Pagi di Oro-Oro Ombo di tepi Ranu Kumbolo – Foto Heryus Saputro Samhudi
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
Di jenjang Desember kureguk cintamu
kubimbing kau di lereng Semeru
rambutmu terurai mesra
kau tersipu malu
o…, indahnya Mahameru
di kabut edelweis kukecup bibirmu
penyegar dan penghangat tubuhku
burung-burung bernyanyi
alam pun berseri
o…, indahnya Mahameru
APA persisnya judul lagu itu? Ada yang bilang “Mahameru”, tapi ada juga yang bilang “Di Jenjang Desember Kureguk Cintamu”. Mana yang betul? Entahlah. Bahkan, siapa penggubahnya? Juga tak pernah jelas. Ada yang bilang si ini, ada yang bilang si itu, tapi jejak dan sosok seajatinya tak pernah terekam jurnalis pendaki gunung dan penjelajah alam Indonesia.
Namun begitu, lagu dengan syair sederhana ini sudah jadi domain publik, dan amat populer di kalangan pencinta alam Indonesia. Tanya saja Don Hasman. Djadjo Dondi Rahardjo atau mungkin Widiarti Kamil. Pasti mereka ingat bahwa di acara-acara api unggun di perkemahan-perkemahan, lagu itu kerap dinyanyikan diiringi petikan gitar, cuk ataupun mandolin, sejak saya belajar mendaki di tahun 1975.
Gunung Semeru (atau Mahameru), ‘atap’ Pulau Jawa di Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru, amat populer. Dari masa ke masa orang-orang berjiwa muda mendakinya, melintasi ladang-ladang sayur milik warga, menikmati hening danau-danau atau ranu yang ada: Bahkan film nasional semisal ‘Gie’, yang berkisah ihwal Soe Hok Gie (karya Riri Riza dan Mira Lesmana) pernah di-shoot di pucuk Semeru.
Semeru di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru memang indah ilahiyah. Ranu Regulo, Ranu Pani, Ranu Kumbolo yang di saat-saat tertentu memberi pemandangan: belibis-belibis mengapung di ketenangan airnya, sedangkan rumpun-rumpun edelweis mekar tanpa henti, menginspirasi pengelana menggubah lagu buat si Dia yang yang rambutnya terurai mesra. Ah…!
01/12/2021 PK 00:00 WIB






