Pabrik Tabloid

Seide.idButet Kartaredjasa mengungkapkan rasa kagumnya terhadap mas Wendo dengan ‘umpatan’ yg khas: “Uasuwok … wong iki panganane opooo?!”

Ketika itu Butet ngobrol di meja mas Wendo yang berantakan, penuh buku, berpindah-pindah dari satu meja ke meja lain untuk mengetik. Mas Wendo paling-paling cuma bilang: “Tak sambi, yoo..”

Maksudnya sambil ngobrol, dia tetap akan menulis beberapa cerita sekaligus. Setiap mesin ketik, mas Wendo menulis satu cerita. itu pun masih kadang ‘diinterupsi’ oleh mbak Sri untuk meminta tanda tangan (ketika dia ‘menyandang’ jabatan formal: direktur divisi majalah). “Utek dan fokus kok bisa dipecah sedemikian rupa?!”…

“Dipecah sedemikian rupa” itulah yang juga mengherankan kami semua. Saat itu, tak cuma ‘utek, konsentrasi dan fokus’ saja yang dipecah, tapi juga fisik.

Secara fisik, mas Wendo itu mobilitasnya tinggi. Dia adalah direktur divisi majalah. Jabatan itu ‘mengharuskan’ dia berada di mana-mana, baik secara harafiah, atau pun secara kiasan. Dia harus bersikap netral. Harus terlibat dan memikirkan semua majalah. Paling tidak hadir pada setiap rapat di beberapa majalah yang mulai banyak bermunculan di divisi yang kerap kami sebut ‘kapal induk’ majalah.

Maka, kami maklum jika mas Wendo datang agak siang atau datang tapi tak setiap hari ke Senayan, kantor kami.

Persoalan makan, menjadi hal yang krusial di tempat baru dan sepi ini. Bagi teman-teman yang tak menginap, sarapan tentu saja bisa di rumah masing-masing atau di jalan menuju ke Senayan. Tapi bagi yang menginap. Ini perlu tengak-tenguk, mengendus-endus dan ‘pengenalan medan’.

Aku jika sarapan, sudah punya langganan. Tadinya ada 2 pedagang yang kerap lewat di depan kantor. Gerobak gado-gado dan bubur kacang ijo. Tapi belakangan, karena kami lebih sering sarapan dengan gado-gado, maka pedagang bubur kacang ijo, entah ngambek karena kami jarang memanggil atau memang sdh habis di jalan menuju ke kantor kami. Pedagang gado-gado lontong, akhirnya mangkal di sebuah pertigaan, tak jauh dari kantor. Lengkap dengan tenda dan beberapa kursi, karena beberapa kantor yang menyewa asrama atlet disekitar sdh menjadi pelanggan setianya.

Suatu siang, mas Wendo mengajak kami makan di tempat yang biasa kami datangi.

“Kalok siang, ada beberapa sih mas. Yang susah makan itu kalok malam” kataku.
“Gw mau makan siang,…kalo malam itu urusan kalian. Siapa suruh pada nginep,…hahaha!”
“Ada yang deket tapi agak mahal, mas”
“Heeh,…selagi ada gw,…mana ada istilah mahal?!”
“Asyiiik”.

Maka kami pun (aku dan beberapa teman) makan siang di tempat yang kami sebut mahal untuk ukuran kantong kami. Yang aku maksud mahal itu jika kami makan siang dengan sop buntut yang memang asoy, nyuuss dan bikin keringetan itu. Jika kantong kami lagi pas-pasan, yaah…kami akan memilih menu lain yang terjangkau (maksudku terjangkau oleh kantong, bukan perut).

Kesibukan mengerjakan dummy yang terus kami cari bentuknya supaya disetujui oleh ‘kantor pusat’ atau ‘kapal induk’ membuat kami kerap begadang. Kami semua diwajibkan untuk ‘melek televisi’ artinya kami harus selalu up-date dengan acara televisi. Maka, kami harus siap, tak cuma reportase tentang acara, tapi jika perlu menjadi pengamat yang bisa beropini tentang acara-acara televisi.

Kami juga boleh berlangganan film-film dari video (nhaa, ini yang asyik, karena dibayari kantor). Untuk itu, kami berlangganan. Ada seseorang yang menyewakan video dengan cara ‘menjemput bola’.
‘Pengusaha’ persewaan video itu kelak bahkan menyewakan video-videonya tak cuma keoada kami, tapi kepada hampir semua kantor di divisi majalah. Bahkan usahanya melebar (atau meluas, haha) menjadi ‘palugada’. “Apa yang lu pesen gua usaha’in ada”…luar biasa. Sang ‘pengusaha’ nampaknya terus mengikuti perkembangan zaman dan terus menjalin pertemanan denganku… sampai hari ini, setelah sempat ‘menghilang’ beberapa waktu (beberapa hari lalu kami ngobrol lewat media sosial).

