Inggris Dilanda Krisis, Sebagian Warga Kelaparan

Krisis di Inggris

Dampak keluar dari Uni Eropa dan Perang Russia – Ukrania, kebijakan ramah lingkungan – membuat Inggris harus membayar mahal konsumsi energi mereka, dan berdampak pada warga kebanyakan di Inggris. Kelaparan melanda sebagiannya.  Musim Dingin masih mengancam.  foto dok Dyah Adi Sriwahyuni.

Seide.id –  Inggris saat ini sedang dilanda krisis. Krisis ini ditandai dengan harga energi yang melambung diikuti dengan permasalahan rantai pasokan kebutuhan. Biaya hidup yang melonjak dirasakan membuat sebagian warganya kelaparan.  Anak anak ke sekolah tanpa bekal makan siang.

Warga yang pas pasan sibuk mencari pekerjaan tambahan, untuk meningkat demi biaya hidup yang semakin meningkat. Penelitian yang dilihat oleh BBC menunjukkan jutaan orang juga terpaksa mengambil pekerjaan sampingan karena biaya hidup semakin meningkat.

Laporan dari Royal London itu melibatkan 4.000 orang dewasa Inggris dalam surveinya.

“Sekarang, semuanya sangat mahal,” kata ibu dua anak dari Poole, sebuah kota pesisir di Dorset, Inggris. “Kami membutuhkan uang tambahan,” ujarnya kepada BBC.

Kenaikan biaya hidup di Inggris, jutaan pekerja terpaksa kerja sampingan karena ‘tak punya pilihan’

Penelitian itu menemukan 16% pekerja yang mereka survei telah mengambil pekerjaan sampingan untuk membantu menutupi kenaikan biaya hidup. Jika benar hal itu terjadi di seluruh Inggris, jumlahnya bisa mencapai 5,2 juta orang.

Lebih lanjut, 30% orang yang ditanya mengatakan mereka perlu mengambil pekerjaan tambahan, jika harga-harga terus naik.

Tapi tak semua warga bisa melakukannya.  Karena dia memiliki anak kecil. Namun, biaya hidup yang melambung membuat dia merasa tidak punya pilihan.

“Kami tahu banyak rumah tangga mulai menekan pengeluaran mereka sejak enam bulan lalu karena harga-harga mulai naik. Dengan tagihan yang terus naik, ini bisa menjadi musim dingin yang sangat sulit ke depannya,” kata Sarah Pennells, spesialis keuangan konsumen di Royal London.

“Sementara banyak yang terpaksa melakukan penyesuaian pengeluaran yang signifikan, meskipun bekerja sepanjang waktu. Itu tidak bisa menghindari mereka dari stres atau situasi tidak menyenangkan.”

Dilansir dari CNBC International,  krisis yang terjadi di Inggris ini disebabkan oleh dua hal utama yakni kenaikan harga gas alam dan tarif listrik serta permasalahan distribusi yang terkait dengan aturan imigrasi baru di Negeri Ratu Elizabeth itu.

Kenaikan harga energi ini dipengaruhi oleh sikap London yang ingin berpindah fokus kepada bahan bakar rendah emisi. Walhasil, pembangkit batu bara mulai dinonaktifkan dan gas alam mulai menjadi primadona energi.

Hal ini pun mulai mendorong kenaikan permintaan akan gas. Tak hanya itu, kenaikan permintaan ini ditambah dengan perbaikan ekonomi pasca pandemi dan juga musim dingin.

Krisis kini memicu peringatan musim dingin yang akan sangat sulit di negara tersebut. Pasalnya dalam musim dingin kebutuhan masyarakat seperti energi untuk pemanas hingga bahan makanan akan mengalami peningkatan yang pesat.

Harford, yang merupakan perawat paruh waktu, mengambil pekerjaan kedua di sebuah perusahaan energi pada April lalu, demi meningkatkan pendapatannya.

Angka yang disajikan Royal London lebih tinggi dari data resmi Kantor Statistik Nasional (ONS), yang menunjukkan sekitar 1,2 juta pekerja Inggris memiliki pekerjaan kedua. Namun, angka dari ONS itu juga menunjukkan bahwa jumlah tersebut mengalami peningkatan selama dua tahun terakhir.

Laju kenaikan biaya hidup kali ini adalah yang tercepat dalam hampir 40 tahun terakhir. Sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga makanan dan energi.

Kenaikan harga-harga menggerus anggaran rumah tangga, dengan tingkat kenaikan harga melebihi upah.

Survei Royal London menunjukkan bahwa satu pekerjaan tidak cukup, bagi jutaan pekerja, karena harga-harga terus melonjak.

Namun, durasi kerja yang lebih lama bukanlah pilihan yang realistis bagi banyak karyawan di Inggris. Lebih dari seperempat (28%) karyawan penuh waktu sudah bekerja lebih dari 48 jam seminggu, menurut penelitian.

Sementara itu, seperlima responden mengatakan mereka bekerja lebih dari 56 jam setiap minggu.

Meskipun bekerja berjam-jam atau banyak pekerjaan, banyak orang masih merasa sulit untuk menghasilkan jumlah uang yang cukup untuk menutupi tagihan.

Hampir sepertiga (31%) responden bahkan harus mengeluarkan uang yang tidak mereka miliki, meminjam atau menggunakan fitur cerukan bank (penarikan dana melebihi jumlah saldo dalam rekening, biasanya untuk rekening giro, bukan tabungan), kata penelitian tersebut.

Biaya hidup kian mahal, warga serahkan hewan piaraan ke organisasi sosial

Pemerintah membatasi kenaikan tagihan energi untuk semua rumah tangga selama dua tahun karena Perdana Menteri Liz Truss mencoba mencegah krisis semakin meluas.

Tagihan energi rumah tangga biasa akan dibatasi pada £ 2.500 (sekitar Rp41 juta) per tahun hingga 2024, meskipun tagihan akan bervariasi, sesuai dengan berapa banyak gas dan listrik yang digunakan.

Namun terlepas dari ini, banyak orang masih mengkhawatirkan keuangan mereka, kata Pennells.

“Meskipun pengumuman pembekuan harga energi pemerintah akan membuat sedikit lega, peningkatan biaya hidup secara keseluruhan sangat mengkhawatirkan, dengan hanya satu dari 10 orang dewasa yang yakin mereka akan mampu mengatasinya secara finansial,” katanya.

Kenaikan biaya hidup tidak hanya berdampak pada keuangan. Menurut survei, lebih dari tiga perlima (64%) orang dewasa mengatakan mereka kewalahan.

Meski demikian, hampir tiga perempat (72%) orang dewasa di Inggris tidak meminta bantuan siapa pun untuk mengatasi krisis biaya hidup.

Royal London menyarankan untuk menghubungi penyedia energi jika warga merasa kesulitan untuk membayar tagihan energi.

Badan amal kemiskinan nasional Turn2us mendesak orang-orang yang khawatir dengan keuangannya untuk mencari bantuan sesegera mungkin.

Badan amal juga merekomendasikan untuk berbicara dengan lembaga-lembaga spesialis perutangan untuk mendapatkan bantuan, di tengah utang yang semakin meningkat. (BBC/dms)

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.