Waspadalah: Tidak Setiap Pengobatan Alternatif Masuk Akal Medis (1)

Seide id – Sudah lama saya merasa prihatin dengan pengobatan alternatif di negeri kita. Tapi saya tidak berdaya karena saya tidak punya otoritas, kekuasaan untuk melarang semakin menjamurnya iklan pengobatan alternatif. Termasuk di televisi.

Tidak tercatat, sudah berapa banyak korban, karena memang tidak ada yang mencatatnya, dan itu sebuah dark number. Beberapa yang saya ketahui, pengakuan kasus-kasus yang tidak menyembuh setelah memilih pengobatan alternatif, padahal sudah keluar banyak uang, sementara penyakit sudah telanjur parah.

Kasus kanker payudara, misalnya, ketika masih stadium awal, mestinya tidak sukar disembuhkan dengan kemampuan medis kalau saja pasien tidak keliru memilih alamat berobatnya.

Namun karena mampir-mampir dulu ke orang pinter, ke terapi alternatif, dengan ongkos yang tidak murah, setelah sekian tahun tidak kunjung menyembuh, baru menyerah pindah mencari dokter, pada ketika kankernya sudah bertambah parah, pihak dokter sudah angkat tangan. Tragis kan.

Saya sengaja menyimak beberapa stasiun TV yang menyiarkan program pengobatan alternatif, untuk mendengarkan sampai di mana logika medisnya. Dan semuanya tidak bisa diterima nalar medis. Tapi masyarakat kan tidak memahami mesin tubuh, hanya yang sekolah dokter yang bisa menilai kalau logika medis pengobatan alternatif itu tidak benar.

Misal, ada iklan sandal berduri yang mengklaim bisa menyembuhkan diabetik, Yang menjadi pemain iklan almarhum Frans Tumbuan, suami Rima Melati. Saya menilai penjelasannya tidak masuk nalar medis, tapi sandal itu laku keras. Belakangan kita tahu Frans mengidap kencing manis. Namun siapa yang memberi tahu kalau iklan itu tidak benar?

Saya mendengar sedikitnya ada 7 stasiun TV yang rutin menayangkan iklan pengobatan alternatif. Berapa ribu, ratusan ribu yang sudah menjadi korban kebohongan iklan tersebut, tidak ada yang mencatat. Dari setiap kali seminar yang sudah saya langsungkan, saya mendapat kesan, begitu juga dari surat-surat konsultasi yang saya terima, masyarakat cenderung masih meyakini kebenaran pengobatan alternatif.

Saya bilang tidak mudah untuk menemukan obat. Dunia kedokteran perlu waktu puluhan tahun untuk mendapatkan suatu obat, lewat proses uji ilmiah. Semua ada dasar ilmiahnya (evidence based). Bahwa sesuatu bahan berkhasiat atau cara, atau perasat, baru dapat diterima sebagai obat atau cara pengobatan, kalau sudah memenuhi dua syarat. Pertama terbukti kebenaran khasiatnya, dan kedua aman bagi tubuh.

Pengobatan alternatif hanya mengutamakan berkhasiatnya saja, tak mempertimbangkan apakah aman bagi tubuh. Dunia kedokteran tidak menerimanya sebagai obat atau cara pengobatan kalau tidak aman bagi tubuh, kendati benar berkhasiat. Itu bedanya. Apalagi kalau terbukti tidak berkhasiat.

Bukti berkhasiat juga berdasarkan pertimbangan ilmiah. Di pemahaman awam, hanya satu dua kasus sembuh oleh suatu herbal atau cara pengobatan sudah disimpulkan sebagai berkhasiat. Dunia kedokteran memerlukan pembuktian ilmiah. Bahwa sejumlah kasus dengan diagnosis yang sama diberikan suatu bahan berkhasiat yang sama, menyembuh semuanya. Ini significant test, benar terbukti secara ilmiah.

Tidak demikian halnya dengan terapi alternatif. Hanya beberapa kasus saja yang menyembuh, dan lebih banyak yang tidak sembuh, sudah disimpulkan benar sebagai obat atau cara penyembuhan.

Dari seratus pasien yang sama hanya sepuluh yang sembuh, dan 90 tidak sembuh, tidak boleh disimpulkan terapinya significan menyembuhkan. Dalam terapi alternatif yang sembuh sepuluh kasus yang akan bercerita dari mulut ke mulut ihwal kesembuhannya, tapi yang tidak sembuh biasanya belum tentu mau mengaku tidak sembuh.

Dunia medis kian banyak direcoki dengan peralatan berbau medis entah apa. Mulai dari gelang magnet, kasur magnet, kursi magnet dan banyak lagi cara, yang tidak jelas, seolah begitu mudah untuk menyelesaikan masalah medis.

Bagi kalangan dokter sendiri, belum tentu pernah diajarkan ihwal alat-alat tersebut, tapi bisa menggunakan nalar medisnya, menilai benar tidaknya suatu cara atau alat bekerja pada tubuh. Juga apakah sudah didukung mendapatkan sertifikat dari badan penilai yang berwenang ihwal izin penggunaannya. Dari Badan POM Amerika FDA, misalnya.

Nalar medisnya, kalau ada temuan obat atau cara yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit yang dunia kedokteran sendiri belum ada obat dan caranya, tentu temuan itu bisa mendapat Nobel. Buktinya kan tidak. Maka sikap kita, kalau dunia kedokteran sudah ada obat atau cara penyembuhan medis, kenapa harus mencari alternatif. Katanya karena berobat medis masih mahal, maka masyarakat beralih ke alternatif. Pertimbangan dengan alasan ini pun mestinya diluruskan, karena yang merugi masyarakat sendiri.

Selanjutnya…

(Dr Handrawan Nadesul)

Jangan Makan Makanan Asal Enak dan Mengenyangkan

handrawan nadesul

About Dr Handrawan Nadesul