Dari Sukatani, Rage Against The Machine, Hingga Kolaborasi Fadli Zon – Ahmad Dhani

Sukatani - Grup Punk Rock

Protes sosial melalui musik sudah lama disampaikan ke publik dari musisi ternama. Terbaru, Sukatani yang mempopularkan lagu Bayar, Bayar, Bayar. Fadli Zon yang kini menteri kebudayaan juga pernah mengritik penguasa lewat sajak yang ditulisnya.


OLEH AKMAL NASERY BASRAL

1/
Pada mulanya lagu menjadi ekspresi artistik manusia dalam memuja Tuhan. Kemudian, untuk memuji keindahan alam lingkungan. Belakangan, sebagai kecaman kepada pemimpin atau institusi yang menyelewengkan kekuasaan.

Contohnya Strange Fruit yang meroketkan nama penyanyi jazz Billie Holiday (lahir: Eleonora Fagan) pada 1939, dan menjadi lagu protes pertama dengan pengaruh signifikan pasca lahirnya industri rekaman.

Syairnya diambil dari sajak Abel Meeropol (nama pena penyair Lewis Allan) yang mengecam sikap rasis pemerintah AS terhadap warga kulit hitam, membuat wajah Direktur FBI, J. Edgar Hoover, merah padam: Southern trees bear strange fruit/Blood on the leaves and blood at the root/Black bodies swinging in the southern breeze. (Pohon-pohon di selatan menghasilkan buah yang aneh/ Darah di daun dan darah di akar/Tubuh-tubuh hitam berayun—dalam keadaan tewas–tertiup angin selatan).

Di Inggris pecah kontroversi besar beberapa hari menjelang perayaan perak 25 tahun Ratu Elizabeth II berkuasa ( silver jubilee ) di tahun 1977. Penyebabnya? Sebuah lagu yang, oh sungguh kurang ajar, menurut standar pendengaran keluarga kerajaan.

Berjudul God Save The Queen karya grup punk Sex Pistols, lagu itu bukan saja diberi judul sama dengan lagu kebangsaan nasional yang sakral, namun dipenuhi syair merendahkan martabat Sri Ratu secara banal: God save the queen/the fascist regime/they made you a moron/a potential H-bomb/God save the queen/she’s not a human being/and there’s no future/and England’s dreaming (Tuhan selamatkan ratu/rezim fasis/mereka membuatmu bodoh/potensi bom nuklir/Tuhan selamatkan ratu/dia bukan manusia/dan tidak ada masa depan/dan impian Inggris).

Lagu Killing in the Name (1992) dari Rage Against The Machine, menukik lebih spesifik membongkar brutalitas empat oknum polisi Los Angeles yang menyiksa warga sipil kulit hitam Rodney King, menyebabkan pecahnya kerusuhan massal di seantero kota. Syair Killing in the Name ditulis oleh gitaris-lirikus Tom Morello, sarjana ilmu politik lulusan Harvard berdarah Kenya dari ayahnya yang duta besar pertama Kenya untuk PBB.

Cuplikan syairnya berbunyi: Those who died are justified/for wearing the badge, they’re the chosen whites/You justify those that died/by wearing the badge, they’re the chosen whites (Mereka yang meninggal dibenarkan/oleh yang memakai lencana, mereka adalah orang kulit putih terpilih/Anda melakukan pembenaran terhadap mereka yang meninggal/karena memakai lencana, mereka adalah orang kulit putih terpilih).

( Fun fact: lagu Killing in the Name merupakan lagu andalan yang selalu dibawakan Voice of Baceprot, trio neng geulis berhijab asal Garut di pelbagai festival musik rock internasional. Tom Morello secara resmi memberikan izin kepada VoB untuk membawakan lagu yang berisi 14 kali kata fxxk dan sekali umpatan motherfxxr diteriakkan panjang pada akhir lagu – sebagai bentuk amarah kepada oknum polisi. Vokalis VoB, Firda Marsya Kurnia, yang bertubuh mungil dan berkerudung, tak pernah melewatkan bagian yang paling ditunggu penonton ini!).

2/
Lagu protes bukan hal baru dalam lanskap musik Indonesia. Iwan Fals, baik sebagai individu atau anggota grup Swami, terbilang paling lantang melontarkan kritik kepada pusat kekuasaan, baik eksekutif maupun legislatif (Surat Buat Wakil Rakyat, 1987), (Bongkar, 1989), atau (Bento, 1989).

Mendiang Harry Roesli juga pernah merilis lagu protes berjudul Malaria (1973) yang menggambarkan rakyat kecil seperti nyamuk yang perlu dibasmi. Titik temu dari kritik Iwan Fals dan Harry Roesli adalah pada sikap otoritarian Orde Baru.

Dari musisi yang lebih muda, seperti grup Efek Rumah Kaca, tercipta Di Udara (2007). Syairnya meminjam sudut pandang aktivitis Munir Said Thalib yang tewas akibat jus jeruk berisi racun senyawa arsenik dalam penerbangan Jakarta – Amsterdam (2004): Aku sering diancam/juga teror mencekam … Ku bisa tenggelam di lautan/aku bisa diracun di udara , tapi aku tak pernah mati/tak akan berhenti.

Bimbim dkk dari Slank ikut meramaikan bursa lagu protes melalui Seperti Para Koruptor, atau Gossip Jalanan (2008) dengan nukilan lirik DPR tukang buat UU dan korupsi. Syair itu membuat Badan Kehormatan (BK) DPR RI ngamuk dan berniat menggugat melalui jalur hukum terhadap para musisi asal Gang Potlott – tak jauh dari Taman Makam Pahlawan Kalibata–kendati akhirnya dibatalkan setelah opini publik lebih memihak Slank.

Daftar lagu protes di Era Reformasi ini bisa lebih panjang lagi. Tetapi untuk tulisan ini dicukupkan dengan contoh dua lagu kolaborasi karya Fadli Zon, Ahmad Dhani dan Sang Alang berjudul “Tangan Besi” dan “Sontoloyo” (2018).

Pada video klip resmi Tangan Besi ada penampilan tiga pesohor lainnya yang ikut menyumbangkan vokal, yakni aktris-penyanyi-pendakwah Neno Warisman, da’i-mantan gitaris metal Derry Sulaiman, dan aktor Fauzi Baadilla. Nukilan syairnya: Kini kau tak malu lagi/topengmu kian terbuka/menampakkan wajah sebenarnya/disaksikan ratusan juta mata/kau adalah penguasa durjana/menindas segala cara/Kau tak segan, tak segan lagi/memberangus diskusi/memperbanyak persekusi/membegal demokrasi.

Sementara pada Sontoloyo, petikan liriknya: Kau bilang ekonomi meroket padahal nyungsep meleset / Sontoloyo / Kau bilang produksi beras berlimpah tapi impor tidak kau cegah/Sontoloyo … Utang numpuk bertambah rupiah anjlok melemah/harga-harga naik merambah/hidup rakyat makin susah/kau jamu asing bermewah-mewah/Sontoloyo, sontoloyo, sontoloyo/

Saat menulis lirik itu, Fadli Zon dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua DPR RI dan Wakil Ketua Umum Gerindra. Kata sontoloyo digunakannya terinspirasi dari kejengkelan Presiden Joko Widodo yang ngedumel tentang “politikus sontoloyo”. ***

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.