Suatu malam, kami menonton video film terbaru dan live musik menarik yang baru dipinjamkan seorang teman yang baru datang dari luar negri. Live musik itu dari band idola kami, dan konon tak mungkin berharap band itu main di sini.

Setelah menonton hingga menjelang pagi, aku dan Gun langsung menggeletak begitu saja. Gun di karpet di ruang tamu, aku di sofa. Tak lama kemudian, terdengar suara… tak-tuk-tak-tuk, suara spatu kuda… eh sol sepatu, seperti orang mondar-mandir. Lalu disusul suara ketukan di pintu. Lalu, kembali suara tak-tuk-tak-tuk sol sepatu. Kami sayup-sayup mendengar. Tapi terlalu ngantuk. Lalu sepi. Mungkin ‘si pembuat’ suara pergi atau tengak-tenguk menunggu di teras

Setelah diintip:…“Pssst,…itu Nana, kayaknya…lenguh Gun. Hadooh,…’tu anak pagi banget siiih datengyeee…” Ketukan berhenti, kami melanjutkan tidur. Ketika terbangun,…Nana terheran-heran.
“Eee,…baru pada ba…bangun yaa,…ma’af”

Gun masih sempat bergurau, “Bukaan.., habis berenaaang.. .katanya sambil mengucek-ngucek mata. Nana tersenyum. Anak itu memang masih baru kami terima bekerja, tentu saja datangnya pagi-pagi sekali. Nana masuk, membuka pintu lebar-lebar, membuka korden. Yak,…kantor kami jendelanya masih berkorden. Kami beringsut ke kantor yang sekaligus studio foto untuk mandi.

Menjelang siang, sekretariat kedatangan seorang penjual koran. Tubuhnya mungil, tanpangnya lucu dan bersahabat. Pakaiannya pun lucu. Maksudku, kaus polo bergaris-garis, celana kaki dan sepatu yang dikenakannya nampak kebesaran. Ternyata…orangya yang kekecilan. Topinya seperti ‘topi pemancing’ yang banyak kantongnya itu. Dia menawarkan hampir semua koran dan majalah yang tebit hari itu. Ada beberapa terbitan dari grup kami dan terbitan ‘para pesaing’ haha. Pas, pagi menjelang siang hari itu, mas Wendo datang. Begitu melihat mas Wendo, si penjual koran spontan tertawa-tawa dan menunjuk-nunjuk mas Wendo seperti teringat sesuatu. “Kayaknyaaa,…saya sering melihat bapak daah”
“Ooh iyaaa,…saya ‘kan memang terkenal ..Hahaha…”
“Iya…sering melihat,…ah siapa yaak?”
“Siapa hayooo? Jualan apa kamu? Ooh, koraaan …majalah. Yang ini.. kami sdh punya ..yang ini jugaaa.., naah, yang ini ..ini… sama ini boleh.. Waah, bisa jadi langganan nih!”
Mas Wendo lalu memilah-milah majalah yang mau dibeli.
“Nanti bayarannya minta sama mbak itu ya” mas Wendo menunjuk mbak Ari.

Ketika sedang memilah dan memilih itu, rupanya sang penjual koran terus mengamati dan mengingat-ingat. Lalu tiba-tiba:
”Ooh,…ya, ya…saya ingat…pak Ars..Arswen…dooo. Iya,…betul ‘kaan?”
“Hahaha.. betuuul, ternyata ngetop juga, “celetukku.
“Huajinguuk-iii,…ya pasti terkenallah
iya ‘kaaan,” kata mas Wendo mengajak bicara sang penjual koran. Seperti teringat sesuatu juga. Mas Wendo berkata begitu saja:
“Tampangmu juga kayak Unyil!. Boleh saya panggil Unyil?”
“Hehe, ..boleh aja pak, boleh, boleh”.

Setelah menerima pembayaran majalah, si Unyil (kemudian si penjual koran dan majalah ‘resmi’ dipanggil Unyil bahkan di divisi majalah, dan tak mengetahui nama sebenarnya) rupanya penasaran dengan aktivitas orang-orang di kantor kami. Dia bertanya ini itu kepada sekretariat. Lalu begitu saja dia menyimpulkan, bahwa kantor kami ternyata adalah ‘pabrik koran’. Tepatnya ‘pabrik tabloid.’

Lalu si Unyil pun pergi dengan wajah sumringah karena mendapat pelanggan baru. Dan berjanji akan datang lagi…

(Aries Tanjung)

Gerundelan Pagi, “Televisi”