Penulis Mas Redjo
Setiap kebijakan diputuskan, muncul pro dan kontra, itu hal yang biasa. Yang kontra beralasan, “Kebijakan yang gegabah, tidak tepat di saat pandemi, seharusnya didiskusikan dulu,” beserta seabrek komentar miring lainnya.
Tidak setuju, tidak sependapat, atau mengkritisi, itu juga tidak salah dan sah saja. Namun, mengkritisi itu bukan berarti berhak untuk menilai, menghakimi, apalagi langsung menyalahkan.
Ketika mengkritisi orang lain, apakah kita lebih paham mengenai bidang yang kita kritisi? Atau, kita lebih hebat dari orang itu?
Cobalah hal yang sama kita tanyakan kepada diri sendiri.
Sekiranya orang lain tidak berhak mengkritisi kita, ya, kita tidak perlu melakukan itu. Kita juga tidak perlu mengumbar kata-kata yang menyakitkan, penuh kebencian, permusuhan, dan berbau SARA.
Apakah tujuan kita berseberangan dengan suatu kebijakan itu agar kita dilirik, diperhatikan, lalu diajak bergabung?
Gara-gara jabatan dan pengin kaya, kita memutus urat malu, bahkan tidak segan untuk menjilat, merendahkan diri, dan menjual martabat keluarga.
Jika memang berkomitmen dan konsekuen, kita tak perlu takut untuk berbeda orientasi politik, kebijakan, atau berseberangan.
Cobalah untuk berani menunjukkan kualitas kemampuan dan kepribadian, bukannya hebat dengan umpatan dan sumpah serapah.
Tunjukkan juga kita mampu untuk membangun negeri ini.
Beri kesempatan kepada pemangku kebijakan untuk menunjukkan kemampuan orang pilihannya.
Jika ternyata salah urus, saatnya kita turun tangan mengingatkan. Tidak dengan menyalahkan, tapi memberi solusi yang tepat guna.
Jangan berkutat dengan hal yang remeh-temeh, apalagi saling menyalahkan. Tapi, kita harus melakukan yang benar.
Saatnya kita bangkit, bekerja, bergandengan tangan, dan bersatu padu untuk membangun negeri tercinta, Indonesia.






