Belajar Menyalibkan Diri, Mati, Bangkit, dan Menang – Menulis Kehidupan-114

(Foto: WK)

Kodratnya, setiap kita manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan. Bisa kilaf, salah, keliru, dan berdosa.

Perjuangan menata pribadi agar lebih baik, perlu pengorbanan. Apalagi memperbaiki sifat dan kesalahan yang berulang kali terjadi. Itulah salib kehidupan, beban kodrati, jatuh berkali-kali, lalu berjuang bangun dan bangkit, terus melangkah menata diri, demi kemenangan pribadi, lebih baik dan berguna.

Merenungkan perjuangan hidup, “memikul salib pribadi”, harus memastikan kelemahan dan sifat buruk dalam diri, agar menjadi pribadi yang bermakna dan jadi berkat, saya tuliskan dalam sajak Menggapai Akal Sehat dan Nurani Jiwa.

Kemasan plastik untuk air dan makanan penuhi jalanan kota
Kertas pembungkus nasi menyebar di antara trotoar dan selokan
Sampah sering dibuang sembarang
Alam mencatat nama para penggunanya
“Jemari pemilik yang tidak punya akal sehat, mulut berbusa kata hujat, hati nurani yang sombong, jiwa yang galau”
Pasukan kuning bersimbah keringat bersihkan sampah
Selokan dan got mampet
Bau tengik dan menyumbat jalan air
saat hujan turun lahirkan banjir derita
“Ruang akal sehat hilang, mampet, bau tengik busuk, lahirkan aneka masalah dan derita”.

Jalanan menjadi macet
Aktivitas usaha terganggu
Di bawah panas terik
dengan semangat berjuang
di aneka media sosial
katakan harapan dan damba
teriakkan slogan dan cita
beberkan masalah dan kasus
agar didengar dan dijawab
agar tercipta kebaikan keadilan
agar ada solusi dan reformasi
Tetapi
Sering terjadi kekerasan
ada korban dan penderitaan
Sampah yang dihasilkan dimana-mana
lelah lara derita berserakan
Sejuta tanya terus menggugat
“Adakah akal sehat di sana
Apakah masih ada ruang nalar untuk hasilkan cara efektif berkomunikasi nyatakan pendapat”
Ruang akal sehat makin sempit dan sirna
Terhimpit di antara sampah plastik dan comberan mampet
“Tujuan baik dan niat mulia tidak bisa membenarkan cara yang jahat, tetapi justru membenarkan kejahatan itu sendiri”.

Di dunia maya zaman now
Banjir gelombang tsunami informasi
Mengalir dari jemari pemilik gadget dan sarana teknologi informasi lainnya
Semua bersumber dari pikiran dan rasa
dari isi nurani jiwa
“Apakah ada akal sehat untuk kemanusiaan.
Apakah menghasilkan harkat martabat luhur.
Apakah mengalir kasih sayang persaudaraan”.

Setiap pribadi menyaksikan
setiap orang terus mengalami
Banjir informasi menghanyutkan diri
dan masing-masing berjuang memilah dan memilih
untuk apa dan siapa informasi
menjadi apa dan siapa
setiap menit tiap hari
Jika masih ada akal sehat
Jika masih waras pribadi
Jika sehat nurani jiwa
Jika kuat raga dan rasa.

Di tempat ibadah dan ritual
semestinya ladang rohani
seharusnya samudera makna
bagi kehidupan insani
Namun
ketika berubah jadi ruang politik
ketika dijadikan pasar dagang
ketika disalahguanakan makna hakikatnya
ketika hilang akal sehat
ketika gelap nurani jiwa
ketika iman dikuasai nafsu
Maka lahirlah iri dengki
tumbuh subur nafsu
keserakahan
berkobar kebrutalan aneka kekerasan
bahkan pembunuhan dan perang
Sambil meneriakkan nama Sang Pencipta
sebagai ungkapan keyakinan diri
Bahwa kejahatan adalah kesucian
dan dirinya adalah tuhan
sehingga bebas melakukan apa saja.

“Akal sehat, kewarasan nurani jiwa, harkat martabat manusia hakiki, kasih sayang persaudaraan semakin sempit tempatnya dalam kehidupan zaman now. Setiap orang periksa diri pribadi. Apakah masih ada akal sehat dan waras.
Apakah saya bagian dari masalah atau solusi bagi kehidupan yang harmoni damai
bagi kemanusiaan yang adil dan beradab
Ciptaan istimewa dan pembawa cahaya Sang Hyang Agung”.

Sampah zaman menegaskan sempitnya ruang akal sehat dalam diri pemiliknya
Polusi peradaban membuktikan semakin sirna kewarasan nalar dan lapar haus nurani jiwa
Manusia berevolusi menjadikan dirinya robot dan mengakhiri sejarahnya di bumi
“Manusia akan punah karena hilangnya akal sehat, sirnanya harkat martabat nurani jiwa pribadi kodrati”.