Ketika Al Qur’an Hanya Sampai di Tenggorokan

Ayat ayat dijual-belikan, dijadikan sumber nafkah untuk foya foya, menambah isteri, dijadikan alat politik untuk meraih jabatan dan kekuasaan, dijadikan modus untuk memperkosa dan membunuh. Juga menghalalkan darah sesama dan mengkafirkan orang lain.

Oleh DIMAS SUPRIYANTO

SEMOGA Anda berpikiran seperti saya. Bahwa seorang guru agama adalah yang paham ilmu agama dan mempraktikkan agamanya, karena dalam kegiatan sehari hari itulah yang diajarkan olehnya. Bahwa pengasuh pondok pesantren melebihi itu, karena bukan hanya memimpin santri melainkan juga guru dan ustadz yang mengajar di sana. Pembimbingnya para pembimbing – dengan pengetahuan agama yang lebih mendalam. Lebih berpengalaman dan ilmu lebih tinggi dan jauh.

Semoga Anda juga berpikiran seperti saya. Bahwa gadis gadis pondok di pesantren, bukanlah gadis kota yang sengaja pamer aurat untuk menarik perhatian lawan jenis, melainkan tertutup sekujur tubuhnya, bahkan mengenakan penutup kepala, berhijab, dan terjaga siang dan malamnya, kecuali di dalam kamarnya.

Tapi mengapa ada guru agama dan pengasuh pesantrean justru merusak mereka. Kehilangan akhlaknya? Menjadikan mereka sebagai obyek pelampiasan seks? Dan mereka yang jadi target masih “bau kencur” – yang masih memerlukan bimbingan asuhan dan perlindungan.

Saya membaca artikel yang ditulis oleh Abdullah Alawi, di laman Islam.nu.or. dengan topik “Orang yang Membaca Al-Qur’an Hanya Sampai Tenggorokan” (2018)

Pada zaman Nabi Muhammad SAW setelah perang Hunain – demikian tulis Abdullah Alawi – umat Islam mendapat harta rampasan (ghanimah) yang banyak. Dapat sapi, unta, kemudian dibagi-bagi di Ja’ronah. Namun, baru kali ini Nabi membaginya secara aneh, para sahabat Nabi yang senior tidak mendapat bagian. Hanya para muallaf (orang yang baru masuk Islam) yang mendapatkannya. Pembagian yang dilakukan Nabi tersebut, meski tidak dipahami sahabat, mereka memilih diam karena semua tahu itu perintah Allah subhanahu wata’ala. Nabi selalu dibimbing wahyu dalam tindakannya.

Namun, tak dinyana, ada orang yang maju ke depan melakukan protes. Sahabat tersebut, perawakannya kurus, jenggot panjang, jidatnya hitam, namanya Dzil Khuwaisir.

“I’dil (berlaku adillah) ya Muhammad, bagi-bagi yang adil Muhammad,” begitu kira-kira protesnya. “Celakalah kamu. Yang saya lakukan itu diperintahkan Allah,” tegas Nabi Muhammad. Orang itu kemudian pergi.

Nabi Muhammad mengatakan, nanti dari umatku ada orang seperti itu. Dia bisa membaca Al-Qur’an, tapi tidak tidak paham. Hanya di bibir dan tenggorokan. “Saya tidak termasuk mereka. Mereka tidak termasuk saya,” ungkap Nabi Muhammad.

Tahun 40 H Sayiydina Ali bi Abi Thalib dibunuh bukan oleh orang kafir, melainkan orang Muslim, namanya Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi, dari suku Tamimi. Pembunuh itu ahli tahajud, puasa, dan penghafal Al-Qur’an.

Ali dibunuh karena dianggap kafir. Pasalnya Ali dalam menjalankan pemerintahannya tidak dengan hukum Islam, tapi hukum musyawarah.

Sang pembunuh menggunakan ayat Waman lam yahkum bi ma anzalallahu fahuwa kafirun sebagai sandaran perbuatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ “Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Dari kelompok orang ini (orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An-Najdi), akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad.” (HR Muslim 1762).

Kalimat “mereka yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan atau tenggorokan” adalah kalimat majaz atau kiasan. “Tidak melewati kerongkongan” kiasan dari “tidak sampai ke hati”. Artinya membaca Al-Qur’an, tapi tidak menjadikan mereka berakhlakul karimah.

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda. “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad) Begitu pula kalimat yang artinya tidak sampai melewati batas tenggorokan adalah kalimat majaz. “Tidak sampai melewati batas tenggorokan” kiasan dari “tidak sampai ke hati” artinya tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar.

SAAT INI, di abad 21 ini, apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammad SAW terjadi. Di hati sebagian guru agama, ustadz dan pimpinan pondok pesantren juga para pendakwah, Al Qur’an hanya sampai di tenggorokan. Ayat ayat dijual-belikan, dijadikan sumber nafkah untuk foya foya, menambah isteri, dijadikan alat politik untuk meraih jabatan dan kekuasaan, dijadikan modus untuk memperkosa dan membunuh. Juga menghalalkan darah sesama dan mengkafirkan orang lain.

Cukup memahami Al Qur’an ala kadarnya saja, tak perlu mendalam, bahkan dengan akal sehat saja – sudah menegaskan bahwa remaja 13 – 19 tahun yang sedang mondok di pesantren bukan obyek seks. Terlarang hukumnya.

Bahwa pembunuhan dan menghalalkan darah atas nama agama karena perbedaan paham sungguh terlarang. Haram juga. Bahwa label “kafir’ dan “murtad” itu wewenang Allah, bukan manusia. Bahwa menista agama dan sesembahan penganut agama lain di sekitar kita, yang dianut saudara sebangsa kita, menunjukkan manusia tidak berakhlak. Bukan umat Nabi Muhammad SAW.

Tapi – itu yang terjadi di hari ini.

Pernyataan Kasad eks Pangdam Jaya Jendral Dudung Durachman terbukti, belajar agama jangan terlalu mendalam jika membikin orang jadi orang fanatik. Karena membunuh akal sehat. Menghilangkan kewarasan. Orang orang yang paham agama dan Al Quran malah bikin kejahatan yang super edan.

Dan itu terjadi. **

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.