Kenangan Kecil Bersama Mas Arswendo Atmowiloto

ARSWENDO

Oleh RAHAYU SANTOSO

Rahayu Santoso

Membaca tulisan Mbak Rieke Senduk di Seide.id tentang almarhum Arswendo Atmowiloto, saya pun memutar sebuah kenangan.  Sebab, saya kenal Mas Wendo  sejak muda. Saya  masih duduk di SD tahun 60-an.

Saya tidak tahu, mengapa beberapa hari terakhir ini kepengin menulis tentang secuil kenangan bersama Mas Wendo. Tapi saya mikir, ‘’Ah, kenangan tidak berarti dibanding kenangan teman-teman yang lain. Apa layak?’’ begitu kata hati saya.

Tapi begitu membaca tulisan Mbak Rieke Senduk, tangan saya tergerak menuliskannya. Biar saja kenangan tak berarti ini saya tulis. Mungkin  dari  alam sana, Mas Wendo minta saya menulis sedikit kenangannya ketika sering mampir ke rumah saya di Madiun. Mungkin biar melengkapi kisah hidupnya hehehe. ‘’Tulisen yo le (begitu biasanya dia memanggil saya), sesuk honore  tak tambahi tak titipke Harry Tjahjono,’’  kira-kira begitu kata Mas Wendo, hehehe.

Waktu itu Mas Wendo masih belia dan jadi wartawan muda di Koran Dharma Kanda, Solo. Dharma Kanda punya Pak Tukidjan Marto Atmodjo. Saat itu laris manis. Bukan karena beritanya bagus, atau bukan juga karena termasuk koran berbahasa Jawa, jadi nyaris tak ada pesaing. Tapi koran itu dinilai masyarakat, ramalan nomor buntutannya  paling jitu.

Masyarakat yang saat itu tergila-gila dengan nomor buntutan, selalu menunggu hadirnya Dharma Kanda setiap minggu. Termasuk juga warga Madiun yang mengadu untung lewat nomor undian.

Masa itu memang buntutan sedang marak-maraknya. Apalagi penjualannya juga bebas, mengikuti Nalo (Nasional Lotre). Ditambah lagi di tahun enampuluhan , ekonomi kita terpuruk. Maka harapannya adalah beli buntutan.

Arrswendo Atmowiloto bersama mantan pengelola tabloid Monitor dan Bintang Indonesia

Saat itu memang banyak orang menjual ramalan. Di Jalan Barito Madiun setiap malam ramai orang jual ramalan stensilan. Bahkan ada yang dimasukkan amplop yang dikenal sebagai Kode Amplop. Harganya pasti lebih mahal.

Namun begitu, banyak orang yang menilai ramalan yang ada di Dharma Kanda paling jitu. Karena banyak yang tembus, entah 2 atau tiga angka lumayan. Karena kalau tembus 2 angka berarti dapat 60 kali dari taruhannya.

Saking larisnya, koran itu sampai membuka kantor perwakilan di Madiun. Kebetulan tante saya, Sriwulan, menjadi Kepala Perwakilan. Wartawan satu-satunya di Madiun adalah almarhum Pak Dul Karim. Dan kantornya menggunakan paviliun rumah nenek saya di Jalan Sawo 18 Madiun.

Selain itu, tante saya satunya Endang Palupi, jadi bagian adminnya. Saya yang waktu  itu  SD, ikutan nyambi loper. Lumayan juga hasilnya. Bisa untuk jajan.

Karena jatah koran  di Madiun cukup besar. Maka owner Dharma Kanda sering berkunjung ke Madiun. Ia  naik mobil Impala warna merah yang saat itu termasuk mobil paling mewah. Baru lagi. Biasanya, Pak Tukidjan didamping seorang anak buahnya, yang dikenal dengan nama  Arswenda Atmowiloto. 

Saya suka kalau Mas Wendo ke Madiun. Ia  suka guyon, termasuk dengan saya yang masih kecil. Lebih seneng  lagi saya mesti disuruh membelikan rokok. Pasti kembaliannya disuruh ambil. ‘’Gae tuku es yo le,’’ begitu dia memanggil saya dengan sebutan khas ‘’Le’’.

Hubungan Mas Wendo dengan keluarga saya sangat akrab. Selain bersama  Pak Tukidjan, ia  kadang juga ke kantor perwakilan sendiri. Tentu saya tak tahu urusannya. Yang saya tahu, setelah urusan selesai kita semua diajak dan ditraktir minum es dan makan rujak petis di warung es Mbah Ti, di sebelah timur kantor.

Arswendo Atmowiloto menerima Piala Maya untuk lagu Harta Berharga theme song film Keluarga Cemara

Lama kelamaan saya agak paham, dan menduga mungkin saja Mas Wenda naksir tante saya Endang Palupi yang memang cantik menik-menik kayak tacik hehehe. Tante saya juga sering nggojloki, ‘’Wong nylekutis ngene kok dadi wartawan,’’ begitu guraunya.

Saya sendiri kurang paham  apa arti ‘’nylekutis’’ dalam bahasa Indonesia. Tapi kemungkinan karena orangnya kecil dan dekil dengan rambut dhawul-dhawul. Mas Wendo sendiri tak pernah marah dengan guyonan tante saya. Ia hanya membalas dengan tertawanya yang khas, ‘’ngakak’’.

Dhama Kanda meredup, terjadi perpecahan di dalam. Ada kalangan muda yang dipandegani oleh N Sakdani Darmo Pamudjo mundur. Termasuk Mas Wendo ikut gerbong para pembaharu. . Mereka kemudian menerbitkan Dharma Nyata.

Sejak itu saya sudah tak mendengar lagi tawa cerianya. Juga tak dapat jatah kembalian pembelian rokok lagi. Karena Mas Wendo sudah tak pernah lagi ke Madiun. Jadi anggapan saya dia naksir tante saya ternyata salah.

Dharma Kanda tak hanya meredup, bahkan hancur. Apalagi sudah tak bisa lagi memuat ramalan nomor buntut. Lantaran Nalo juga dihapus pemerintah. Kantor perwakilan Madiun pun ditutup.

Seiring perjalanan waktu, ketika saya sudah jadi wartawan, saya selalu mengikuti jejak  langkah Mas Wendo. Meski tak sekali pun pernah bertemu. Tapi setidaknya saya tahu, dia mandegani Tabloid Monitor. Termasuk saat dikotak sama rezim orde baru.

Ada satu karyanya saat di rutan Salemba yang saya sukai. Yakni berjudul Surkumur, Mudukur, dan Plekenyun. Karena banyak hal lucu yang ditulis. Namanya juga wartawan. Dalam kondisi apa pun masih bisa mbanyol. Masih bisa melihat sesuatu dari sisi yang lucu.

Semoga di alam sana Mas Wendo membaca tulisan ini dan ingat saya yang sering disuruh beli rokok.*

Avatar photo

About Rahayu Santoso

Penulis, editor, studi di Akademi Wartawan Surabaya, tinggal di Madiun