Di Kudeta, Aung San Suu Kyi, Kembali Hadapi Penjara dan Pembatalan Pemilu

Seide.id – Tak banyak nama yang selalu jadi pemberitaan dunia seperti dirinya. Ia dipuja, dibicarakan, dituntut dan di penjarakan.

Kehidupannya naik turun. Kenyang menjalani penahanan, selama usia 76 tahun.

The Lady, figur yang tidak berdiam diri terhadap sekelilingnya.

Perjuangan dan kehidupan sosok pro demokrasi yang anti kekerasan ini pernah di filmkan dengan judul yang sama seperti sebutannya, The Lady, diperankan oleh Michelle Yeoh.

Lahir di Yangoon, Burma, tahun 1945, Aung San Suu Kyi, putri dari Jendral Aung San, pahlawan kemerdekaan Burma- sekarang Myanmar.

Ayahnya terbunuh 6 bulan sebelum kemerdekaan resmi diraih- waktu itu usianya baru 2 tahun.

Lulusan Oxford dalam bidang Filosofi, Politik dan Ekonomi ini kemudian melanjutkan kuliah di New York dan bekerja pada pemerintah Persatuan Myanmar.

Menikah dengan Dr. Michael Aris, ia melahirkan kedua anaknya di London.

AWAL DARI SEGALANYA

Kedatangannya ke Burma dengan meninggalkan kedua anak dan suaminya di Inggris, nantinya akan mengubah seluruh jalan hidupnya .

Karena ia bukan berniat menetap, melainkan untuk menjenguk ibunya yang sedang kritis, namum sesuatu yang tak diduga terjadi.

Bertepatan dengan kedatangannya, Myanmar berada di tengah pergolakan politik besar.

Saat itu, ribuan siswa, pekerja kantor dan biksu turun ke jalan menuntut reformasi demokrasi.

Militer yang dipimpin oleh Jendral U Ne Win, menanggapi aksi itu secara brutal dengan melakukan pembantaian massal pada para pengunjuk rasa.

MENYATAKAN DIRI

Suu Kyi tidak bisa berdiam diri. Ia setuju pada tuntutan massa yang tidak ingin pemerintahan dikuasai Junta militer.

Dalam pidatonya di Yangon pada 26 Agustus 1988, ia nyatakan bahwa ia adalah puteri dari pejuang kemerdekaan yang tidak bisa menerima kondisi itu.

Suu Kyi lalu mengatur siasat.
Untuk melawan ‘tangan besi‘ pemerintahan militer, ia tiru cara pejuang demokrasi sebelumnya.

Kampanye Tanpa Kekerasan yang dipopulerkan oleh Pemimpin hak-hak sipil AS, Martin Luther King dan Mahatma Gandhi dari India , jadi inspirasi bagi dirinya.

Suu Kyi berdiri di garda paling depan. Ia pimpin pemberontakan tanpa kekerasan untuk melawan kediktatoran Jend. Ne Win yang saat itu baru saja menerapkan peraturan baru untuk melebeli semua orang Rohingya sebagai imigran ilegal.

Tanpa lelah, Suu Kyi berteriak minta dukungan dunia dan media agar perduli pada kelaliman yang terjadi di negaranya.

KELUAR MASUK BUI

Tokoh yang disapa The Lady ini kenyang dengan tuntutan dan mendekam di penjara.

Ia pernah dihukum 21 tahun tahanan rumah. Tinggal di tepi sungai. Diasingkan. Sanggup menahan rindu pada anak-anaknya dan mampu menolak ketika dijinkan menghadiri penguburan suaminya, karena ia takut tidak bisa kembali lagi ke negaranya.

Tahun 2010, Junta militer Myanmar membebaskan secara resmi setelah 15 tahun ia mendekam sebagai tahanan rumah, sejak pemilihan umum tahun 1990.

Satu tahun berikutnya, dunia memberikan Suu Kyi penghargaan Nobel atas perjuangan dari Pemimpin National League for Democracy ,LND.

MENCIPTAKAN PERAN

Tidak bisa menjadi presiden karena konstitusi tidak mengijinkan janda orang asing menjadi presiden, Suu Kyi lalu menciptakan peran kekuasaan penuh untuk dirinya di atas presiden dengan sebutan, State Consellor, pada tahun 2016.

Dunia mengganggap, Suu Kyi telah melakukan kesalahan fatal dengan membiarkan militer melakukan pemerkosaan dan pembantaian terhadap warga Rohingya di masa pemerintahannya.

Ini berbeda dengan janji sebelumnya yang selalu ia dengungkan pada dunia dan media.

Aku berjanji, semua orang yang hidup di negeri ini akan mendapat perlindungan semestinya sesuai hukum dan norma hak asasi.

Tapi ikon perdamaian HAM ini tidak perduli dengan janji dan kecaman yang ditujukan pada dirinya.

Ia bahkan menutup semua akses PBB dan media

DIKUDETA, KEMBALI KE PENJARA

Seperti dilansir AFP, 27/7/2021, setelah Presiden Win Myint dan pemimpin de-facto, Suu Kyi, dilengserkan lewat kudeta militer pada February 2021, Junta militer membatalkan hasil pemilu yang dimenangkan oleh partai Suu Kyi.

Alasannya? Pemilu yang dilakukan tidak bebas dan adil.

“Mereka (NLD-red) berupaya merebut kekuasaan negara dari partai-partai dan kandidat non-NLD dengan menyalahgunakan pembatasan COVID-19,” sebut Ketua Komisi Pemilu Junta militer Myanmar, Thein Soe.

Entah kapan negara berpenduduk 54 juta jiwa ini akan melakukan pemilihan umum.

Tapi sejak dikudeta, Suu Kyi kembali ditahan. Ia dijerat dengan berbagai dakwaan termasuk pelanggaran Covid-19 dan terancam hukuman penjara lebih dari satu dekade.

Pertanyaannya..

Jika Aung San Suu Kyi berteriak lagi, apakah dunia dan media mau mendengar lagi teriakkan The Lady? (ricke)

Avatar photo

About Ricke Senduk

Jurnalis, Penulis, tinggal di Jakarta Selatan