Tata Krama Budi Pekerti -Beretika, Beretiket

Seide .id -Orang sekolahan dan dari latar keluarga berpendidikan, sedikit banyak ada sikap bertata krama, beretika berbudi pekertinya. Ada unggah-ungguhnya. Dan itu bagian dari pergaulan hidup, dengan siapa saja kita berhadapan.

Butir-butir apa yang hendaknya, yang seharusnya, yang sebijaknya, yang sebaik, dan sebenarnya, lebih dari hanya sebanyak butir-butir Pancasila. Intinya agar membuat orang lain merasa nyaman. Tidak ada standard baku, namun menjadi warisan kearifan masing-masing adat-istiadat, kearifan lokal. Buang angin di depan umum misalnya, buat orang Belanda masih lebih sopan dbanding bersendawa ketika makan bersama.

Semua aturan bergaul itu tidak tertulis namun diwariskan dalam petuah, dalam pendidikan rumah dan sekolah. Makin lengkap seseorang melakoni butir-butir etiket, makin disenangi, disukai, diterima dalam pergaulan.

Mereka yang berasal dari keluarga yang berpendidikan, yang menerima internalisasi nilai beretiket, kurang nyaman bila bertemu, bergaul dengan orang-orang yang seturut yang dianutnya, bukan sikap-pikir-laku yang beretiket.

Orang Jawa sangat menaruh perhatian pada unggah-ungguh melebihi lintas status sosial. Martabat seseorang bertumpu pada apakah melakoni tata krama, budi pekertinya, tak soal betapa kaya, berharta, berkuasa, atau siapapun status sosialnya. Menjadi tidak atau kurang berharga lagi, kalau sikap-pikir-lakunya tidak menjunjung tinggi bertatakrama.

Bertemu dengan orang kurang tahu aturan, bisa jadi orang tersebut memang tidak tahu apa yang dilakukannya itu benar, baik, dan bijak, karena memang tidak dibesarkan bangku sekolah atau dari didikan keluarga yang tahu adab.

Menjadi lain halnya apabila dilakukan oleh orang yang sudah seharusnya tahu aturan sosial dalam bergaul, bahkan bergaul global internasional. Apalagi kalau ia seorang guru besar, seorang dosen, seorang tokoh agama, tokoh panutan kepada mereka orang-orang selalu mengacu.

Tidak ada hukum atau ganjaran terhadap orang yang tidak tahu aturan, bukan karena khilaf, atau dilakukan sekadar berguyon. Itu pentingnya kita terus belajar, sekalipun merasa sudah melakoni hidup pergaulan yang pakemnya sudah menjadi praksis keseharian.

Untuk hal bertata krama ini, saya pribadi berjanji pada diri sendiri untuk tak putus terus belajar, sadar tentu ada saja yang terlewatkan, dan mungkin khilaf kalau ada saja yang luput saya lakukan. Itu pula mengapa saya bisa menerima sebagai alasan manusiawi, misal, apabila ada orang, teman, sahabat, yang bikin saya tidak nyaman sekali-kali.

Oleh karena dibesarkan dengan warisan sekolah dan didikan rumah, masih saja merasa terganggu oleh rasa tidak nyaman kalau menghadapi orang, atau pihak yang kurang tahu aturan.

Saya sadar bukan tak mungkin saya juga pernah bikin orang lain tidak merasa nyaman oleh sikap-pikir-rasa yang saya ungkapkan.

Seperti halnya orang yang toxic person, teman, tetangga, atasan, bawahan, pejabat, atau entah siapapun, suka heran kalau ada saja nama besar membuat kita tidak nyaman mendengar bicaranya, melihat sikapnya, dan merasakan emosinya di hadapan publik, atau dalam bergaul. Ini yang bisa melunturkan martabatnya sebagai seseorang, sebagai somebody.

Revolusi mental gagasan Pak Jokowi, saya pikir, terkait dengan praksis pergaulan sosial semacam ini juga, tak cukup terdidik dan membangun masyarakat pembelajar, masyarakat madani belaka. Untuk itu semua warga masyarakat harus terdidik, dan pendidikan tetap mengemban pendidikan budi pekerti bertata krama, beretika dan beretiket, bukan sekadar alih ilmu semata.

Tak cukup beretika semata. Banyak nama besar sikap-pikir-rasanya betul terbilang baik dan benar, namun rendah beretiketnya. Saya menerima WA dan surat dari nama-nama besar tapi caranya kok kurang bertata krama. Sudah dibantu tidak berterima kasih, misalnya. Tidak ada kehangatan laiknya orang bergaul, kurang sentuhan manusiawinya.

Itu sebab, mengapa mendidik anak antre buat masyarakat yang belum semuanya terididik, lebih sukar daripada mengajarkan matematika. Kebiasaan minta maaf, menyampaikan berterima kasih, dan mengucapkan tolong, itu awal pendidikan elementer menjadi orang terdidik.

Itu yang kemarin saya sampaikan dalam tulisan “Setiap Kita Ibarat Sebuah Kaset”, bahwa saya belum sepenuhnya menjadi orang yang lengkap baik, benar, bertata krama, beretika-beretiket, maka saya terus memposisikan diri sebagai murid, sampai kapan pun, sampai hayat masih dikandung badan.

Salam beretiket,
Handrawan Nadesul

Setiap Kita Ibarat Sebuah Kaset