Jejak Religius Ir. Sukarno di Masjid Sunan Gunung Djati Garmini, Cirebon

Masjid Sunan Gunung Jati01

Berlokasi di Jalan Kesambi No.94, Kota Cirebon. Sebuah Masjid dengan warna dominan hijau tua berdiri dengan megah di antara bangunan-bangunan perkantoran dan niaga. Pada bagian depan masjid terdapat sebuah prasasti yang menuliskan sekelumit sejarah masjid tersebut.

OLEH YUDAH PRAKOSO R

NAMA Masjid Sunan Gunung Djati ini atas pemberian nama dari PJM Republik Indonesia, Dr Ir Sukarno atas wakaf Ibu RH Siti Garmini Sarojo Binti R Muchalar Surjaarmadja.

Menurut catatan, peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan oleh Wali Kota Kepala Daerah Tjirebon RSA Prabowo pada tanggal 17-6-1960.

Jajat, aktivis budaya Cirenon menjelaskan, di Cirebon Presiden Sukarno pernah berdialog dengan masyarakat dan di tahun 1960. Pada saat itu, Bung Karno memberikan nama masjid Sunan Gunung Djati sebagai penghormatan dari hadirnya masjid yang tanahnya disumbangkan oleh Hj Siti Garmini Sarojo

Hj. Garmini, istri Sultan Hasanuddin keempat dari Keraton Kanoman, Cirebon, mewakafkan lahan sekitar 500 meter persegi. Di atas tanah wakaf tersebut kemudian dibangunlah sebuah masjid.

Sebelumnya di lahan tempat berdirinya Masjid Sunan Gunung Jati Garmini merupakan tanah persawahan. Lahan itu milik seorang tokoh perempuan Cirebon yang juga aktif di Nadhlatul Ulama (NU) Cirebon.

Jajat mengingatkan catatan sejarah dan budaya jangan dilupakan generasi hari ini. Seiring berjalan waktu ini membuktikan bahwa perhatian sejarah, budaya dan agama dari Bung Karno.

Menurut catatan dari berbagai sumber, Ir. Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia, memiliki peran yang signifikan terhadap Masjid Agung Garmini atau Masjid Sunan Gunung Djati Garmini di Cirebon.

Pada tahun 1950-an, Sukarno memerintahkan restorasi Masjid Agung Garmini yang telah rusak akibat perang kemerdekaan. Restorasi ini bertujuan untuk mempertahankan keaslian arsitektur dan keindahan bangunan masjid.

Sukarno juga memerintahkan pengembangan infrastruktur di sekitar masjid, seperti jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan akses ke masjid dan meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung.

Sukarno mengakui pentingnya Masjid Agung Garmini sebagai situs sejarah dan budaya Islam di Indonesia. Ia memerintahkan agar masjid ini dilindungi dan dilestarikan sebagai warisan budaya nasional.

Presiden pertama Republik Indonesia itu juga memerintahkan pengembangan pariwisata di Cirebon, dengan Masjid Agung Garmini sebagai salah satu objek wisata utama. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan mempromosikan kebudayaan Islam di Indonesia.

Peran Soekarno terhadap Masjid Agung Garmini telah meninggalkan warisan yang signifikan. Sukarno telah melestarikan budaya Islam di Indonesia dengan mempertahankan keaslian arsitektur dan keindahan bangunan masjid.

Pengembangkan pariwisata di Cirebon, yang telah meningkatkan pendapatan daerah dan mempromosikan kebudayaan Islam di Indonesia.

Pengakuan sejarah atas pentingnya masjid Agung Garmini sebagai situs sejarah dan budaya Islam di Indonesia, yang telah meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya nasional.

“Jadi jangan ajari toleransi orang Cirebon, karena sudah lama kami jalankan,” kata Jajat saat mendampingi kunjungan Komisi A DPRD DIY beserta wartawan yang bertugas di DPRD DIY, Senin (17/2).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya menegaskan, pihaknya bersama masyarakat Cirebon selalu menjaga kekayaan budaya dan sejarah yang ada di Kota Cirebon. “Peninggalan sejarah dan budaya harus terus dilestarikan untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan,” katanya.

Peninggalan budaya yang masih dilestarikan di Kota Cirebon hingga kini, misalnya yang ada di empat Kraton yang ada di Cirebon, yaitu Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan. Selain itu, Cirebon juga memiliki peninggalan seni budaya yang masih dilestarikan, seperti batik, topeng, hingga tari.

Ketika kunjungan tersebut Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto menegaskan ada hal yang strategis dan penting dalam proses pendidikan kebangsaan yaitu meneguhkan karakter bagi semua warga termasuk anak muda.

“Ada yang luar biasa, kalau menengok kembali apa yang dilakukan oleh Presiden Sukarno di Cirebon. Kita bisa telusuri warisan beliau, bagaimana meghadirkan Masjid Sunan Gunung Jati di Cirebon dan latar sejarah nya perlu kita gali bersama,” kata Eko Suwanto.

Komisi A DPRD DIY bersama awak media di Yogyakarta, dalam kegiatan kunjungan ke Cirebon menyempatkan untuk melihat sejumlah lokasi bersejarah yang berkaitan edat dengan sinau Pancasila diberbagai daerah.

Eko menyebut tiga aspek penting dari kunjungan yang dilakukan. Yaitu, aspek ilmu pengetahuan harus diikuti dengan riset agar naskah otentik. Juga soal pentingnya pembangunan museum.

Jejak Sukarno yang sudah dikunjungi perlu dibuatkan dokumentasi dalam wujud video dan buku serta bisa dipublikasikan.

Katanya, Pemda DIY ke depan penting merealisasikan kerjasama dengan banyak pihak guna realisasikan sinau Pancasila dan Wawasan kebangsaan.

“Di Cirebon kita lihat bagaimana kerukunan, budaya hadir dalam kehidupan masyarakat yang rukun,” ungkap Eko Suwanto.

Dia menambahkan dalam sejarahnya, relasi Bung Karno dengan Islam dan budaya cukup besar.  Bung Karno, lanjut dia, pernah ada diskusi dengan pemimpin Soviet, kunjungan ke makam Imam Bukhari, membangun Masjid Syuhada, berdialog dengan masyarakat 1960 di Cirebon, serta memberikan nama masjid Sunan Gunung Jati.

Ia pun menyebut, ke depan Pemda DIY perlu mengembangkan museum dan menyampaikan pendidikan sejarah kepada penerus bangsa. “Bung Karno memiliki catatan sejarah besar bagi budaya dan sejarah,” kata Eko .

Umarudin Masdar, Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY menyatakan hadirnya masjid bersejarah yang dipakai Bung Karno, seperti di Cirebon bawa pesan bersejarah. “Bung Karno dengan nasionalisme menyatukan agama dan kebudayaan,” terang dia. 

Usai kunjungan tersebut, pihaknya akan berkomunikasi dengan dinas Kebudayaan DIY tentang perawatan situs-situs bersejarah di DIY agar generasi muda semakin tertarik mempelajari sejarah dan budaya bangsa. ***

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.