I’ie Sumirat

Seide.id – Di ujung pertandingan babak ke-2 -sesaat menjelang serve- antara I’ie Sumirat melawan Svend Pri (pemain Denmark flamboyan, agak angkuh dan pernah mengalahkan Rudy Hartono), babak pertama I’ie sudah menang, I’ie Sumirat tiba-tiba melakukan gerakan mengejutkan. I’ie seperti menari. Menarikan salah-satu tarian tokoh perwayangan versi Jawa Barat. Entah karena kaget, terprovokasi atau buyar konsentrasi, akhirnya Svend Pri kalah!


I’ie adalah salah-satu dari legenda hidup bulutangkis kita. Menjadi seorang I’ie Sumirat pasti tak mudah. Karena dia berada di waktu, tempat dan situasi yang bisa dibilang ‘sangat tak menguntungkan’. Dia berada boleh dibilang di tengah-tengah 2 jagoan dan legenda lain bulutangkis kita, yaitu: Rudy Hartono dan Liem Swie King.

Sebelum blanyongan lebih jauh tentang I’ie. Izinkan aku cerita sekelebat tentang ‘persentuhanku’ dengan bulutangkis.

Ketika kecil, lapangan bulutangkis berlantai tanah di lingkungan tempat tinggalku, lebih sering aku dan teman-teman gunakan untuk bermain gobak sodor (konon dari go back shut the door?).

Kami dulu menyebutnya: galasin. Lapangan bulu tangkis itu, garis-garisnya terbuat dari bambu yang ‘diikat’ dengan besi berdiameter sekitar sebesar kelingking yang ditancapkan ke dalam tanah. Supaya tanahnya tak berdebu, lapangan kerap disiram dengan air got, pembuangan dari rumah-rumah penduduk sekitar yang mengalir di sisi lapangan. Jika malam tiba, giliran para bapak bermain.

Penerangannya adalah sepasang lampu petromax (petromax itu merk – jenis lampu sesungguhnya adalah lampu gas?). Petromax di pasang di tiang bambu yang secara manual tiangnya bisa direbahkan untuk memompa, jika sang petromax meredup karena kurang pompa.

Memasuki dunia kerja, dunia dewasa dan menjelang tua, aku suka diajak teman kantor main bulutangkis. Oh, tentu bukan mengincar prestasi, cuma sekadar cari keringat (lucu ya, keringat kok dicari?).

Suatu ketika aku dan seorang teman sedang ‘tepok-tepokan’.
“Dihitung yuk mas”
“Aah,…gak usahlaah. Elo pasti menang dengan mudah”
“Biar semangaaat. ‘Gini deeh, kalok berhasil dapat 5, panjenengan menang!”.
Waah, haha,.. ‘kurangajar’ anak ini, batinku. Menghina sekali dia. Akhirnya aku menyanggupi. Tapi ketika aku dapat angka 4 dan dia sudah 13 (yang artinya aku hampir menang… tiba-tiba, kepalaku terasa berat. Mata berkunang-kunang seperti ada banyak bintang berputar-putar di sekitar kepalaku.

Aku nyaris pingsan. Lalu aku terduduk. Lawan mainku, cemas, berlari ke arahku. Setelah agak tenang, aku diberinya minum air hangat yang kebetulan kerap dibawa oleh salah-seorang teman. Teman-teman lain merubung dengan cemas. Ada yang mengipasi. Aku perlahan pulih. Aku bilang: “Waaah.. skor 4-13, satu angka lagi gue menang!”
Hahaha.. teman-teman senang, melihat aku tak jadi pingsan.

Kembali ke-I’ie Sumirat.
Ketika I’ie mulai merintis karier di dunia bulutangkis, tentu saja bukan sesuatu yang mudah, bahkan sangat berat dan menantang. Di Indonesia, Rudy Hartono, sedang dalam kondisi puncak, atau sedikit menurun menuju legenda. Lim Swie King, sedang segar-segarnya dan sedang ‘mengincar’ kejayaan Rudy. Juga masih ada Mulyadi.

Di luar Indonesia, di dunia pun, sedang beredar, jago-jago bulutangkis yang tingkat kehebatannya kurang-lebih sama, yaitu: Hou Jia Chang, Tang Xianfu, Luan Jin (ketiganya dari Cina!), Bandid Jaiyen (Tailand), Prakash Padukone (India) dan Svend Pri (Denmark).

Dunia bulutangkis Cina, kerap ‘meragukan’ dan secara sinis kerap mengatakan bahwa kehebatan Rudy Hartono, karena lawan-lawannya bukan pemain Cina. Lalu pada pertengahan tahun ’70, negara-negara Asia yang diprakarsai oleh Cina, menyelenggarakan Kejuaraan Bulutangkis Asia, yang secara politis, sangat mudah diduga upaya itu adalah ingin menyaingi All England.

