Wisata Arung Jeram (3) : ‘Dari Citarik untuk Dunia’

Citarum Rally - Dengan SOP yang benar arung jeram merupakan wisata menyenangkan - Foto dok Caldera Rafting

Asosiasi IWWO berharap bisa saling sinergi dan melengkapi. Kami fokus ke bidang pelaku wisatanya,” ucap Ronny Nata. Antara lain menciptakan prosedur standar operasional (SOP) yang memenuhi aspek safety, kenyamanan. fun’s, di tiap destinasi (sungai); serta meyakinkan adanya payung hukum / perlindungan hukum terhadap pelaku usaha.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Seide.id – Tak bisa disangkal bahwa minat masyarakat pariwisata, baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisnu (wisatawan Nusantara) untuk bisa berarung jeram di Indonesia, dan kehadiran operator yang layak untuk memfasilitasinya, merupakan nilai tambah tersendiri (di beberapa daerah malah jadi faktor utama) bagi pertumbuhan kepariwisataan sekaligus perekonomian Indonesia.

Namun kita tak boleh menutup mata bahwa ‘kue wisata’ arung jeram Indonesia kini jadi kurang diminati pembeli (baca: wisatawan). Sementara seorang sahabat operator di Sungai Kliyan di Sabah, Malaysia berkhabar bisnis jasa wisata arung jeram yang dikelolanya di sungai itu, tetap fullybook tiap Sabtu dan Ahad, dinikmati turis negeri jiran, bahkan yang terbang dari Jakarta – Kuala Lumpur – Kinabalu.

Kondisi kurang menguntungkan yang dialami sebagian dunia usaha wisata arung jeram Indonesia ini, bukan cuma tersebab efek 2 tahun berlangsungnya pandemi Covid-19 yang menjadikan banyak aktivitas (wisata) berhenti, tapi juga tersebab hal lain yang berlangsung jauh sebelum pandemi, dan faktor penyebab keterpurukan itu terjadi lebih karena laku kalangan ‘pengusaha’ wisata arung jeram sendiri.

Ada anggapan bisnis wisata arung jeram itu sesuatu yang mudah dilakukan. Asal punya modal beli (atau sewa) perahu karet dan perlengkapannya, asal bisa menjarik calon pembeli paket sebanyak-banyaknya, dengan iming-iming harga paket jauh lebih murah dari yang lain, asal bisa menyumbang PAD ke kas daerah, tanpa  berfikir kelayakan (kualitas pedayung dan faktor keamanan) pelaksanaan arung jeram.

Tahu ‘kah Anda, berapa banyak kecelakaan di ajang wisata arung jeram Indonesia selama ini? Berapa banyak sudah jiwa wisatawan melayang di sungai saat arung jeram? Kenapa terjadi? Apa yang kurang dan wajib diperbaiki dari pelaksanaannya? Tak ada data valid yang bisa dikutip pers. Banyak kecelakaan wisata arung jeram justru seperti disembunyikan pihak-pihak terkait. Tak ada evaluasi pihak berwenang.

Keprihatinan ini, dan sebagai upaya mencari jalan ke arah pengelolaan usaha yang lebih kondusif, para legenda arung jeram Indonesia ngumpul bareng, rembugan di hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2022, para legenda yang ngumpul itu sepakat memilih Lody Korua menjadi Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Wisata Arung Jeram Indonesia atau Asosiasi IWWO (Indonesia White Water Operator).

Lody adalah legenda pencinta alam Indonesia tiga-matra (darat, air dan udara), sekaligus seorang dari pendiri FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia). Legenda lain yang terpilih mengurus Asosiasi IWWO adalah Iwan Kurniawan (Ketua Pengcab FAJI Kab Sukabumi serta Wakil Ketua II FAJI Jabar) sebagai sekretaris, dan bendahara Vryedta Ilfia atau Iyel dari Kelompok Caldera Rafting.

Pada posisi ketua-ketua bidang terpilih antara lain I Made Brown, Buce Surapaty dan Yusuf Firmansyah (BaDikLat & Sertivikasi), Tonny Dumalang (LitBang), Irawan dan Boyke Acal (Konservasi & CSR), serta bidang Kemitraan yang ditempati Wibisono (Lembaga/Instansi), Ronny Nata (Perusahaan) serta Heryus Saputro Samhudi untuk kemitraan media dan publikasi.

Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menjadi modal utama berlangsungnya aktivitas/jasa sisata arung jeram, yang kelestarian dan kesinambungannya harus dijaga. Heryus Saputro, penulis (paling kanan), di tengah Arung Jeram . – foto Lody Korua.

Brown, Iyel, Tonny, Ronny dan legenda lainnya berharap Asosiasi IWWO masih punya kesempatan memperbaiki industri wisata arung jeram di Indonesia, yang (faktanya) belakangan ini sangat terpuruk. Sekali lagi, bukan cuma karena 2 tahun terdampak pandemi Covid-19, tapi juga karena ‘perang harga’, yang berimbas pada makin banyaknya korban meninggal saat arung jeram.

Bagi Asosiasi IWWO, penting sekali kita back to basic bahwa aktivitas wisata arung jeram itu menyangkut 4 (empat) kepentingan dasar, yakni lingkungan (DAS sungai) yang harus dipertahankan dan dikebangkan kelestariannya, usaha (operator) yang harus solid berkembang dan berguna bagi masyarakat luas, jaminan keselamatan dan kenyamanan wisatawan, serta pemerintah sebagai regulator.

“Semua, satu sama lain harus saling mendukung,” ungkap Tonny. Pengusaha misalnya, selain punya hak mendapat keuntungan dari usahanya, juga berkewaiban mengeluarkan modal untuk membiayai usahanya; memberdayakan masyarakat sekitar dan membina tenaga kerja menjadi professional; serta mengurus segala perijinan sesuai undang-undang yang berlaku di wilayah hukum Indonesia.

Masyarakat punya hak dapat lapangan pekerjaan berdasar seleksi umum terbuka, sesuai bidang yang dibutuhkan perusahaan dalam melaksanakan usahanya. Namun masyarakat dan pekerja yang terpilih juga dituntut untuk jadi profesional, untuk selalu menjaga kepuasan dan keselamatan konsumen saat arung jeram. “Jika ada kecelakaan saat arung wisata, harus diteliti lagi bagaimana SOP operator tersebut.”

Pemerintah dimana aktivitas wisata arung jeram berlangsung, juga punya hak mendapatkan PAD sesuai aturan hukum. Namun Pemerintah tak cuma kewajiban mengeluarkan izin usaha, tapi juga wajib melakukan pembinaan pada industri arung jeram yang ada, agar perusahaan atau operator-operator tberkembang dan sejahteram dan tak menutup mata bila terjadi kecelakaan di sungai

Tak kalah penting untuk dikedepankan adalah alam (DAS/Daerah Aliran Sungai) yang menjadi modal utama berlangsungnya aktivitas/jasa sisata arung jeram, yang kelestarian dan kesinambungannya harus dijaga. Ini hak alam, yang mutlak dan wajib diperhatikan oleh segenap stake-holder, demi kesinambungan usaha dan kemajuan lingkungan sekitar.

Berkait dengan FAJI yang sudah jauh alebih dulu hadir, Asosiasi IWWO berharap bisa saling sinergi dan melengkapi. Kami fokus ke bidang pelaku wisatanya,” ucap Ronny Nata. Antara lain menciptakan prosedur standar operasional (SOP) yang memenuhi aspek safety, kenyamanan. fun’s, di tiap destinasi (sungai); serta meyakinkan adanya payung hukum / perlindungan hukum terhadap pelaku usaha.

“Harus juga diperlakukan regulasi yang jelas pada stake-holder (pemda, Pengusaha, Wisatawan, Masyarakat Sekitar, Alam/sustainable), sinergitas antar-operator/jaringan bisnis, menghindari persaingan tidak sehat. Akan juga ada pelatihan crew yang andal dan sertivikasi, pendampingan/sharing season operasional dan jaringan marketing bagi yang perlu,” timpal Iyel.

Dengan penerapan prinsip di atas, Lody bisa berharap wisatawan dapat berarung jeram dengan aman, dan industri wisata arung jeram Indonesia bisa berkembang dengan sehat, yang pada akhirnya membawa kebaikan untuk kita semua. “Prioritaskan keamanan. Rezeki nggak akan tertukar,” pesan Lody dari Citarik untuk dunia dan para sahabat, operator wisata arung jeram se-Indonesia. ** (HABIS)

29/11/2022 09:37 WIB.

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.