Tindakan Bijak yang Tercermin Melalui Pepatah Jawa (Bagian 33)

Foto : Dok. Pribadi

Pengantar Singkat: Kata-kata mutiara dan nasihat bijak Jawa kuno dari para leluhur Jawa, adalah juga salah satu dari Falsafah hidup bangsa Indonesia yang begitu indah dan penuh dengan makna kehidupan yang mendalam, semoga dapat menginspirasi Anda dalam menjalani kehidupan Anda sebagai manusia yang sedang selalu berusaha menuju ke arah yang lebih baik.

106. AJA MENCLA-MENCLE

Pepatah Jawa ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya berbicara. Berbicara harus memiliki ketetapan, tidak boleh berubah-ubah.

“Aja mencla-mencle” secara harfiah artinya jangan suka mengubah-ubah ucapan.

Bahasa ibarat tiupan angin kencang yang meluncur cepat dan tidak dapat ditarik kembali.

“Lidah” dalam bahasa Jawa disebut “ilat’ dan jika dibalik hurufnya akan berbunyi “tali”. Artinya seseorang harus benar-benar menjaga ucapannya. Sebab, jika tidak, “tali” yang ada di dalam mulutnya akan bisa menjerat dan mencelakai dirinya sendiri.

Jangan mudah berucap karena lidah tak bertulang. Ucapan harus bisa dipegang kuat karena ucapan merupakan citra diri.

Tubuh manusia dihargai karena pakaian yang dikenakannya, tetapi diri manusia dihargai karena ucapannya.

Kata, memiliki kekuatan yang dahsyat. Bus yang melaju kencang bisa berhenti mendadak karena sang supir mendengar sepatah kata “stop!” dari calon penumpangnya.

Sepatah kata “perang!” yang diucapkan oleh seorang Raja bisa menggerakkan seluruh pasukan di dalam kerajaan itu untuk berperang melawan musuh.

Kendalikan diri dengan menjaga ketetapan ucapan yang baik sehari-hari untuk merealisasikannya.

107. AJA ONGGRONGAN

“Onggrongan”, dalam bahasa Jawa berarti mabuk pujian. Seseorang melakukan sesuatu kegiatan (biasanya dalam hal gotong royong atau kerja bakti, gugur gunung atau sambatan untuk membantu mendirikan rumah misalnya) dengan berlebih-lebihan hanya karena ingin mendapatkan pujian.

Semakin di “onggrong”, disanjung atau dipuji semakin giat dalam bekerja. Demikian pula dalam hal memberi sumbangan untuk kebutuhan sosial. Ia menyumbang paling banyak meskipun kehidupannya sendiri masih serba kekurangan.

Berderma atau menyumbang dalam porsi lebih itu memang bagus-bagus saja, tetapi kalau memiliki tujuan untuk mendapatkan pujian dari orang lain berarti telah melenceng dari maksim atau niat yang sebenarnya dalam memberi bantuan atau sumbangan.
Entah itu berupa tenaga atau materi, jika seseorang berbagi atau melakukan derma hanya karena ingin memeroleh pujian dari orang lain,, sesungguhnya orang tersebut telah memperoleh atau menuai ganjarannya, yaitu pujian orang yang diharapkan. Oleh sebab itu, orang Jawa selalu “mewanti-wanti” atau berpesan, jangan mencari pujian.

108. CEDHAK WATU ADOH RATU

Patah Jawa ini secara harfiah memiliki arti orang yang hidupnya di pedesaan jauh dari kerajaan, kotapraja sebagai pusat pemerintahan.

Watu berarti batu. Ratu berarti Raja. Batu banyak terdapat di daerah pegunungan dan Raja bertahta di pusat kerajaan.

Pepatah ini sama dengan ‘Cedhak Gunung,  Adoh Tumenggung”. Dekat gunung, lambang masyarakat desa sedangkan tumenggung adalah pejabat penting sebuah kerajaan di bawah Patih atau Perdana Menteri.

Pepatah ini juga mengandung sebuah pemakluman jika rakyat desa atau rakyat jelata yang jauh dari pusat pemerintahan apabila kurang memiliki sikap atau tata krama yang kental dimiliki oleh masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar Keraton atau sebuah kerajaan, harap dimaklumi.

Pepatah ini juga menunjukkan sikap rendah hati rakyat jelata atau rakyat kecil ketika berhadapan dengan orang-orang pemerintahan yang hidupnya di Kotapraja atau Ibu Kota suatu negara.

Ini adat budaya yang luhur. Jika tak dipelihara dengan baik akan bisa luntur. Orang Jawa menjunjung tinggi tata krama. Di mana mereka berada, di situ langit dijunjung.

/ Mangkujayan 4 Oktober 2022

Tindakan Bijak yang Tercermin Melalui Pepatah Jawa (Bagian 32)  .P.B.Wiratmoko

About Y.P.B. Wiratmoko

Lahir di Ngawi, 5 April 1962. Purna PNS ( Guru< Dalang wayang Kulit, Seniman, Penyair, Komponis, penulis serta penulis cerita rakyat, artikel dan buku. Telah menulis 200 judul buku lintas bidang, termasuk sastra dan filsafat. Sekarang tinggal di dusun kecil pinggir hutan jati, RT 021, RW 03, Dusun Jatirejo, Desa Patalan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur