“Yuuuk…! Ngaji di Bioskop..!” ajak Lola Amaria.

Lola Amaria

Mantan fotomodel  lulusan Pemilihan Wajah Femina 1987 ini tak sekadar ngomong, tapi serius ngajak datang ke bioskop Indonesia mulai tanggal 4 Agustus 2022, buat ngaji film Pesantren karya sutradara sekaligus produser Shalahuddin Siregar.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

SEBAGAI negara dengan populasi muslim terbesar dumia  Indonesia memiliki 25.000 buah pesantren. Padahal apa sebenarnya yang kita tahu tentang institusi pendidikan paling tua di Indonesia ini?

Film Pesantren adalah upaya untuk mencari tahu tentang bagaimana sesungguhnya kehidupan para santri di pesantren, melalui dua orang santri dan dua orang guru muda di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, sebuah pondok pesantren terbesar dengan 2.000 santri putra dan putri di Cirebon Jawa Barat. Pondok Pesantren ini adalah pesantren tradisional pada umumnya, namun istimewa karena dipimpim oleh perempuan.

Film Pesantren yang fokus pada bagaimana Islam dalam sudut pandang perempuan ini tak hanya berhasil menjelaskan apa itu pesantren, melainkan juga mampu mengajak kita melihat lebih dalam hal yang jarang dibahas di luar. “Kenapa sih  pesantren selalu dikaitkan dengan terorisme? Bukankah pelajaran pokok di pesantren itu cuma ngaji?” begitu ungkap seorang tokoh muda dalam film.

Diproduksi oleh Negeri Films, distribusi Pesantren di bioskop dilskukan oleh Lola Amaria Productions. Model kerjasama yang jarang dilakukan di Indonesia, meski praktik ini lazim silakukan di luar.

“Isu yang dibawa film Pesantren sangat penting untuk Indonesia saat ini. Karena itu kami mau mendistribusikan film ini di jaringan bioskop komersial, ” ungkap Lola Amaria.

Untuk menjaring pendapat para santru sebagai subyek di film ini, sebelum rilis di bioskpp, Lola Amaria Productions bekerjasama dengan Yayasan Bumi Karya  Lestari menggelar Sinema Ramadhan, yaitu program pemutaran film Pesantren di 10 pesantren di Pulau Jawa pada Ramadhan 2022 lalu, didukung Bank BNI, Telkom dan Telkomsel dan berlangsung sukses.

Produksi film Pesantren dimulai tahun 2015, tapi sempat terhenti di tengah jalan karena kesulitan pendanaan. Namun film ini akhirnya bisa selesai tahun 2019  dengan dukungan danaxdari in-Docs, Steps International  Kedutaan Denmark di Jakarta, serta dua stasiun TV internadional – NHK dan Al-Jazeera Ducumentary Channel.

Film ini diputar pertama kali di festival dokumenter paling bergengsi dan terbesar di dunia, yakni International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) tahun 2019. Film Pesantren terpilih dari sekitar 3000 buah film yang disertakan.

Di IFDA  film Pesantren masuk pada program di Lumnious, sebuah program yang menurut IFDA diperuntukkan bagi Film-film yang mampu menenggelamkan para penontonnya ke dalam.pengalaman sinematik  yang digerakkan oleh tokoh  cerita atau pun pembuat film. Lumnipus hadir untuk memulihkan keindahan relasi  ekspresi dan rasa empati manusia,  dan membuat yang universal menjadi nyata lewat individu-individu terpilih.

“Gaya observasi (sutradara) memberi kekuatan pada anak-anak muda yang jadi subyek film ini hingga mereka mampu menceritakan kisah mereka sendiri. Kita bisa belajar banyak dari para guru maupun pelajar dalam film ini  apa pun kepercayaan atau identitas kita. Film Pesantren ini membuat saya merasa lebih punya harapan tentang dunia,” ungkap Sarah Dawson, Juru Program Lumnious.

Yuuuk…  ngaji di bioskop…! ***

03/08/2022 PK 10:52 WIB.

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.