Sumanto al Qurtuby : Busana Muslim/Muslimah itu Tidak ada!

Busana muslim/muslimah itu hanya “imajiner” (hanya ada di alam pikiran saja) meski bagi kelompok Islam tertentu hal itu nyata adanya. Umat Islam Arab Timteng tidak mengenal istilah “busana muslim.” Mereka juga tidak menganggap gamis sebagai “busana muslim” atau pakaian Nabi Muhammad melainkan pakaian sebagian masyarakat Arab kontemporer, baik muslim maupun bukan.

Seide.id – Klaim adanya busana muslim sebenarnya tidak ada. Orang orang Arab tidak mengenal busana muslim. Istilah “busana muslim/muslimah” itu semacam re-kreasi atau re-konstruksi sejumlah kalangan umat Islam berdasarkan pandangan, pemahaman, dan penafsiran atas teks dan diskursus keagamaan tertentu, selain sebagai bagian dari upaya membangkitkan identitas keislaman di tengah serbuan gelombang modernitas dan globalisasi.

Hal itu diungkapkan Sumanto al Qurtuby, profesor antropologi dan pengajar di King Fahd Petroleum University, Arab Saudi. Cendekiawan muslim moderat ini, merespon hiruk pikuk apa yang mereka sebut sebagai “busana muslim” dan “busana muslimah”.

Kalangan media, kelompok elite politik, selebritis, tokoh masyarakat ramai menggemakan wacana dan terma “busana Muslim/Muslimah” ini.

Profesor Sumanto menegaskan, tidak ada “busana muslim”, sebagaimana tak ada “busana Kristen”, “busana Buddha”, “busana Hindu” dlsb). “Yang ada adalah busana gamis, jarik, jeans, sarung, kebaya, piyama, baju koko, baju batik, kemeja, kerudung dlsb, “ tulisnya dalam kolom opini yang ditulis di laman media Jerman Deutsche Welle edisi Indonesia.

Jadi, fenomena ini juga bisa dibaca sebagai penanda kemunculan atau kebangkitan “Islam formal” atau “Islam simbol” – tegas dosen asal Jawa Tengah yang mengecap pendidikan antropologi budaya di Boston University, Amerika ini.

Lebih rinci dijelaskan, sejatinya istilah busana muslim/muslimah itu hanya “imajiner” belaka (hanya ada di alam pikiran saja) tetapi bagi kelompok Islam tertentu hal itu nyata adanya. Jika pandangan mereka tentang “busana muslim” itu relatif longgar, maka persepsi mereka tentang “busana muslimah” tampak sangat kaku.

Yang mereka maksud dengan “busana muslim” itu biasanya gamis atau jubah yang, dalam persepsi dan imajinasi mereka, dianggap sebagai pakaian Nabi Muhammad. Bagi mereka, memakai gamis / jubah (apalagi yang berwarna putih) adalah bagian dari upaya mengikuti kebiasaan berpakaian Nabi Muhammad atau sunah rasul.

Modivikasi dari baju koko ala Jackie Chan kini juga diklaim sebagai busana muslim.

Ada pula yang menganggap “baju koko” adalah “busana muslim”, walaupun terasa agak aneh dan janggal. “Kenapa baju koko yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa bisa dianggap sebagai ‘busana muslim’..” tanya penulis sejumlah kajian Islam di Arab dan Indonesia di era modern ini.

Diungkapkan, umat Islam Arab Timteng tidak mengenal istilah “busana muslim.” Mereka juga tidak menganggap gamis sebagai “busana muslim” atau pakaian Nabi Muhammad – melainkan pakaian sebagian masyarakat Arab kontemporer, baik muslim maupun bukan.

Menurut mereka, busana yang dipakai masyarakat Arab pada abad ketujuh Masehi ketika Islam lahir di Jazirah Arab sangat berbeda dengan jubah masyarakat Arab masa kini.

Pakaian pria khas warga jazirah Arab.

Pakaian gamis sendiri memiliki aneka ragam corak. Setiap daerah berbeda-beda. Itupun hanya populer di kawasan Arab Teluk (Arab Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Oman), Yordania, dan Yaman. Di negara-negara Arab lain seperti Mesir, Irak, Libanon dlsb, gamis tidak populer. Mereka lebih banyak mengenakan pakaian non-gamis (jeans, kaos, jas, kemeja). Sedangkan baju koko sama sekali tidak mereka kenal.

Singkatnya, bagi umat Islam Arab Timteng, jenis pakaian apa pun, termasuk gamis, tidak beragama dan bisa dipakai oleh umat mana saja. Karena itu jangan heran kalau menyaksikan sebagian umat Arab Kristen (termasuk pastor/pendetanya) mengenakan gamis lengkap dengan penutup kepala (kuffiyah, ghutrah dan lainnya) jika sedang beribadah atau kebaktian di gereja.

Di Indonesia, sebutan “busana muslimah” itu biasanya mengacu pada jenis busana yang bernama jilbab, hijab, dan kini ditambah cadar. Bahkan sekedar jilbab atau hijab saja tidak cukup. Mereka menambahi embel-embel “syar’i” (jilbab syar’i atau hijab syar’i) supaya dianggap lebih Islami. Maksudnya, desain pakaian jilbab dan hijabnya harus panjang-lebar dan gelombor bukan minimalis.

Bagi kelompok muslim/muslimah yang lebih konservatif lagi bahkan memandang jilbab dan hijab itu harus berwarna hitam supaya lebih islami dan lebih syar’i lagi. Selain itu, mereka menganggap cadar (niqab dan sejenisnya) sebagai bagian dari ajaran Islam yang esensial sehingga wajib hukumnya bagi perempuan muslimah, baik dewasa maupun anak-anak, untuk mengenakannya.

Bahkan di Indonesia, beredar luas di sosial media tentang para siswi sebuah Sekolah Dasar yang mengenakan kain cadar hitam. “Di sebuah bandara pernah melihat anak-anak balita yang memakai kain cadar bersama ibu-ibu mereka yang juga bercadar hitam” katanya.

Pemandangan seperti ini nyaris susah dijumpai di kawasan Arab Timteng. “Jangankan balita, anak-anak dan remaja juga tidak bercadar. Bahkan bukan hanya cadar, mereka juga tidak memakai hijab. Setidaknya hingga SMU. Meskipun tentu saja ada yang berhijab” tegas Profesor kelahiran Batang, Jawa Tengah, lulusan Boston University pada jurusan antropologi budaya.

sumanto-al-qurtuby
Sumanto-al-qurtuby : Di Arab anak anak hingga remaja tidak berjilbab.

Arab Saudi dan Qatar yang dianggap negara Arab paling konservatif di Timteng dalam hal aturan keagamaan dan berbusana (sebelum berubah sejak tahun-tahun terakhir ini) juga tidak mewajibkan dan mempraktikkan itu. Apalagi di negara-negara Arab Timteng lainnya.

Misalnya, kultur umat Islam Libanon dikenal moderat-liberal-modern, kecuali sejumlah faksi militan (seperti Hizbullah), sehingga banyak dijumpai perempuan yang berbusana casual tanpa jilbab dan hijab. Kelompok Islam Alawi di Suriah bahkan tidak mendoktrinkan dan mewajibkan hijab sehingga tak heran kalau banyak perempuan Alawi yang tak berhijab.

Perempuan Saudi sekarang juga sudah mulai banyak yang tidak mengenakan hijab di ruang-ruang publik setelah pemerintah “memoderatkan” atau “mengfleksibelkan” aturan tata busana bagi perempuan.

Bukan hanya pemerintah sebetulnya, sejumlah tokoh muslim dan ulama Saudi ternama seperti Syaikh Abdullah Al-Mutlaq (ahli fiqih perbandingan mazhab serta anggota lembaga fatwa dan dewan ulama senior) dan Syaikh Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa (Sekjen Muslim World League dan penerima Combat Anti-Semitism Award dari American Sephardi Federation) juga turut mewacanakan kelonggaran dan fleksibilitas bertata busana bagi perempuan muslimah.

Menurut Sumanto Al Qurtubi, Syaikh Al-Mutlaq misalnya dengan tegas mengatakan bahwa perempuan muslimah tidak harus mengenakan pakaian sejenis jilbab (atau abaya) dan hijab, apalagi cadar. – dms

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.