Seide.id – Ada gurauan bahwa Inggris adalah “kantor pusat” musik modern dunia, terutama Rock dan Pop. Negara-negara Skandinavia, Eropa timur dan Nordik -gudangnya musik klasik- sudah terlanjur susah mengejar kedigdayaan sang “kantor pusat”.
Nampaknya negara-negara itu sudah pasrah dan cukup puas menjadi semacam tonggak musik klasik saja. Belanda dan Jerman bolehlah (bolehkah?) kita sebut sebagai “kantor-kantor cabang” musik pop dunia selain Amerika dan Indonesia, tentunya. Amerika memang untuk musik country dan balada hingga saat ini…’seng ada lawan’.
Jika blanyongan tentang Winter bersaudara, paling sedikit aku melakukan 3 kesalahan. Sebetulnya bukan sepenuhnya kesalahanku ( ngeles).
Begini. Pertama, Winter dalam benakku adalah nama orang Belanda. Salah-satu yang membuatku ‘menuduh’ bahwa Winter itu nama Belanda, karena salah-satu legenda sepakbola Belanda yang bermain di Ajax, tim Nasional dan klub-klub besar Eropa dan sekarang menjadi asisten pelatih timnas Yunani adalah Aaron Winter. Ini ngeles lagi, karena Winter adalah atlet, bukan musisi.
Ke-dua, Johny dan Edgar dulu aku kira kembar. Ternyata bukan. Umur mereka terpaut 2-3 tahun. Johny lebih tua.
Ke-tiga. Nah, ini merujuk kepada kesalahan petama. Sebagai musisi, banyak musisi Belanda berkarier bagus di dunia musik dan sukses di kancah musik dunia terutama rock, pop dan blues.
Sebut saja: Cuby and the Blizard, Harry Muskee, Alex dan Eddy Van Halen, Jan Ackerman, Golden Earing, Kayak, Leon Haines Band, Shocking Blue, The Cats, Heintje, dan… Daniel Sahuleka (yang tak habis-habisnya membuat kita ‘numpang bangga’ karena berdarah separuh Indonesia, seperti juga Alex dan Eddy Van Halen).
Johny dan Edgar adalah dua orang musisi multi istrumentalis dahsyat. Ayahnya bernama John Winter, ibunya bernama Edwina (nah, nama Belanda bukan?).
Johny bisa memainkan berbagai alat musik dengan sama baik. Tapi akhirnya jatuh cinta kepada gitar. Edgar pun demikian. Dia bermain gitar, piano dan keyboard sama baik dan mudahnya seperti dia menyanyi. Edgar di setiap konser kerap terlihat memainkan keyboard, piano dan menyanyi.
Sosok Edgar dan Johny mudah terlihat, karena mereka cenderung kerempeng, tinggi menjulang dengan rambut pirang terang lurus terurai berkibar-kibar dan… albino.
Di antara sesama musisi kulit putih pun, mereka tetap terlihat kontras dan jelas, apalagi di antara musisi berkulit hitam. Tapi untuk mengetahui seluk-beluk tentang albino ini, sebaiknya dunsanak googling saja..
Suatu ketika Edgar bercerita kepada wartawan. “Sungguh tak mudah, tumbuh dengan sosok yang berbeda dibandingkan dengan teman-teman kecil lain di lingkungan kami. Kami tumbuh menjadi anak yg cenderung kerempeng, tinggi dan… albino. Ada yang menyemangati, tapi tak sedikit yang membully. Sisi positifnya, kami terpacu untuk memiliki kemampuan yang jauh lebih baik daripada anak-anak lain seusia kami. Setiap bermain gitar dengan orang-orang dewasa, jika Johny atau aku datang sendiri, mereka selalu bertanya: “Mana saudaramu?”.
Dalam usia belasan tahun, dua musisi kelahiran Texas (gudangnya Sothern Rock?) yang mengidolakan dan dilatih Muddy Waters ini sudah kerap melakukan jam-session dengan para musisi blues dan rock dewasa. Dalam usia awal 20an, bakat mereka tak terbendung lagi. Mereka bahkan menjadi rebutan perusahaan-perusahaan rekaman ternama.
Edgar, menjadi musisi multi istrumentalis yang sangat disegani karena dia menyanyi sama baiknya dengan bermain piano, gitar dan keyboard. Johny yang meninggal dalam usia 70 tahun, dinobatkan sebagai salah-satu dari 100 pemain gitar terbaik di dunia sepanjang masa.
Karya-karya blues mereka unik. Para pengamat dan kritisi musik agak kesulitan mencari-cari istilah dalam ungkapan singkat untuk menggambarkan dua musisi albino hebat ini. Pada umumnya musik blues, adalah musik yang ngelangut, meratap-ratap dengan syair-syair merintih-rintih diselingi dengan jeritan gitar menyayat-nyayat.
“Mendengarkan dan (apalagi) jika kita hadir di konser-konser baik Johny maupun Edgar, adalah…energi! Energi mereka yang melimpah-ruah seperti tumpah laksana wabah. Menularkan aura positif kepada para penonton di sekitarnya.
Aku setuju belaka dengan kekaguman pengamat dan kritisi musik itu. “Tobaco Road”, “Johny be Goode”, “Free Ride”, “Frankenstein”, “Rock’n Roll Hoochiekoo”, “Hangin’ Arround”, adalah energi.
Bahkan dalam lagu “Dying to live” yang iramanya tenang, tapi syairnya cerdas dan menggugat itu, juga “Autumn.. seperti menyimpan bara yang siap meledak…
…I wonder if they laugh/ When I am dead…(Dying to live – Edgar Winter). Tegar, sinis, tajam!…
(Aries Tanjung)






