Ini Soal Sudut Pandang

Seide.id – Aku itu suka geli kalau dengar (atau membaca) pernyataan : ‘ Uang tidak bisa membeli kebahagiaan’ tetapi yang mengatakan itu, adalah orang yang bukan milyarder!

~ Tapi memang bener tuh mbak! Uang kan nggak bisa memberikan kebahagiaan.

Mas, sampeyan bisa tahu dari mana kalau uang nggak bisa memberikan kebahagiaan? Wong sampeyan belum mengalami jadi tajir…

Kalau duitnya sampeyan nggak bisa bikin bahagia…. Sini deh, uangnya kasihkan ke aku aja. Nggak baik lho mas, menyimpan hal-hal yang nggak membuat sampeyan bahagia…

~ Lha buktinya mbak, banyak orang kaya yang bunuh diri….

Mas, kalau penyebab bunuh diri adalah kekayaan, mustinya Elon Musk, Bill Gates, Warren Buffet dan Mark Zuckerberg sudah duluan bunuh diri sejak kapan tauk, wong mereka itu termasuk 10 orang terkaya sedunia…

~ Tapi mbak, saya pernah baca majalah Indonesia Tatler, ada anak konglomerat bilangnya begitu, “Uang nggak membuatku bahagia.”

Ya jelas lah mas, dia lahir sebagai anak konglomerat. Belum pernah mengalami kayak apa menderitanya dan stressnya, ketika miskin dan nggak punya uang. Mau makan aja susah, mau beli pembalut aja nabung dulu… Kalau gagal nabung, terpaksa pakai ganjalan handuk di selangkangan…. nggak enak lho itu, ngeganjel banget.

Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Demikian juga kemiskinan : tidak bisa membeli kebahagiaan.

Intinya ya, cuma ada 2 jenis manusia yang bisa berpendapat secara obyektif soal uang :

  1. Orang miskin yang sudah jadi kaya
  2. Orang kaya yang sedang bangkrut
    Karena mereka pernah ada di dua dunia itu, maka mereka lebih mampu membandingkan dengan pas.

~ Tapi mbak, duit kan nggak bisa dibawa mati….

Yaelah mas, semua hal yang ada di planet ini memang nggak ada yang bisa dibawa mati… Ilmu beladiri sampai jadi Senpai juga nggak akan menolong kita melawan malaikat maut. Ilmu memasak dan trading saham, apalagi! Konon, yang bisa dibawa mati adalah amal kebajikan. Lha kalau kita kaya, kan malah bisa melakukan amal lebih banyak lagi … ya gak..?

Lagipula, duit itu tuh, meskipun nggak bisa dibawa mati… tetapi bisa membantu kita menghidupi diri sendiri, ketika tua. Kita tidak perlu merongrong anak agar membiayai kita, sambil kitanya ngancem-ngancem ‘durhaka’ segala ke anak. Kita nggak mengambil jatah susu dan makanan bergizi yang seharusnya bisa disediakan oleh anak kita bagi cucu kita.

Coba kalau sampeyan jadi kakek yang mandiri secara finansial, bakal gagah lho..! Bisa ngejajanin cucu, ngajak jalan-jalan keliling pulau Jawa dan Indonesia… Ngajakin cucu sedekah ke panti asuhan, sekalian mendidik cucu untuk memiliki kepekaan sosial… Ikut ngasih uang saku ketika cucunya kuliah di luar kota atau luar negeri… Bisa nengokin cucu dan bawa oleh-oleh…

Itu semua, memangnya bisa terjadi tanpa uang…?

~ Ternyata, mbak Nana ini mata duitan ya…

Kalau aku sedang bekerja, tujuannya memang cari duit mas, bukan untuk cari ucapan terimakasih. Lha masnya sendiri gimana, mau nggak pekerjaannya dibayar dengan senyuman doang…? Dibayar pakai doa yang tulus, juga nggak mau kan…?? Jujur aja deh.

Sejak setahun lebih 9 bulan ini, aku bisa memberikan sebagian waktuku dan sebagian ilmuku secara gratis, justru karena aku punya passive income untuk menunjang hidupku, jadi tidak terbirit-birit amat mengejar setoran. Lha passive income itu, apa bukan duit namanya?

~ Tapi mbak, di agama juga dibilang lho, bahwa uang adalah sumber kejahatan…

Ealah, si masnya. Bawa-bawa agama tapi salah kutip…! Hahaha… yang dikatakan sebagai sumber kejahatan adalah cinta akan uang, mas! Bukan uangnya.

Lagipula, di mana-mana ya, justru keadaan tanpa uang lah yang bisa menyebabkan kejahatan. Perampok, pencopet, dan pencuri kan melakukannya karena nggak punya duit. Koruptor melakukannya karena merasa masih kurang duit. Atau karena cinta sama duit. Nah itu yang dimaksud oleh agama. Cinta akan uang, menjadi sumber kejahatan.

Bedain deh mas.
Menghargai uang, mensyukuri uang, dan fokus bekerja mencari uang secara halal, bukanlah kejahatan. Apalagi jika kita mampu mengendalikan uang kita : berapa persen untuk ditabung, berapa persen untuk investasi, berapa persen untuk masa tua, berapa persen untuk menghidupi diri dan keluarga, dan berapa persen untuk bersedekah….

Justru karena aku mampu mengendalikan uangku, maka aku tidak sinis sama duit.

Aku justru sinis pada manusia lemah yang jadi rusak (misalnya jadi sombong, mabuk-mabukan, pakai narkoba, serakah dan merasa tak pernah puas sampai harus menghalalkan segala cara) karena duit dan demi duit. Mereka itulah yang nggak kuat menyangga derajatnya sebagai manusia luhur.

Duit mah anteng-anteng saja di dompet atau di rekening…. tidak banyak tingkah. Mana bisa sih, duit bertingkah atau menyebabkan apapun? Kan duit itu benda mati…

Lagipula, memiliki keyakinan yang keliru soal duit, malah akan menjauhkan duit dari sampeyan lho. Lha wong sampeyan membenci duit, sampai ngatain duit itu adalah ‘tangan setan’….. nanti, bawah sadar sampeyan akan melakukan sabotase, setiap kali sampeyan hampiiir dapet duit, hampiiir diterima kerja, hampiiir ditraktir orang… bakal batal..! Karena bawah sadar sampeyan melindungi sampeyan dari ‘tangan setan’… Makanya cek deh, orang yang rejekinya seret terus. Mereka pasti punya belief yang keliru soal uang atau membenci orang kaya.

Jadi ya…. sampeyan itu salah jurusan, kalau mengkambinghitamkan duit…

Uang

Uang tidak mengubah dirimu. Karena uang hanya menjadi faktor penguat.

Kalau kamu brengsek, maka memiliki banyak uang hanya akan membuatmu semakin brengsek.

Kalau kamu adalah seorang yang murah hati, memiliki banyak uang hanya akan membuatmu semakin murah hati.

Uang adalah penguat. Dia tidak akan mengubahmu, melainkan hanya mengungkapkan siapa kamu sebenarnya.

Hasil survey

Survey penyebab bunuh diri ternyata :

-Menjadi bangkrut adalah penyebab ke 7,

-Pengangguran adalah penyebab ke 10,

-Kemiskinan adalah penyebab ke 11

Nggak ada tuh, kekayaan yang jadi penyebab bunuh diri.

Nana Padmosaputro

Orangtua Durhaka. Adakah?

Avatar photo

About Nana Padmosaputro

Penulis, Professional Life Coach, Konsultan Tarot, Co.Founder L.I.K.E Indonesia, Penyiar Radio RPK, 96,3 FM.