Kemiskinan Warga Semakin Kentara di Seantero Jerman

Kemiskinan di Jerman

Jerman termasuk salah satu negara terkaya di dunia. Tapi kemiskinan semakin kentara di seluruh negeri. Jumlah tunawisma meningkat, para ibu terpaksa tidak makan agar perut anak-anak mereka bisa terisi, para pensiunan terpaksa berkeliling mencari botol bekas untuk dijual guna menutupi kekurangan kebutuhan hidup mereka. Secara statistik 30 persen warga Jerman terancam kemiskinan

MELONJAKNYA harga makanan dan energi makin memperlebar kesenjangan sosial di Jerman. Pelajar, pensiunan dan orang tua tunggal termasuk yang paling terpukul dampak inflasi. Deutsche Welle melaporkan.

Pada tahun 2021, Jerman menduduki peringkat 20 negara terkaya di dunia, diukur dari Pendapatan Domestik Bruto per kapita. Namun sekitar 13,8 juta orang Jerman hidup dalam kemiskinan atau berisiko miskin, demikian laporan Paritätische Wohlfahrtsverband, organisasi payung di Jerman yang membawahi sejumlah lembaga kesejahteraan. Pemerintah Jerman juga prihatin dengan kian lebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin.

Dalam konteks ini, miskin bukan berarti bahwa jutaan orang di Jerman berisiko mati kelaparan atau tewas kedinginan. Kemiskinan di sini mengacu pada kemiskinan relatif, yang diukur dengan kondisi kehidupan rata-rata masyarakat di negara yang bersangkutan.

Di Eropa, meskipun orang yang hidup dalam kemiskinan absolut jumlahnya relatif sedikit, jutaan orang tetap terpengaruh oleh apa yang disebut kemiskinan relatif dibanding rata-rata kesejahteraan nasional. Ini berarti mereka hidup sangat pas-pasan, dan hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan membatasi gaya hidup ke hal-hal yang sangat mendasar.

Di Uni Eropa, seseorang dianggap miskin atau berisiko miskin jika pendapatannya kurang dari 60% dari median pendapatan di negaranya masing-masing. Untuk Jerman, ini berarti bahwa seorang lajang yang berpenghasilan kurang dari €1.148 (Rp16,7 juta) per bulan dianggap berada di bawah garis kemiskinan.

Untuk orang tua tunggal dengan satu anak, angka batasnya adalah €1.492 (Rp21,7 juta), dan untuk rumah tangga dengan dua orang tua dan dua anak, batas miskin adalah pndapatan sebesar €2.410 atau sekitar 35,15 juta rupiah per bulan.

Jerman menganggap negaranya punya jaring pengaman sosial yang kuat. Siapa pun yang menganggur, atau tidak dapat bekerja, akan menerima jaminan sosial dasar. Sistem ini dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai Hartz IV. Uang ini untuk membantu menutupi biaya hidup dasar seperti sewa tempat tinggal, listrik dan air serta asuransi kesehatan.

Dalam sistem ini, individu dan orang tua tunggal yang berhak akan mendapat bantuan pemerintah sebesar €449 per bulan untuk membeli makanan, pakaian, barang-barang rumah tangga, produk kebersihan pribadi, dan tagihan seperti internet, telepon, dan listrik. Ada juga bantuan tambahan untuk setiap anak, tergantung umur mereka.

Tuna wisma di Jerman. Kehilangan tempat tinggal, tidak cukup uang untuk beli makanan dan anak anak – akhirnya hidup di jalan . foto Shamsan Anders/DW

Hartz IV dan program kesejahteraan publik lainnya telah berulang kali dikritik di Jerman karena hanya memenuhi kebutuhan yang paling dasar.

Ketika inflasi meroket di Jerman, semakin sulit bagi banyak orang untuk membeli roti, susu, buah, dan sayuran, yang kini harganya naik lebih dari 12% dibandingkan tahun lalu. Pada tahun 2020, sekitar 1,1 juta orang memanfaatkan bantuan dari bank makanan. Jumlah itu kini mendekati 2 juta.

Kemiskinan juga meningkat di kalangan warga lanjut usia. Uang pensiun bulanan mereka sering kali tidak cukup untuk menutupi semua pengeluaran. Pensiunan perempuan khususnya merasakan dampak ini, karena dulu saat aktif bekerja mereka cenderung bekerja paruh waktu untuk berbagi waktu dengan keluarga dan dibayar lebih rendah.

Menurut sebuah studi terbaru dari Bertelsmann Foundation, kemiskinan usia lanjut diperkirakan akan memengaruhi 20% orang Jerman pada tahun 2036.

Orang dengan pensiunan di bawah ambang batas tertentu boleh mengklaim bantuan pemerintah. Namun, banyak yang tidak melakukannya karena enggan terlihat seperti orang yang butuh bantuan. Studi menunjukkan bahwa dua pertiga dari para pensiunan yang berhak mengklaim bantuan merasa segan untuk mengklaim.

Seringnya, para pensiunan ini lebih berusaha untuk bisa kembali ke dunia kerja, atau mengumpulkan kaleng dan botol bekas dengan deposit yang dapat ditukarkan seharga beberapa sen euro di sejumlah supermarket, untuk kemudian hasilnya dibelanjakan sesuai kebutuhan mereka.

Tulang sudah terbanting, tetap miskin juga

Di Jerman, jumlah orang yang tidak bisa hidup layak hanya dengan mengandalkan penghasilan mereka juga meningkat. Ini juga dialami mereka yang punya pekerjaan penuh waktu, bahkan dengan kenaikan upah minimum baru-baru ini.

Dengan bayaran upah minimum €12 (sekitar Rp175,000) per jam, satu orang tanpa anak yang bekerja 40 jam seminggu akan menerima penghasilan bersih sekitar €1.480 per bulan. Secara teori, jumlah ini sudah lebih tinggi dari batas garis kemiskinan, tapi inflasi memakan habis kelebihannya.

Para pelajar juga sangat terpengaruh oleh situasi ini, terutama mereka yang menerima dana bantuan federal. Siswa-siswa ini menerima “beasiswa” maksimum €934 sebulan, termasuk uang untuk perumahan dan asuransi kesehatan. Bila merujuk angka definisi kemiskinan di atas, para siswa ini berada jauh di bawah garis kemiskinan.

Pemerintah Jerman berencana untuk menggelontoran anggaran senilai €200 miliar untuk meredam dampak harga energi yang melambung tinggi. Namun, volume anggaran bantuan ini dinilai jauh dari cukup untuk membayar semua biaya tambahan, dan para ekonom percaya bahwa inflasi akan tetap tinggi.

Kehidupan di Jerman akan tetap mahal di masa mendatang. Ini terutama akan sangat dirasakan terutama oleh mereka yang tidak memiliki pondasi finansial yang kuat dan hanya sedikit tabungan. DW/dms.

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.