Cerpen
“Masih lama, Ma?”
Melihat aku masih menutul-nutul hape, ia bertanya lagi, “Dibatalin?”
“Tenang, Arlyta, sudah dapat lagi. Mmmm… 15 menit. Sabar aja, toh kita menunggu di rumah, bukan di jalan.”
Si ‘belalang sembah’ berjalan bolak-balik di depanku, memamerkan ketidaksabarannya. Aku menjulukinya begitu sebab ia kurus dan jangkung. Baru 10 tahun, tapi sudah setelingaku. Ia lebih tinggi dari rata-rata teman sekelasnya. Mungkin itu yang menyebabkan ia sedikit membungkuk kalau berjalan, sehingga sering kutegur, “Berdiri tegak, Arly, jangkung itu bagus, tahu?”
Setelah akhirnya kami naik ke taksi pesanan pun, mood-nya masih jelek. Dia bahkan bertanya padaku, “Ma, kenapa sih kita gak punya mobil? Kita miskin, ya?”
“Ssssttt,” bisikku, sambil telunjukku menunjuk ke belakang kursi pengemudi. Dia terdiam dengan wajah tidak puas.
Tak sampai setengah jam kami sudah sampai di mal. Ia masih penasaran. “Kenapa tadi Mama suruh aku diam?”
Kujelaskan, bahwa membicarakan soal kaya-miskin di depan orang lain, termasuk pengemudi taksi online, itu tidak peka.
“Dan sekarang Mama bisa jawab?” desaknya.
“Oke Mama jawab. Harga mobil mahal, lagipula kita belum perlu membelinya. Toh kita bisa ke mana-mana naik kendaraan umum, dan kamu juga tidak sampai berjalan kaki ke sekolah. Ada mobil angkutan. Dan tidak, kita tidak miskin.”
Lalu kutambah, sekalipun di luar konteks pembicaraan, “Tegak, Arlyta.”
“Jangkung itu bagus, tahu?” ia menambahkan, menyindir kebiasaanku mencereweti sikap tubuhnya.
Di depan lift kami menunggu cukup lama. Saat pintu terbuka, kulihat beberapa penumpang bergegas turun dan sisanya beringsut menepi untuk memberi jalan pada kursi roda. Seorang wanita seusiaku yang berpakaian keren dan membawa tas bermerek mendorong kursi roda itu. Yang duduk di situ bukan lansia melainkan seorang gadis cilik sebaya Arlyta. Dari balik selimut yang tersingkap, menjulur sepasang kaki kurus
.
Arlyta menatapnya begitu intens dan terang-terangan sehingga aku merasa risih. Kutarik sedikit ujung rambutnya hingga ia menengok ke arah lain. Ia melotot ke arahku.
“Mama kenapa?” tuntutnya setelah kami masuk ke dalam lift.
“Tidak sopan menatap orang sampai segitunya,” kataku.
“Karena …keadaannya?”
“Ya.” Aku lega ia tidak menyebut kata cacat.
“Ia cantik, Mama.”
“Ya, cantik. Hanya saja ia kurang beruntung tidak bisa berdiri tegak dan berjalan.”
“Tidak seperti aku.”
Kami pun masuk ke toko sepatu yang hanya berbelok sedikit dari lift. Aku sengaja mengarahkannya ke sana karena tahu ada diskon gede. Belum setahun, sepatu Arly sudah kesempitan lagi.
Kami mencari-cari sepatu hitam polos yang tidak ada campuran warna sedikit pun. Satu setrip warna putih pun tidak boleh. Dan talinya harus hitam pula.
“Sekolahmu cerewet amat sih,” kataku mengomel ringan.
“Tau tuh.”
Untunglah sepatu yang hitam-tam itu akhirnya kami temukan.
“Coba dua-duanya, Arlyta, lalu jalan bolak-balik. supaya ketahuan, nyaman atau tidak.”
Kelihatannya ia puas, karena sorot wajahnya damai. Di sisi lain aku agak takjub melihat caranya berjalan. Ada sedikit perubahan.
Waktu akhirnya ia berdiri di depan cermin dan aku menjejerinya, kulihat tingginya sudah melampaui bagian bawah telingaku. “Kamu semakin jangkung,” kataku. “Oh, karena kau berdiri tegak. Begitu dong.”
Kali ini ia tidak menyambung kalimatku lagi. Malah ia bilang, “Mama, kita kaya. Aku tidak kurang suatu apa. Tidak seperti…anak itu.”
Aku memeluk belalang sembahku. Dan aku menahan diri untuk tidak kebawelan lagi soal sikap tubuhnya. Dia sudah paham sendiri.






