Yudhis ‘lah penyair Indonesia yang paling sering manggung membacakan karya-karyanya dalam bentuk pertunjukan sastra. Tak jarang itu dilakukan saat dia bersama keluarga dalam perjalanan mudik atau piknik.
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
IBARAT harimau, Yudhistira ANM Massardi (68th) atau Yudhis sungguh sosok sastrawan soliter, yang mampu memberdayakan potensi (sastra) yang dimilikinya secara mandiri, sendiri, nyaris tak merepotkan pihak lain. Untuk mempublikasikan puisi-puisinya misalnya, dia cukup mempostingnya di FB, dan kemudian terbit sebagai antologi tunggal oleh penerbit mainstream atau diterbitkan sendiri.
Kreativitas Yudhis tak sekadar menulis dan menerbitkannya sebagai buku, tapi juga dalam memasarkan (persisnya memasyarakatkan) apa-apa yang ditulisnya hingga benar-benar sampai dan didengar langsung oleh publiknya, dengan cara membuka ruang-ruang pertunjukan sastra, yang sekali lagi diupayakannya sendiri, termasuk mencari sponsor agar dia tak harus keluar ‘uang bensin’ sendiri. Cerdas.
Dua tahun terakhir ini misalnya, bahkan saat pandemi Covid-19 merebak dan tata anturan prokes benar-benar harus diterapkan di tiap aktivitas luar rumah, dalam catatan saya… Yudhis ‘lah penyair Indonesia yang paling sering manggung membacakan karya-karyanya dalam bentuk pertunjukan sastra. Tak jarang itu dilakukan saat dia bersama keluarga dalam perjalanan mudik atau piknik.
Tahun ini di tengah khabar buku-buku (kumpulan puisi dan novel) karyanya tahun 1980-an akan dicetak ulang oleh sebuah penerbit nasional, Insya Allah pada 12 – 22 Maret 2020, Yudhis akan menggelar Safari Sastra Yudhistira seri 1 ke enam kota yakni Kendal, Magelang (dan Borobudur), Rembang, Solo, dan Tegal di Jawa Tengah, serta Yogyakarta. Bisa jadi juga akan tampil di Semarang dan kota lainnya.
Kali ini Yudhis tak cuma didampingi istrinya, pendidik dan penulis Siska Yudhistira, tapi juga dua orang rekan sesama aktivis Kerabat Seni Bulungan (KSB), Yayasan sekaligus komunitas seni yang sengaja dibentuk untuk memayungi ragam aktivitas seni, bagi kelompok-kelompok seni yang aktif di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan / Gelanggang Bulungan periode tahun 1970 – 2010.
Dua rekan KSB pendamping Yudhis (dan Siska) kali ini adalah aktivis drama dan sastra Wita Maharajo dan Uki Bayu Sejati. Sebenarnya ada sebelas orang ‘Anak Bulungan’ yang sedianya ambil bagian dalam Safari Sastra Yudhistira seri ke-1. Tapi karena berbagai hal, “Untuk kali ini kami hanya berangkat berempat,” ungkap Yudhis yang untuk safari sastra kali ini didukung berbagai sponsor tak mengikat.
Dukungan juga datang dari berbagai teman di daerah, yang tak cuma menyiapkan panggung, di kafe, hotel atau taman-taman budaya setempat, tapi juga siap tampil bareng (Tim Jakarta) di panggung teater-sastra yang akan digelar. Selain baca puisi, seri-seri Safari Sastra Yudhistira juga akan diisi pertunjukan monolog ataupun drama-reading serta musikalisasi puisi berkait karya Yudhis. Sila mampir’***
09/03/2022 PK 20:54 WIB




