Fauna Nusantara, Burhan, Si Pemburu Tikus

Burhan Tyto alba, memang ‘menyeramkan – Foto Heryus Saputro Samhudi

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

KAWASAN sekitar rumah saya di perbatasan Provinsi Banten dan Jawa Barat, relatif masih sejuk, dilintasi sungai kecil rimbun pohonan di tepinya. Berbagai satwa liar jadi penghuninya. Biyawak, musang, ular, kadal, bunglon, kelalawar dan burung, biasa kami lihat. Juga pagi tadi saat seekor anak Burung Hantu (Burhan) terjatuh ke tanah, nyaris diterkam kucing, kalau saja tak ada tangan menyelamatkannya.

Kini, anak Burhan jenis Celepuk Jawa (Otus angelinae) itu aman di tangan Supriyanto, yang tinggal persis di depan rumah saya. Diobati (karena kaki dan sayapnya sedikit semper, akibat terbanting jatuh dari ketinggian) dan diberi makan. Dipelihara sejenak sebelum kelak kami buatkan rumah bertiang tunggal dan tinggi, tempatnya tinggal dan ronda, menyergap tikus yang banyak berkeliaran.

Dari berbagai bacaan kita semua tahu bahwa Burhan merupakan anggota ordo Strigiformes. Termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Diketahui ada sekitar 222 spesies Burhan terebar di sekujur dunia kecuali Antarktika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil di sekitarnya.

Tyto Alba di sebuah warung di Bukit Kasih di dekat Manado – Foto Heryus Saoutro Samhudi

Di Barat, Burhan simbol kebijaksanaan. Tapi di Indonesia, Burhan kerap dianggap pertanda maut. Cukup beralasan bila disebut Burung Hantu karena matanya besar menghadap ke depan dengan paruh bengkok tajam. Susunan bulu di kepalanya membentuk lingkaran ‘wajah’, mengesankan sekaligus menyeramkan, dengan leher lentur hingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang. Hiii…!

Sekilas tampangnya ibarat sosok bertopeng dengan kesan menyeramkan, dan memang cukup layak bila ditabalkan dengan kata ‘hantu’ Tapi syukurlah tak semua tempat di Nusantara menyebutnya seseram itu. Selain Celepuk atau Kokok Beluk di Betawi dan Sunda serta Banten, di Jawa orang menyebutnya Darès atau Manuk Darès, dan di Sulawesi Utara dikenal sebagai Manguni, dan banyak nama lagi.
.
Berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih, Burhan kerap kedapatan mematung, tak banyak bergerak. Perilaku ini membuat Burhan jadi tak gampang terlihat, bahkan juga di siang hari saat tidur di bawah bayang-bayang pohonan. Sayangnya, tersebab berbagai tekanan lingkungan, kini Burhan menjadi langka. Padahal dia pemburu tikus yang andal.

Supri dan Celepuk Jawa (Otus Angelina) – Foto Heryus Saputro Samhudi

Ekor Burhan umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya. Dengan kelebihan alamiah itu, dan tatap jeli matanya, Burhan bisa terbang tanpa suara dan tahu-tahu menyergap tikus. Itu sebabnya banyak petani memelihara Burhan di alam bebas sebagai predator alamiah bagi tikus-tikus yang jadi hama pertanian.

Belajar dari para petani padi di Pati – Jawa Tengah, dan pekebun sawit nasional di Angkola Selatan di Kabupaten Tapanuli Selatan yang pernah saya kunjungi tahun 2014, ihwal keberhasilan mereka memanfaatkan Burhan ‘peliharaan’, maka untuk Burhan yang terjatuh di tanah pagi tadi akan coba kami buatkan rumah tinggal, sekaligus untuk juga Burhan bisa ronda tikus. ***

06/05/2022 PK 21:14 WIB

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.