Dongeng

Seide.id -Teman-teman kerap bergurau dan agak sinis, ketika terbentur masalah ajaib, membaca atau mendengar suatu peristiwa yang tak terurai dan tak masuk akal. Suatu urusan yang kita sama-sama tahu bahwa urusan itu sebetulnya mudah saja, tapi oleh birokrasi dibuat atau dikesankan seolah-olah sulit, rumit, memakan banyak waktu dan (nah ini) biaya. Sambil tertawa kecut (konon jika kita sanggup menertawai diri sendiri adalah tanda kedewasaan?), paling-paling berkata maklum: “Yaah, apa boleh buat, negri ini memang negri dongeng”.

Mendengar kata dongeng, aku kok teringat HC Andersen yang kemarin berulang tahun.

Terus terang, aku ‘mengenal’ HC Andersen, dari komik. Dulu, sekitar era ’70an kakakku memiliki persewaan komik. Aku bersemangat membantu. ‘Job discription’ku adalah: mendata nama-nama peminjam (teman-teman sekitar kampung tempat tinggal kami yang tak terlalu jauh saja). Menagih komik yang dipinjam itu setelah 3 hari. Juga mengawasi para penyewa yang membaca langsung di tempat. ‘Gajinya’,…yaah sekadar untuk jajan saja sudah girang bukan main. Tapi yang paling menyenangkan, ..aku boleh membaca komik apa saja!

Dari sanalah, aku mulai tertarik gambar-menggambar. Gambar-gambarnya sungguh membuatku terpesona. Komikus Indonesia di era ’70an itu begitu berjaya. Mulai dari Ganes Th, Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Wid Ns, Hasmi, A Tatang S, Djair Ponakanda, Koes Bram, Zaldi, Budiyanto, Absoni, Sim, Har, Henky Mansyur Daman, dll.

Belakangan, aku mengenal nama, HC Andersen. Tadinya aku mengira dia adalah komikus. Tapi kok, ..lukisan dalam komik-komiknya tak sebagus komikus kita? Gambar komiknya pun berbeda-beda pada setiap cerita. Ternyata sang HC Andersen adalah penulis cerita. Pendongeng, alias penulis naskah-naskah dongeng. Komiknya dibuat oleh berbagai komikus. Tapi yang tercantum di cover komik cuma: HC Andersen dan judul dongengnya. Nama pelukis komiknya tak tercantum.

Dongeng, sebetulnya adalah cara orang dewasa mengajarkan, menasihati anak-anak supaya berperilaku baik, sabar dan teguh dalam menempuh kehidupan. Supaya tak terkesan menggurui, dan membosankan maka digunakanlah cerita. Meski cerita dongeng biasanya: hitam putih, kebaikan selalu menang melawan kejahatan, instan dan dangkal. Ah, jadi ingat, ungkapan kang Sobari, ketika ngobrol dgn seorang host pada sebuah podcast: “Masyarakat kita mutakhir adalah masyarakat yang tanpa sadar tergiring menjadi masyarakat pemuja kedangkalan”.

Hans Christian Andersen lahir di Denmark pada tanggal 2 April 1805. Ayahnyalah yang mengenalkan Andersen kecil kepada dunia sastra lewat dongeng: “The Arabian Nights”. Ibunya seorang pengacara. Ayah dan ibunya selalu merasa dan mengesankan kepada orang lain bahwa mereka adalah keturunan raja itu atau bangsawan anu. Tapi setelah ditelusuri melalui dokumentasi akurat, semua kesan itu, tak terbukti. Mungkin dari situlah HC Andersen mendapatkan bakat mendongengnya, hehehe.

Setelah ibu dan ayahnya bercerai, Andersen tinggal dengan ibunya. Lalu ibunya ‘menaruhnya’ di sebuah asrama penampungan anak. Andersen tumbuh menjadi anak pemalu, pendiam, kutu-buku dan ‘gak gaul banget’ kata anak milenial.

Kecerdasannya, sesungguhnya rata-rata saja. Tapi dia sudah mulai menulis cerita-cerita dongeng. Memasuki dunia remaja, dia tetap tumbuh menjadi remaja pemalu terutama jika bergaul dengan lawan jenis. Banyak remaja wanita yang ditaksirnya. Tetapi selalu dipendamnya saja. Bahkan dia terlalu malu untuk sekadar menyapa, apalagi menyatakan cinta, …”nembak” kata anak sekarang.

Karena kecerdesannya rata-rata saja itu, Andersen masuk universitas pun, agak ‘dikatrol’. Universitas dijalaninya dengan agang-agangan (istilah Sumsel untuk menyatakan sesuatu yang dikerjakan secara tak bersungguh-sungguh, antara ya dan tidak). Mungkin untuk mengurangi rasa pemalunya, dia bergabung di sebuah kelompok teater, sambil terus menulis. Ternyata pelatih teaternya melihat bakat lain pada Andersen, yaitu…menyanyi. Suaranya konon tinggi dan jernih (aku membayangkan karakter suaranya seperti Art Garfunkel, karena wajahnya pun mirip, hehehe). Tapi, dunia tarik suara, kemudian tak terlalu menarik minatnya. Jadi, nyanyi-menyanyi, tak ditekuninya lebih lanjut.

Andersen sangat produktif. Naskah-naskah drama dan dongengnya mulai dikenal. Lalu, setelah agak dewasa, dia banyak mekakukan perjalanan di sekitar Eropa dalam upaya menambah atau ‘mengecas batre’ untuk tulisan-tulisannya. Dalam perjalanannya, antara lain dia bertemu dan berbincang dengan salah-satu sastrawan Inggris Idolanya, yaitu Charles Dickens. Setelah banyak melakukan perjalanan, belakangan cerita-cerita tentang perjalanan yang ditulisnya mulai dikenal dan disukai.

Aries Tanjung – HC Andersen

HC Andersen, penulis, penggiat teater, penyanyi, pemalu, …”terlanjur” dikenal dunia sebagai pendongeng. Kisah dongen-dongengnya sudah diterjemahkan ke-dalam 125 bahasa di deluruh dunia. Cerita-cerita dongengnya terus menjadi inspirasi dan terus dimainkan dalam teater, panggung-panggung pertunjukan, pergelaran seni suara dan film sampai hari ini.

Di daratan Eropa, Denmark memang bukan yg paling unggul. Tapi, kerap dijuluki kuda hitam dalam beberapa hal. Dalam hal olahraga misalnya. Denmark di luar Asia mungkin satu-satunya negara yang punya juara All England sampai 7x. Orang-orang Denmark yang rata-rata tinggi besar, punya leluhur yang terkenal ketangguhannya yaitu: Viking. Denmark juga kerap dijuluki dinamit dalam sepakbola. Dalam hal literasi, ..yaa mungkin HC Adersen ini.

Selamat ulang tahun, mbah HC Andersen. Jika masih hidup, usiamu 218 tahun sekarang. Terimakasih telah mewarnai masa kecilku dengan dongeng-dongengmu…


Ilustrasi: HC Andersen aku corat-coret, beberapa menit lalu, dengan media pensil dan cat air di karton Manila berukuran sekitar 55×40 cm…

(Aries Tanjung)

Vincent