Pada saat yang hampir bersamaan, indonesia membentuk 2 tim. Tim 1, Dimotori Rudy Hartono, Lim Swie King, Cun Cun, Johan Wahyudi diturunkan di All England. Tim 2, dimotori I’ie Sumirat, Christian dan Ade Chandra diturunkan di kejuaraan Asia di Bangkok yang diprakarsai oleh Cina yg secara politis ingin menyaingi All England itu.

I’ie Sumirat, berhasil mempermalukan Cina yang menggadang-gadang dan selalu menggembar-gemborkan bahwa jagoan-jagoannya yang bernama Hou Jia Chang dan Tang Xianfu tak terkalahkan. Dalam turnamen itu, 4 orang semifinalisnya adalah: I’ie Sumirat dan 3 orang semifinalis lainnya adalah: Hou Jia Chang, Tang Xianfu dan Luan Jin. Dan juaranya, adalah: ..I’ie Sumirat! Peristiwa itu lalu menjadi headline di media-media seluruh dunia: “I’ie Sumirat dari Indonesia membantai 2 raksasa dari Cina!”

Hou Jia Chang dan Tang Xianfu yang ternyata kelahiran Indonesia dan tentu masih bisa berbahasa Indonesia, penasaran atas kehebatan I’ie. Konon kemudian mereka berteman. Mereka sampai memerlukan bertanya, apakah I’ie pernah bertanding di turnamen resmi dan mengalahkan Rudy Hartono? I’ie yang humoris dan rendah hati menjawab singkat: “Peringkat saya di bawah Rudy Hartono dan Lim Swie King”

I’ie Sumirat, di masa-masa pensiunnya sebagai atlet, lalu mendirikan semacam padepokan bulutangkis. Hasilnya? Tak main-main. Setelah Indonesia dalam waktu yang cukup panjang tak memiliki jago bulutangkis, kembali diharumkan oleh: Taufik Hidayat.

Taufik sedari kecil memang berlatih di padepokan yang didirikan oleh I’ie di Bandung. “Banyak yang bilang permainan Taufik, mirip permainan saya” Tapi dengan merendah dia melanjutkan. “Taufik, tentu dengan peralatan, metode latihan yang lebih modern, asupan gizi cukup juga fisik yang lebih baik, tentu bermain lebih baik”.

Anthony Ginting yang sekarang juga jadi andalan tunggal putra kita, juga pernah berlatih di padepokan I’ie Sumirat. “Ah,…cuma 2 tahun” kata I’ie.

I’ie Sumirat, terkenal di dunia dengan pukulan ‘tipuan kedut’ (flick stroke?), drop-shot mendadak menyilang yang ‘mematahkan pinggang’, netting yang sangat tipis, mulus dan berani.

I’ie yang humoris dan sangat rendah hati, bahkan menurutku, permainan netnya yqng ‘hampir sempurna’ baik kemulusan sentuhan, ketipisan, keberanian dan kesabarannya, belum tertandingi sampai hari ini. Soal tipu menipu ini, seorang teman punya gurauan yqng membuatku selalu tertawa jika teringat. “Aah.., elo sih main di lapangan, tapi nipu-nya di warung”.

Karena prestasinya, apalagi melihat Rudy Hartono dan Lim Swie King sudah memiliki rumah yang relatif mewah, maka I’ie memberanikan diri untuk meminta rumah kepada PBSI. PBSI menjanjikan. Dapatkah? Alhamdulillah…tidak.
“Hehe,…tapi biarlah itu menjadi salah-satu sejarah saja dalam hidup saya”.

Hari-hari ini, nampaknya pemain tunggal putra dunia, belum menemukan formula bagaimana mengalahkan Viktor Axelsen, jagoan dari Denmark. Dalam hampir setiap turnamen dunia, si jangkung ini pasti juara. Flick stroke atau pukulan tipuan kedutan, kemulusan netting ala I’ie Sumirat mungkin layak dicoba.

Kang I’ie Sumirat, sang pendekar sangat bersahaja, humoris dan rendah hati, yang 15 November berulang tahun ke-72 masih sangat bugar! Terimakasih atas semua perjuangan dan sikap rendah hati yang selalu menginspirasi.


Ilustrasi: I’ie Sumirat baru beberapa menit yang lalu, aku orat-oret dengan akrilik di atas artpaper, ukuran sekitar 60x40cm

(Aries Tanjung)

Tears of Joy