KETIKA ia terpilih untuk menjadi kontestan di “Afghan Star”, Ayesha meninggalkan rumahnya dan tinggal di sebuah hostel. Ia tahu keluarganya tidak akan setuju bila ia ikut serta dalam acara itu.
“Kontes Afghan Star sangat populer di negara ini,” kenangnya. “Saya tahu
keluarga saya tidak akan memberikan izin jika saya memintanya.”
SEJAK keadaan menjadi semakin buruk setelah Taliban merebut kekuasaan Ayesha mengatakan ia jadi susah tidur. Ia mengkhawatirkan teman-temannya yang “menghadapi banyak kesulitan dan ancaman” dari kelompok tersebut.
“Mereka tidak bisa pergi ke mana-mana, bahkan di jalanan depan rumah mereka sendiri. Mereka sangat patah hati, hancur,” katanya.
“Bukan keputusan yang mudah untuk memberikan wawancara dalam situas saat ini, tetapi saya ingin berbicara untuk semua teman dan seniman lain yang tinggal di bawah ancaman di Afghanistan,” imbuhnya.
Ia ingin mengirim pesan kepada Taliban – bahwa Afghanistan adalah “milik semua orang Afghanistan”.
“Afghanistan bukan milik Taliban. Taliban harus mengizinkan perempuan untuk hidup dengan hormat dan bermartabat dan dengan hak-hak dasar mereka.”
Ayesha juga memiliki pesan untuk dunia :. “Orang-orang seusia saya merasa sangat tidak terlindungi dan oleh karena itu saya dengan rendah hati meminta dunia untuk berdiri untuk membantu kami mendapatkan kebebasan kami kembali.”
Setelah wawancara kami berakhir, Ayesha menangis. Kemudian ia mulai bernyanyi dalam bahasa Urdu.
Sembari memikirkan nasib nestapa Ayesha, saya sungguh beruntung karena kita di Indonesia tidak perlu ada orang yang bernasib nestapa seperti Ayesha. Kita memiliki Sri Rossa, KrisDa, Raisa, Isyana, Maudy Ayunda, yang bisa mewujudkan impian menjadi bintang
yang dibanggakan oleh generasinya. ***






