Seide.id – Varian Omicron yang sangat mudah menular pertama kali diidentifikasi pada akhir tahun lalu dan telah menyebar ke seluruh dunia sehingga memicu rekor kasus tertinggi di Eropa dan global.
Pejabat WHO World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia) mengatakan bahwa meskipun rata-rata tidak terlalu parah, akibat terkena varian itu masih bisa menyebabkan rawat inap dan kematian.
Pada Selasa minggu lalu, pimpinan WHO memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 “jauh dari berakhir”. Ia menambahkan bahwa varian-varian baru mungkin akan terus muncul setelah Omicron.
“Pandemi ini belum berakhir dan dengan pertumbuhan Omicron yang luar biasa secara global, varian baru kemungkinan akan muncul. Itulah sebabnya pelacakan dan penilaian tetap penting,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, dalam sebuah konferensi pers.
“Berbicara murni sebagai virus ringan atau kurang parah memberi kesan bahwa ini akan kurang parah dampaknya pada sistem kesehatan. Itu tidak terjadi jika virus dapat menyebar secara tidak terkendali ke seluruh masyarakat dan itulah mengapa kami menyarankan terus mematuhi langkah-langkah,” kata Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO.
Maria Van Kerkhove, Pemimpin Teknis Covid-19 WHO, mengatakan bahwa virus itu “beredar pada tingkat yang sangat intens di seluruh dunia” dan mendesak negara-negara untuk tidak mengabaikan langkah-langkah kesehatan masyarakat, antara lain dengan menjaga jarak dan menggunakan masker.
“Ini tidak akan menjadi varian terakhir yang menjadi perhatian,” ujar ia.
Varian tersebut saat ini memiliki tingkat kekebalan tertinggi, menyebabkan lebih banyak infeksi pada orang-orang yang divaksinasi, kata para pejabat.
“Terhadap Omicron, banyak dari vaksin telah menunjukkan pengurangan kemanjuran terhadap infeksi dan karena itulah kami melihat banyak terobosan infeksi (kasus pada individu yang divaksinasi), tetapi ini sebagian besar tidak mengakibatkan penyakit parah, jadi itu bagus,” ucap Soumya Swaminathan, Kepala Ilmuwan WHO.
Ia menambahkan bahwa ada sedikit penurunan perlindungan terhadap penyakit parah juga dari waktu ke waktu.
Ia mengatakan pula bahwa WHO masih mencari cara bagaimana negara-negara harus berpikir untuk memberikan suntikan booster kepada para penduduk mereka.
Ia menambahkan bahwa fokusnya adalah memvaksinasi dan memberikan dosis primer kepada mereka yang belum divaksinasi.






