Wisuda (bukan) Sarjana = Panen Capaian di antara Tamparan Harapan dan Kenyataan

Wisuda (bukan) Sarjana = Panen Capaian di antara Tamparan Harapan dan Kenyataan

Lembaga hanya sarana dan media tapi berproses dan belajar sesungguhnya adalah jiwa pendidikan itu sendiri.

“Aku mo nangis, sist. Anakku udah wisuda aja, kemarin masih guling-guling di lantai, nggak mau masuk kelas TK.”

Sebuah caption di story IG

“Aku berat banget ini bayar urunan hadiah yang dikasi ke guru-guru saat wisuda nanti, satu guru aja tiga ratus ribu. Nggak cuma satu lagi. Belum biaya acaranya. Duh, anak SD aja kayak gini sekarang!”

Seorang teman curhat di WhatsApp.

Ada temuan kasus lain jugakah? Fenomena yang sungguh lebih trending daripada rebutan tiket ColdPlay atau prediksi Messi jadi bertanding di Indonesia.

Si bungsu saya juga baru “wisuda”. Malah bukan sekadar bertoga, tapi mampu mempresentasikan capaian proses belajarnya, dalam semester ini dan tentu selama di kelas tiga.

Bolehlah saya menulis caption untuknya.

“Anakku, yang berat diminta menulis daripada mengetik, selamat sudah mampu menyajikan pelatihan membuat zine. Majalah alternatif di mana banyak kreasi tanganmu, mulai menulis, menggambar dan doodling. Senang di usiamu yang belum genap sepuluh, sudah menjadi pemateri pelatihan dengan gayamu sendiri.”

Lalu kolom komen bertaburan ikut terharu, ih, ikut bangga ya, Mom.

Haha, tentu itu halusinasi saya saja. Karena saya tak membuatnya. Malah di grup WhatsApp orang tua, kami saling memuji dengan capaian anak-anak yang berbeda-beda, beberapa melampaui ekspektasi, beberapa cukup berusaha, tetapi semua tetap berharga di mata kami, para ibu dan (tentu) ayah.

Bagaimana tidak? Ada anak yang ‘menguji kesabarannya’ sendiri menjalani proses pembuatan film animasi. Ada anak yang belum genap sepuluh tahun, tetapi tekun memelihara dan merawat burung-burung puyuh. Ada juga yang memberanikan diri membuat pelatihan kreasi clay dari tepung, dan bedak dingin dari daun nilam. Beberapa anak yang lain tak kalah sabar mengolah makanan dari bahan mentah, memelihara tanaman dari bibitnya sampai siap berbibit baru, maupun berkreasi dari barang bekas.

Semua anak itu baru di kisaran 9-10 tahun. Yang biasa bila di sekolah umum baru belajar bagaimana pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, ajakan menyayangi hewan dan tumbuhan, mengenal benda di sekitarku dan perubahannya, serta bagaimana hak dan kewajiban. (Program tematik kelas 3, sesuai kurikulum 2013)

Anak-anak sekelas si bungsu di Salam Yogya ini malah tak hanya belajar teorinya, tetapi sudah mempraktikkannya. Bukankah hal tersebut ‘sungguh’ melampaui kebahagiaan wisuda?

Saya tak mau membandingkan lebih lanjut. Toh, konsep pendidikan yang diusung berbeda. Namun, tulisan ini selanjutnya akan mengulas apa dan bagaimana ekspektasi orang tua terhadap anaknya.

Saya ringkas dua harapan orang tua kepada anaknya yang paling terkait dengan ulasan saya sebelumnya, dari sebuah laman pengasuhan yang ditulis Libby Simon, pensiunan pekerja sosial dan pendamping orang tua di sebuah sekolah.

Sebenarnya ada empat harapan, tetapi dua harapan yang lain adalah ketika anak menuju proses dewasa.

Berikut ringkasan saya.

Harapan pertama

Anak-anakku akan mencintaiku sebesar aku mencintai mereka.

Yakin? Pernah diucapkan? Atau kita begitu menunggu si sulung yang sudah menolak untuk dipeluk lagi, menyatakan, “Bu, aku nggak mau kehilangan kamu.”

Ketika kecil, anak-anak begitu mudah menyampaikan dan mengekspresikan cinta kepada orang tuanya. Malah beberapa tak bisa lepas, ‘menempel’ terus pada ibunya.

Namun, seiring waktu mereka bertumbuh, ada masa mereka membenci, ada saat mereka tak sepaham, ada fase mereka  membangkang dan bertengkar setiap hari.

Ahli pengasuhan menyatakan tak berarti anak-anak itu sudah berhenti mencintai atau menyayangi orang tuanya.

Bila kita bisa melepaskan situasi itu untuk tak terbawa perasaan, hal tersebut justru menunjukkan cinta kita mulai tak bersyarat kepada anak-anak.

Kita tak berharap apa yang telah kita lakukan, korbankan itu terbalas. Dengan kadar dan level yang sama.

Mudahkah?

Harapan kedua

Anak-anak akan selalu berupaya yang terbaik.

Tak usah terlalu tinggi berharap, Bu. Nanti kecewa sekali.

Kita ingin mereka rajin, patuh, berupaya seratus bahkan seribu persen di tiap proses belajarnya.

Ketika mereka tidak demikian, kita jengkel dan segera berkisah berulang-ulang kepadanya, tentang hanya orang yang selalu bekerja keras yang akan berhasil. Lalu, ketika tak didengarkan, kita pun marah karena kita berharap penuh dan merasa sudah benar menginginkan yang terbaik untuk anak.

Masalahnya sudahkah harapan kita dan anak benar-benar sama? Mungkin, bagi mereka bisa bermain bola bersama teman-teman dengan asik lebih penting dari menjuarai kejuaraan sepakbola seperti yang orang tua inginkan.

Coba, dengarkan dulu, definisi tentang usaha terbaik yang ada di benak mereka, dan coba diskusikan dengan maksud usaha terbaik versi kita.

Temukan bahwa mungkin kebahagiaan anak-anak itu begitu sederhana, dibanding kompleksitas konsep kita.

Lalu, apa relasinya dengan bahasan awal saya tentang wisuda-wisuda dan proses belajar yang dilalui si bungsu dan teman-temannya?

Begini.

Pengertian capaian proses anak belajar kedua hal itu, dimaknai dan dirayakan berbeda.

Mungkin (ini asumsi pribadi saya), bagi sebagian orang; mengenakan pakaian wisuda, selebrasi di gedung dengan tampilan riasan cantik dan ganteng adalah kebahagiaan sendiri, meski pada kenyataan keseharian keluarga tersebut, mereka pusing maksimal dengan tuntutan akademis dan kegiatan pembelajaran bertarget yang dialami anaknya.

Di pihak lain, selebrasi capaian belajar adalah ketika anak memaknai proses dengan lega bisa menghasilkan, mewujudkan, memproduksi lagi temuannya, dengan versi mereka sendiri. Meski kenyataannya jatuh bangun, gagal, menangis, tertawa, dengan orang tua yang ikut mules ketika ada proses menunda-nunda, sampai akhirnya terwujud.

Nah, pada akhirnya silakan merenungkan, capaian apa yang disukai dan akan kita pilih, tanpa melihat lembaga pendidikan tempat anak bersekolah.

Karena lembaga hanya sarana dan media tapi berproses dan belajar sesungguhnya adalah jiwa pendidikan itu sendiri.

https://seide.id/toleransi-dalam-sepiring-pecel/

https://seide.id/berbagi-virus-kebaikan/

https://seide.id/selebrasi-ibu-setiap-hari/

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta