KALIMAT PERTAMA MENJERAT MINAT

MENULIS ITU ASYIK (14)

Oleh BELINDA GUNAWAN

Abaikan pencakar langit yang ada di gambar ini. Fokus ke gedung bata merah dengan jendelanya yang setengah lingkaran. Beberapa waktu lalu bangunan ini beken dengan sebutan Gedung Femina. Di situlah ratusan, ribuan wartawati dan wartawan pernah melewatkan hari-hari mereka. Termasuk aku.

Aku mendarat di grup femina sejak punya satu balita. Waktu berlalu. Dua anak menikah dan memberiku tiga cucu, yang bungsu lahir ketika aku sudah pensiun dan masih datang berkala sebagai coach menulis.

Di situ aku belajar menulis dan kemudian mengajar (sebagai editor mengajar pendatang baru). Sekarang setelah sekian dekade berlalu aku share pengalaman menulis fiksi, dan hari ini sampai seri ke 14. Topiknya: menulis kalimat pertama buat fiksi.

Kalimat pertama itu penting, sebab berfungsi sebagai pengikat perhatian. Haruslah ia menggelitik, membuat orang penasaran ingin membaca terus. Contoh dari sastra internasional, Mrs Dalloway oleh Virginia Woolf. Kalimat pertamanya berbunyi: “Mrs. Dalloway decides to buy the flowers herself.” Kalimat ini menimbulkan tanda tanya: Siapa Mrs. Dalloway? Kenapa ia berniat membeli bunganya sendiri? Memang kenapa, kalau ia membeli bunganya sendiri? Apakah biasanya ada karyawan yang bertugas membeli bunga? Bunga itu untuk keperluan apa?

Kembali ke riwayat pekerjaanku di grup femina. Waktu itu, di Gadis, salah satu dari job description-ku adalah mengasuh rubrik cerpen. Karena hampir tidak ada naskah yang masuk, aku terpaksa membuat “pancingan”.  Lalu kubuatlah cerpen pertamaku.  Aku mengintipnya lagi di buku koleksiku. Ternyata begini:

“Desas desus itu pernah dua kali kudengar. Pertama dari famili jauhku dan kedua, dari bekas pembantuku.”

Sesuaikah kalimat pembuka ini dengan “aturan” di atas, yaitu menggelitik rasa ingin tahu? Mbuh….

Yuk, yuk, para penulis, kita mengintip kalimat pertama masing-masing? Siapa tahu mendapat surprise?

VIRGINIA WOOLF

Virginia Woolf (1882-1941) adalah novelis Inggris, salah satu tokoh sastra modern abad ke 20. Ia menolak disebut feminis, karena baginya itu adalah cap yang menunjukkan obsesi tentang wanita dan permasalahannya. Dia lebih suka disebut humanis.

Ia menulis sejak remaja. Novel pertamanya Melymbrosia diterbitkan dengan judul The Voyage Out pada tahun 1915. Dalam novel-novelnya Woolf bereksperimen dengan berbagai teknik sastra, antara lain stream of consciousness, suatu gaya penulisan yang mencoba menangkap secara bebas proses pemikiran tokohnya, dengan menampilkan kesan-kesan inderawi, ide yang sepotong-sepotong, susunan kata dan tatabahasa yang tidak sesuai pakem.

Perang Dunia II membuatnya menderita depresi, hal mana terlihat pada naskah terakhirnya, Between The Acts yang diterbitkan setelah ia meninggal. Perang membuatnya memutuskan, bahwa bila Inggris diserbu Jerman, ia akan bunuh diri  bersama-sama dengan keluarganya, mengingat suaminya adalah seorang Yahudi. Pada tahun 1940 rumah keluarga Virginia memang dihancurkan oleh serangan Jerman. Ia pun bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri ke dalam sungai Ouse setelah mengisi saku-saku bajunya dengan batu. Jenasahnya ditemukan tiga minggu setelahnya. 

Karyanya yang paling dikenal adalah Mrs. Dalloway, To The Lighthouse, Orlando, dan esai A Room of One’s Own

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.