Yang Tak Boleh Ditunda

Yang Tak Boleh Ditunda ( Foto AsSajidin)

Effi S Hidayat

Bayangkan ini: seorang anak balita bertelanjang dada mengejar kedua orangtuanya berkeliling-keliling mengitari ruangan sembari membawa… palu di tangannya.

Dan, anak balita kriminal yang dibutakan oleh api cemburu karena sang ayah memeluk-meluk ibu “miliknya seorang”, semata wayang itu (hingga dia marah besar dan mengambil palu) adalah… saya!

Oh, jujur saja. Cerita kenangan masa kecil yang sudah berpuluh tahun lewat itu masih segar dalam ingatan saya. Bukannya apa-apa, mungkin karena ini adalah peninggalan salah satu dosa masa lalu di mana saya diingatkan sebagai anak yang pernah ‘tidak berbakti’ kepada orangtuanya.

Dari dulu hingga kini, jika ada yang menceritakan saya kembali akan kisah ini di dalam keluarga besar saya, respon saya yang utama adalah meringis miris. Duh! Namun, benarkah sedemikian dangkalnya makna harfiah kata “bakti” itu?

Yang jelas, cerita di atas hanyalah ilustrasi sekadar intermezo. Potongan episode ketidakpatuhan, sisa kenakalan mbotenmboten tak terlupakan. Bahwa, bagaimanapun seorang anak, ya, seyogyanya harus selalu diingatkan untuk berbakti kepada orangtuanya.

Karena jika mengulik berdasar pengertian kata bakti mengacu kepada ungkapan rasa hormat, tunduk, dan setia. Bukan hanya tertuju kepada orangtuanya saja, tetapi juga tanah air, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, sejatinya sungguh dalam unsur-unsur yang terkandung di dalam makna kata bakti itu. Maka terkait kedalamannya itu pula, saya senantiasa menyimpan sebutir kata mutiara yang mengelus-elus hati saya. Bunyinya, “Ada yang tak bisa ditunda di dunia ini: berbakti kepada orangtua dan berbuat kebajikan”.

Ya, sejak menemukan bulir mutiara ini, saya tak bisa lupa. Menguncinya rapat dan rapi dalam brankas benak saya. Namun kali ini, izinkanlah saya menabalkan satu kata lagi yang saya kemas dengan tulus-ikhlas, yaitu padanan kata “syukur”.

Entah mengapa, secara personal saya suka sekali kepada kata yang satu ini. Syukur yang menyatakan kelegaan hati dan rasa terima kasih kepada-Nya. Ya, ya, kemampuan syukur kepada Allah akan segala karunia yang telah diberikan kepada kita manusia.

Nah. Horeee! Saya memiliki tiga butir mutiara yang tak cuma kedengaran hebat secara konsonan kata, tapi memiliki arti harfiah yang, hmm, bolehlah dibilang dahsyat! “Ada yang tak bisa ditunda di dunia iniberbakti kepada orangtuaberbuat kebajikandan rasa syukur! “

Terlebih setelah saya membaca satu di antara sekian pesan Bapa Paus Fransiskus tentang Hidup Bakti. “Anda memiliki tidak hanya sejarah yang mulia untuk dikenang dan diceritakan kembali, tetapi juga sejarah agung yang masih harus diselesaikan. Pandanglah masa depan di mana Roh Kudus sedang mengutus untuk melahirkan hal-hal yang lebih besar.”  Ah, mengena betul di hati saya.

Melihat masa lalu penuh syukur dan menyambut masa depan sebagai pelaku hidup bakti. Di mana senantiasa terselip keyakinan, bahwa Sang Maha menguatkan iman kita untuk bersyukur.

Ada kesempatan untuk memberikan kesaksian yang tulus, berani, dan penuh sukacita di hadapan dunia. Mengakui dengan rendah hati jika Allah adalah kasih. Tanpa DIA, kita bukanlah apa-apa.

Ya, kita semua diberdayakan untuk mengasihi. Lebih tepatnya lagi, diberi kemudahan karena memiliki hati-Nya. Jadi, seturut pemikiran saya yang dangkal ini, kita semua diberi tantangan. Apakah mampu membuka hati, memerangi segala kelemahan diri sebagai manusia?

Tak usah jauh-jauh, contohnya diri saya sendiri. Kerap diliputi virus kemalasan, tak disiplin, ketidakkonsistenan, perasaan ragu, sedih, cemas, jumawa… apalagi?

Segitu banyaknya kemanusiawian kita  yang menjadi bumerang alias ‘batu sandungan’ untuk mengikuti panggilan-Nya. Hal paling kecil saja, misal diruang lingkup pergaulan sehari-hari. Entah di dalam keluarga maupun sosialisasi  lingkungan sekeliling.

Apakah dengan rendah hati kita bersedia lebih sadar diri menyediakan kedua telinga kita dengan memaksimalkan kemampuannya “mendengarkan” ? Ketimbang lebih berperan aktif mengambil alih sebagai komunikator ulung yang menggebu pamer membicarakan tentang kehebatan diri sendiri. Atau, ujugujug berakhir  kepada gosip yang berisikan penghakiman kepada orang lain?

Duh, betapa mudah hidup kita jatuh tergelincir hanya karena slip kata di ujung lidah tak bertulang atau tutulan jemari di keyboard PC dan hape yang kita jinjing ke mana pun pergi.

Hidup Bakti secara profesional dengan mudah disimak dari ‘jubah’ yang dikenakan seorang ulama seperti kyai atau pastor, dokter, pengacara, guru, seniman, atau mantan wartawan (sepertiii… saya).

Apapun itu, “kemurniannya”  sama saja sih, sebetulnya dengan orang awam. Masyarakat zaman now yang disebut netizen. Bukankah malah jauuuh lebih menakutkan?

Let’s see, netizen Indonesia itu tercatat paling tidak sopan se- Asia Tenggara (atau malah dunia?) dari perolehan pencatatan data digital Microsoft. Dianggap ‘konon’ yang paling kejam berkomentar, jago membully di jagad maya. Selain gelar yang mengiris hati saya;  paling sering alias nomor satu pula dalam membuat konten menyiksa hewan!

Ooh… , mengapa begitu? Kok, bisaaa? Saya pikir-pikir keras, bisa jadi karena kita sebagai manusia ini memang diberi kebebasan hakiki untuk memilih. Tak ada yang membatasi selain kemampuan diri sendiri untuk berserah menerima kerasulan Sang Ilahi. Mau menerima terbuka, rendah hati nggak? Atau, suka-sukanya saja sendiri… .

So, kalau dikenang-kenang lagi sekarang kedegilan saya di masa kecil dengan membawa-bawa palu mengejar orangtua saya, bukanlah karena ketidakbaktian saya kepada mereka (khususnya ibu ; cinta pertama saya sebagai balita).

Cinta kasih, ituuu juga tak dapat ditunda-tunda.

Ya, ya, kudu harus disebarluaskan.

Maka, hidup baktilah rendah hati menjunjung kasih. Termasuk dalam berpikir dan bertindak prilaku sebagai warga dunia digital. Menjinjing HP dengan eling, waras berkesadaran. Jangan… palu, kayak saya, ya?

131221,09:25.

#catatanhatifi #refleksi #hidupbakti

Avatar photo

About Effi S Hidayat

Wartawan Femina (1990-2000), Penulis, Editor Lepas, tinggal di BSD Serpong, Tangerang