Tahun 2023, Tahun Mematikan bagi Wartawan di Medan Perang

Jurnalis di Gaza - Menjadi Target - Reuters

Konflik pada tahun 2023 menyebabkan sebagian besar kematian di media, dengan tiga orang tewas ketika bertugas di Ukraina. Juga konflik Israel-Hamas yang hingga kini menewaskan lebih dari 60 wartawan, sebagian besar warga Palestina. Bagi jurnalis lokal, meliput perang merupakan pengalaman yang sangat pribadi.

Seide.id – Perang di Ukraina dan Gaza menimbulkan banyak korban jiwa. Cristina Caicedo Smit dari VOA berbicara dengan dua mantan wartawan mengenai pengalaman merek, dan mengapa mereka tetap meliput, meskipun berbahaya.

Kehilangan dan risiko muncul ketika berkarya sebagai wartawan perang. Terkait perang Israel-Hamas, kelompok seperti Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) menekankan pentingnya wartawan bekerja dengan aman.

Penonton, pendengar atau pembaca mereka, kata Sherif Mansour, mengandalkan mereka. “Ratusan juta orang di seluruh dunia yang mengikuti berita konflik yang memilukan itu berusaha memahaminya. Mereka bergantung pada jurnalis untuk memperoleh informasi dan komentar yang tepat waktu dan bebas,” ujar Mansour, koordinator program CPJ di Timur Tengah dan Afrika Utara .

Arwa Damon adalah wartawan dan pendiri Inara, organisasi kemanusiaan yang memberi perawatan medis kepada anak-anak pengungsi Suriah. “Bagi mereka, ini bukan sekedar konflik, namun kehidupan mereka, keluarga dan masyarakat mereka, ini adalah budaya dan adalah kota mereka,” katanya.

Damon, yang meliput konflik di Suriah dan Irak mengatakan, wartawan juga berisiko menjadi sasaran yang disengaja. “Irak adalah tempat yang sangat berbahaya ketika itu bagi jurnalis untuk bekerja. Dan harga yang harus dibayar … Ini sangat berbeda ketika wartawan sengaja menjadi sasaran, dibanding mengambil risiko hanya berada di medan perang,” imbuhnya.

Sedangkan Benjamin Hall menjadi korban ledakan saat meliput perang di Ukrania. Ledakan bom pertama terjadi ketika reporter Fox News itu bersama awaknya kembali dari liputan sehari tentang serangan Rusia di kota Horenka, di luar ibu kota Kyiv, Ukraina.

“Dan beberapa detik kemudian, bom kedua mendarat tepat di samping mobil. Bom yang pertama, kami berlima berada di dalam mobil – Pierre, saya sendiri, dan Sasha di kursi belakang dan dua orang Ukraina yang mengemudi. Bom kedua membuat saya pingsan,” kata Hall.

Ledakan dari serangan tahun 2022 itu membuat Hall pingsan. Penampakan sosok keluarganya mendorongnya untuk keluar dari mobil. “Anak perempuan saya, berusia 8 tahun tepat di depan mata saya dan mengatakan, ‘Ayah, ayah harus keluar dari mobil,” lanjutnya.

Meskipun terluka parah, Hall berhasil melepaskan diri. Ia selamat. Tetapi juru kamera Pierre Zakrzewski dan reporter Ukraina, Oleksandra Kuvshynova yang membantu tim, tewas.

Dengan luka bakar dan cedera serius, termasuk kehilangan satu kaki, Hall menjalani beberapa operasi. Pengalaman itu katanya, berguna untuk mengingatkan para wartawan dan khalayak, atas risiko yang dipikul wartawan dalam meliput berita.

Wartawan Hall dan Damon sepakat bahwa pers yang bebas adalah cara utama bagi masyarakat untuk membuat keputusan-keputusan tepat yang diberikan.

94 Jurnalis Terbunuh, 400 Lainnya Dipenjara

Sebuah organisasi terkemuka yang mewakili jurnalis di seluruh dunia menyatakan keprihatinan mendalam pada Jumat (8/12) atas jumlah profesional media yang tewas terbunuh di berbagai penjuru dunia saat melakukan pekerjaan mereka pada 2023.

Dalam penghitungan tahunan kematian pekerja media, Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mengatakan 94 jurnalis telah terbunuh sepanjang tahun ini dan hampir 400 lainnya dipenjara. IFJ juga mengatakan, perang Israel dengan Hamas menyebabkan kematian jurnalis paling banyak dalam lebih dari 30 tahun.

Angka kematian tahun ini meningkat dari 67 pada periode yang sama tahun 2022, dan dua kali lipat dari total 47 kematian yang tercatat sepanjang tahun 2021.

Kelompok ini menyerukan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja media dan menuntut agar pelaku penyerangan terhadap pekerja media dimintai pertanggungjawaban.

“Pentingnya standar global baru untuk perlindungan jurnalis dan penegakan hukum internasional yang efektif sangatlah penting,” kata Presiden IFJ Dominique Pradalie.

Kelompok tersebut mengatakan 68 jurnalis telah terbunuh saat meliput perang Israel-Hamas sejak Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober – lebih dari satu jurnalis dalam sehari dan menyumbang 72% dari seluruh kematian media di seluruh dunia pada tahun ini.

IFJ mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka adalah jurnalis Palestina yang berada di Jalur Gaza, tempat pasukan Israel melancarkan serangan mereka.

“Perang di Gaza lebih mematikan bagi jurnalis daripada konflik apa pun sejak IFJ mulai mencatat para jurnalis yang terbunuh saat menjalankan tugas pada tahun 1990,” kata kelompok tersebut.

Ukraina juga “tetap menjadi negara yang berbahaya bagi jurnalis” hampir dua tahun sejak invasi Rusia, kata organisasi tersebut. IFJ mencatat, tiga wartawan atau pekerja media telah tewas dalam perang itu sepanjang tahun ini.

Organisasi ini juga menyesalkan kematian pekerja media di Afghanistan, Filipina, India, China, dan Bangladesh.

Mereka menyatakan prihatin bahwa kejahatan terhadap pekerja media umumnya terabaikan hukum dan mendesak pemerintah “untuk memberikan perhatian penuh terhadap pembunuhan ini dan mengambil langkah-langkah untuk menjamin keselamatan jurnalis.”

Laporan tersebut mencatat adanya penurunan jumlah jurnalis yang terbunuh di Amerika Utara dan Selatan, dari 29 orang pada tahun lalu menjadi tujuh orang pada 2023.

Kelompok tersebut mengatakan tiga jurnalis Meksiko, satu jurnalis Paraguay, satu jurnalis Guatemala, satu jurnalis Kolombia dan satu jurnalis Amerika tewas ketika melakukan investigasi terhadap kelompok-kelompok bersenjata atau penggelapan dana publik.

Hasil Investigasi, Serangan Tank Israel

Kantor berita Reuters dan AFP masing-masing menerbitkan hasil investigasi terhadap serangan Oktober lalu di Lebanon Selatan yang menewaskan seorang wartawan dan mencederai enam lainnya. Mereka mengatakan bahwa temuan-temuan mereka mengisyaratkan bahwa kelompok itu diserang oleh tank Israel.

Masing-masing organisasi media itu bekerja sama dengan pakar eksternal untuk meninjau rekaman video, citra satelit, pernyataan para saksi mata dan pecahan amunisi, dan menyimpulkan bahwa pecahan ini berasal dari peluru tank 120 mm yang digunakan hanya oleh militer Israel.

Serangan tersebut terjadi pada 13 Oktober, sewaktu para wartawan berkumpul di dekat desa perbatasan Lebanon, Alma al-Chaab, untuk merekam video di daerah-daerah sekitarnya di mana terjadi bentrokan lintas perbatasan antara militer Israel dan orang-orang Palestina.

Reuters dan AFP mengatakan para wartawan jelas diidentifikasi sebagai awak pers yang mengenakan jaket antipeluru dan helm.

Tembakan awal tank menghantam kelompok itu, dengan cepat disusul dengan tembakan kedua, kata kantor-kantor berita itu. Wartawan Reuters Issam Abdallah tewas, sedangkan dua rekannya dari Reuters dan seorang wartawan AFP termasuk di antara yang cedera.

“Kami mengutuk pembunuhan Issam,” kata Pemimpin Redaksi Reuters Alessandra Galloni dalam sebuah pernyataan. “Kami meminta Israel untuk menjelaskan bagaimana hal ini bisa terjadi dan untuk menuntut mereka yang bertanggung jawab atas kematiannya dan cederanya Christina Assi dari AFP, rekan-rekan kami Thaier Al-Sudani dan Maher Nazeh, dan tiga wartawan lainnya. Issam adalah wartawan yang cemerlang dan bersemangat, yang disayangi banyak orang di Reuters.”

Reuters mengutip Letkol Richard Hecht, juru bicara internasional Pasukan Pertahanan Israel, yang mengatakan, “Kami tidak menargetkan wartawan.”

Direktur Berita Global AFP Phil Chetwynd meminta Israel agar memberi keterangan yang jelas mengenai apa yang terjadi. “Menargetkan sekelompok wartawan yang jelas diidentifikasi sebagai media sama-sama tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima sama sekali,” kata Chetwynd.

Human Rights Watch (HRW) melakukan investigasinya sendiri mengenai serangan itu dan pada Kamis mengatakan, temuan-temuannya “mengindikasikan bahwa para wartawan telah pindah dari tempat-tempat pertempuran yang sedang berlangsung, dapat diidentifikasi dengan jelas sebagai awak media, dan telah diam di tempat sedikitnya selama 75 menit sebelum mereka dihantam oleh dua serangan berturut-turut.”

HRW mengatakan tidak bukti mengenai keberadaan sasaran militer di dekat tempat para wartawan itu bekerja. Kelompok itu mengatakan serangan tersebut “tampaknya merupakan serangan disengaja terhadap warga sipil, yang merupakan kejahatan perang.”

Amnesty International juga meninjau serangan itu, dan menyimpulkan bahwa “kemungkinan besar itu adalah serangan langsung terhadap warga sipil yang harus diinvestigasi sebagai kejahatan perang.”

“Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan Issam Abdallah yang di luar hukum dan cederanya enam wartawan lainnya harus dituntut,” kata Wakil Direktur Regional Timur Tengah dan Afrika Utara Amnesty Internasional Aya Majzoub dalam sebuah pernyataan.

“Tidak ada wartawan yang boleh menjadi sasaran atau dibunuh semata-mata karena menjalankan tugas mereka. Israel tidak boleh dibiarkan membunuh dan menyerang wartawan dengan impunitas. Harus ada investigasi independen dan netral terhadap serangan maut ini.” VoA/dms

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.