Sosok Yesus dari Nazareth ternyata di zamannya saja sudah menjadi pertentangan bagi banyak orang, sesuai harapan dan kepentingannya, juga pengalaman pribadi dengan Yesus. Dia berkarya hanya tiga tahun, tapi pengaruh-Nya hingga zaman ini. Mengapa demikian hebat pengaruh-Nya, padahal secara faktual historis Yesus bukan seorang penguasa politik, artis, milioner, kaya raya, atau profesor ilmuwan akademisi.
Khusus konflik cara pandang dan harapan terhadap Yesus, ketika memasuki kota Yerusalem, saya merenungkan dan menulis sajak: Daun Palem, Keledai, dan Napsu Berkuasa.
Alkisah di zaman lampau
Seorang pemuda Nazareth
diterima dengan sorak-sorai
memasuki kota Yerusalem
daun palem dilambaikan penggemarnya
kain warna-warni dibentangkan
jalanan penuh sesak
Dia didambakan jadi Raja
membawa keadilan dan kesejahteraan
Penguasa politik dan agama
Menghalau penindasan raja yang berkuasa
“Hosana Putera Daud….”
Daud Raja yang dikenang
didambakan hadir lagi
ketika dibandingkan dengan yang sedang berkusa
Antara nostalgia dan harapan
Daun palem jadi saksi.
Keledai jadi tunggangan
Sang Pemuda Nazareth
yang disoraki dan didambakan
Jadi pemimpin baru
padahal Dia yang bersangkutan
tidak bermimpi merebut tahta
tidak hadir untuk kuasa
tidak datang untuk harta
Keledai tunggangan diam pasrah
Keledai bukan kuda
Keledai bukan onta
“Keledai tidak akan terantuk di lubang yang sama”.
Napsu berkuasa dalam politik
sering punya seribu wajah
bisa miliki sejuta cara
demi mencapai tujuan
merebut tahta
mendapat kekuasaan
meraih harta kekayaan
memuaskan hawa nafsu
yang memang tidak pernah terpuaskan dan tercukupkan
Maka nafsu berkuasa bukan lambaian daun palem
bukan seekor keledai
bukan soal sorak sorai.
Pemilik napsu berkuasa
bisa gunakan masyarakat
bisa memakai daun palem
bisa tunggangi ribuan keledai
Tetapi tujuan kekuasan
Bukan daun-daun palem
tetapi memiliki harta kekayaan, lembaga keuanga dan sumber daya alam
Bukan keledai
tetapi kendaraan emas dan supersonik serta pesawat luar angkasa dan sistem digital milenial
serta pasukan hebat dan persenjataan mutakhir.
Daun palem, keledai,
dan masyarakat kecil, semuanya cuma cara dan alat untuk memenuhi napsu berkuasa
Dan ketika dirasakan tidak bermanfaat, maka siap dihancurkan dan dihilangkan atas nama keagungan kekuasaan sebagai kebenaran dan kemuliaan
Karena
Pemilik napsu berkuasa
adalah tuan pemilik segalanya
adalah tuhan atas semua manusia
Segalanya untuk napsu diri pribadinya.





