuno, dan mengherankan, apabila di abad yang ditandai peradaban zaman edan, di mana zinah dimaknai sebagai modernisasi kehidupan, masih mengagungkan keperjakaan dan keperawanan.

Barangkali juga terasa lucu, dan menggelikan, apabila di zaman yang memuliakan kebebasan ada yang masih mempercayai lembaga perkawinan sebagai salah satu jalan menuju kebahagiaan.

Atau barangkali akan terasa sangat merepotkan, bila di masa apa saja bisa dipesan dalam kemasan instan, masih ada yang bersedia menjalani suatu kehidupan, yang sarat tata cara dan dibatasi berbagai aturan, demi mendapatkan sesuatu yang didambakan, walaupun sama sekali tak ada jaminan kepastian bahwa yang akan terwujud dalam kenyataan sesuai persis dengan apa yang diharapkan.

Perihal zinah dan makna modernisasi, dalam Kitab Smaragama tertulis wacana begini: “Jika makna peradaban modem itu juga berarti kebebasan berzinah bagi kaum perempuan dan lelaki, beda apa manusia dengan ayam, kambing, atau kelinci?”

Dan tentang memuliakan kebebasan, Kitab Smaragama mengatakannya demikian: “Mereka yang memuliakan kebebasan seringkali justru memenjarakan kebebasandi dalam sebuah bingkai suatu pengertian yang dirakit sejumlah pembenarandan ditetapkan sebagai tujuan. Bukankah seperti tercatat di banyak pengalaman, bahwasanya yang memuliakan kedermawanan, tak lantas berarti mereka benar-benar dermawan, walau hanya sorga pula yang mereka rindukan, sebagai tujuan akhir setelah dijemput kematian?’

Sedangkan mengenai tata cara dan upacara yang mewarnai kehidupan dan kebudayaan manusia, lagi-lagi Kitab Smaragama bertanya: “Seperti apa gerangan kehidupan manusia seandainya ketika Adam memandang daun di sekitamya semata-mata hanya melihatnya sebagai daun belaka, dan bukan sebagai pakaian penutup ketelanjangannya?”

Demikian pula yang sesungguhnya terjadi pada sepasang pengantin ketika pertama kali memasuki kehidupan sebagai suami istri, yakni berada dalam suatu situasi dan kondisi seperti ketika Adam dan Hawa turun di bumi, saat segala sesuatu harus dikerjakan sendiri tanpa bekal pengetahuan yang memadai, tentang bagaimana mulai mengawali percintaan yang indah dan bisa dinikmati, juga agar tak terjadi tindakan saling menyakiti, pun di saat keperawanan sang istrimemberikan kesaksian dengan darah suci.

Kepada pengantin lelaki telah dijelaskan, bagaimana dan apa yang seyoganya dilakukan saat menerima anugerah memetik kesucian secara indah, nikmat, nyaman, dan aman, maka sekarang giliran pengantin perempuan yang mendapatkan wejangan demikian:

“Malam pertama pemikahan, adalah malam persembahan perawan,sebuah malam yang tak mudah terlupakan, dan yang di sepanjang hidup perempuanhanya satu kali terjadi-sekali, tak tergantikan, seperti halnya kelahiran, dan juga kematian, cuma terjadi sekali di awal dan akhir kehidupan, sehingga tak patut apabila disia-siakan.”

“Maka setiap pengantin perempuan hendaknya mengerti bagaimana melaksanakan dan mengetahui apa saja yang mesti dilakukan sebelum berbaring di ranjang peraduan.”

“Yang mesti dilakukan pertama kali, adalah merendam diri dalam kolam melati, setidaknya sucikanlah ragamu dengan mandi bersihkanlah sekujur tubuhmu secara teliti, hingga lekuk-liku lipatan paling tersembunyi, dan harumkanlah badanmu supaya wangi, riaslah wajahmu agar tampak berseri, setelah pasti semua beres dan rapi, maka tibalah saatnya menemui suami.”

“Apabila tak ada perasaan gamang biarkan saja kamar pengantin terang benderang, namun jika muncul rasa malu atau bimbang, upayakan tercipta ruang yang remang-remang, dan alunan musik yang sayup mengambang akan membuat kalian berdua serasa ditimang, diayun- ayun gairah birahi yang menggelombang, melayang-layang di langit fantasi kasih sayang.”

“Dan biarlah tubuhmu yang telanjang, hanya terbalut gaun malam tipis membayang, agar gairah birahi semakin giat menggelinjang, supaya langit fantasi kian panas terangsang, dan ketika angan-angan sudah mabuk kepayang ayunkan langkah perlahan-lahan menuju ranjang, menghampiri suamimu yang diam memandang, lalu perlahan-lahan pula berbaringlah telentang, dan berusahalah terlihat senang namun tenang, walau bumi terasa bergoyang-goyang.”

Sucikanlah pikiran dan angan-angan, dari hal-hal selain malam persembahan perawan. Kosongkanlah perasaan dan relung hati dari segala macam urusan dan beban duniawi, karena pada malam itu engkau ibarat bayi, yang akan dibelai, dikecup, dielus, dan diciumi.”

“Dan apabila kau rasakan sentuhan,atau bahkan jika kau tahu gaunmu ditanggalkan, tak perlu malu atau mencoba mempertahankan dengan gerakan ataupun dengan perkataan.”

“Pun apabila kecup cium suamimu yang semula mengulum kelembutan bibirmu, perlahan merayap turun menyusuri tubuhmu, bahkan jika menyelinap di lipatan berliku, di bawah perut di sela kedua pahamu, nikmati saja tanpa rasa ragu.”

Demikianlah wejangan Bait Tiga yang akan dilengkapkan pada Bait Empat: MEMANAH REMBULAN.***

Avatar photo

About Harry Tjahjono

Jurnalis, Novelis, Pencipta Lagu, Penghayat Humor, Penulis Skenario Serial Si Doel Anak Sekolahan, Penerima Piala Maya dan Piala Citra 2020 untuk Lagu Harta Berharga sebagai Theme Song Film Keluarga Cemara