Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Tewaskan 130 Penonton, Langsung Masuk Rekor Dunia

Stadion kanjuruhan - Rusuh01

Tewasnya 130 orang di stadion kota Malang Ini merupakan jumlah kematian terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia, sejauh ini .  Bahkan tragedi ini langsung berada di urutan kedua daftar kejadian paling mematikan dan menjadi bencana terbesar kedua dalam sejarah sepak bola global.

Seide.id –  Tragedi yang mematikan menghilangkan banyak warga terjadi di stadion sepakbola, Sabtu malam (1/10/2022). Di Stadion Kanjuruhan, Malang, usai laga Arema FC versus Persebaya Surabaya, kerusuhan terjadi yang mengakibatkan tewasnya 130 orang.

Bukan hanya 130 orang tewas, sebanyak 180 orang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit, akibat insiden mengerikan tersebut.

Tewasnya 130 orang di stadion kota Malang Ini merupakan jumlah kematian terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia, sejauh ini .  Bahkan tragedi ini langsung berada di urutan kedua daftar kejadian paling mematikan dan menjadi bencana terbesar kedua dalam sejarah sepak bola global.

Pada 1964, sebanyak 328 orang meninggal dunia di Stadion Estadio Nacional di Lima, Peru, dalam pertandingan antara Peru dengan Argentina – juga setelah polisi menembakkan gas air mata yang menyebabkan eksodus massal.

Di Indonesia, sebelum tragedi Kanjuruhan,  total korban tewas dalam sejarah sepak bola Indonesia mencapai 78 orang sejak 1995 hingga 2022, merujuk pada data Save Our Soccer (SOS).

Tak Menerima Kekalahan

Insiden di Stadion Kanjuruhan bermula dari kemarahan suporter tuan rumah yang tidak terima Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya. Suporter yang tak bisa menerima kekalahan berlarian ke lapangan, mencoba mengejar para pemain dan para official, namun mendapat halauan petugas kepolisian.

Kerusuhan tak terkenali menjadikan aparat melemparkan gas airmata. Fatal dampaknya. Ribuan penonton berlarian ke pintu keluar, berjejal jejal, dan saling menginjak. Penonton kehabisan nafas.

Korban dari Aremania yang meninggal di rumah sakit mayoritas nyawanya tak tertolong, karena sudah dalam kondisi memburuk setelah kerusuhan yang terjadi. Mereka mayoritas menjalani sesak napas dan terjadi penumpukan massa, sehingga terinjak-injak karena panik akibat tembakan gas air mata.

Penggunaan gas air mata oleh polisi dipertanyakan. Pihak kepolisian berdalih massa penonton tak terkendali dan bertindak anarkis.

Gas Airmata Dipersoalkan.

Penanganan kerusuhan dengan menembakan gas air mata oleh pihak kepolisian kini jadi sorotan. Sebab, dalam aturan FIFA perihal Keselamatan dan Keamanan Stadion, penggunaan gas air mata atau gas pengendali massa dilarang. Nampaknya merujuk pada bencana di Lima – Peru itu.

Larangan FIFA soal penggunaan gas air mata itu tertuang pada Bab III tentang Stewards, pasal 19 soal Steward di pinggir lapangan. “Dilarang membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendali massa,” tulis regulasi FIFA tersebut.

Namun dalam pelaksanaan di lapangan, aturan itu diabaikan. Mungkin juga kepolisian tidak tahu.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta berkata massa telah anarkis. “Mereka menyerang petugas, merusak mobil,” kata Nico, setelah Arema kalah dari Persebaya, sehingga polisi menembakkan gas air mata untuk “mengontrol situasi”.

Irjen Nico Afinta mengatakan para pendukung Arema yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

Polisi yang bertugas mengamankan pertandingan Arema vs Persebaya menembakkan gas air mata ke tribune penonton guna menenangkan suporter yang marah setelah Singo Edan dibekuk Bajul Ijo, 2-3.  “Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen,” kata Nico dikutip dari Antara.

Presiden Jokowi Minta PSSI Hentikan Liga

Atas tragedi yang terjadi di Malang, Presiden Ri Joko Widodo memerintahkan PSSI untuk menghentikan sementara Liga 1 sampai evaluasi dan perbaikan prosedur pengamanan dilakukan. Sebelumnya dia menyampaikan duka cita kepada keluarga korban  dan memerintahkan agar Polri dan PSSI mengusut hingga tuntas.

“Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini. Dan saya berharap ini tragedi terakhir sepakbola di tanah air. Jangan sampai ada lagi tragedi kemanusiaan seperti ini di masa yang akan datang.”

“Sporivitas rasa kemanusiaan dan rasa persaudaraan bangsa Indonesia harus terus kita jaga bersama,” kata Jokowi menambahkan.

Di hari yang sama, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali berjanji akan mengevaluasi kondisi keamanan dalam pertandingan sepakbola dan mempertimbangkan laga digelar tanpa penonton, seperti dilaporkan Reuters.

“Ini harus diinvestigasi, tak bisa dibiarkan, dan harus menjadi yang terakhir,” kata Menpora Amali kepada Kompas TV dalam program Breaking News.

“Ini sangat memprihatinkan kita semua. Kita turut berduka cita atas musibah ini, di tengah kita sedang mempersiapkan diri untuk melakukan kegiatan-kegiatan sepak bola yang bahkan untuk tingkat dunia,” kata dia.

Menurut Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH), ada dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan (excessive use force) melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian masa yang tidak sesuai prosedur ini menjadi penyebab banyaknya korban jiwa.

“Seluruh pihak yang berkepentingan harus melakukan upaya penyelidikan dan evaluasi yang menyeluruh terhadap pertandingan ini,” kata YLBHI dalam siaran persnya. – dms

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.