Aisha dibawa ke pegunungan di daerah Uruzgan yang jauh dari kediaman penduduk. Beberapa tentara Taliban mengelilingi Aisha. Tangan Aisha diikat di belakang, tubuhnya berjongkok dan menunduk ke tanah.
Saat itulah pisau suaminya menebas hidung dan telinga Aisha disaksikan para lelaki perkasa dengan pedang dan senapan terrhunus. Tubuh Aisha pingsan seketika, dan ditinggalkan begitu saja.
Beberapa penduduk sekitar menyebutkan, orang Taliban sengaja membiarkan wanita itu pingsan hingga kehilangan darah sampai mati dan akhirnya dijadikan makanan anjing, yang sudah siap menunggu.
Kisah mengerikan ini pernah didengar Aisha dan justru saat ia akan pingsan, ia mencoba bertahan hidup. Antara sadar dan tidak, ia mengupulkan segala kekuatan fisik dan pikirannya untuk segera bisa bangun. Berkat bantuan tim Rekonstruksi Provinsi Amerika di Oruzgan dan Organisasi Women for Afghanistan ( WAW), Aisha diselamatkan, dirawat dan mendapat perlindungan yang ia butuhkan.
Aisha hanyalah salah satu dari sekitar 90% wanita Afghan yang menjadi korban kekerasan dalama rumah tangga ( KDKRT) maupun penyiksaan kelompok Taliban. Anggota Dewan WAW bahkan menyebut apa yang dilakukan terhadap Aisha ini tidak lebih dasyat dari yang diterima perempuan lain yang disiksa sedemkian rupa.
Bibi Aisha bercerita ini dengan sorot mata tajam, terpesona. Perempuan ini memancarkan kekuatan dan kepercayaan yang kuat untuk bertahan hidup melalui berbagai tantangan.
Saat dia bercerita, semua orang larut dalam semangat yang terpancar dari intonasinya yang menyebarkan simpati dan keberaniannya dalam menghadapi kekerasan paling sadis yang bisa diterima perempuan manapun juga di dunia ini.
Aisha bahkan masih bisa bercerita ketika mengenang peristwia tragis itu,” Saat suami saya dengan sorot mata dingin memotong hidung dan telinga saya, saya memang pingsan. Saya merasakan ada air dingin yang mengalir di hidung. Saya membuka mata, tapi saya tidak bisa melihat apa-apa, karena darah ada dimana-mana, seakan saya berada dalam danau dengan air berwarna merah, ” ujar Aisha mengakhiri kisah tragisnya.
Saat ini, ketika pasukan Taliban berkuasa kembali di Afghanistan, kisah Bin Aisha ini menimbulkan trauma kembali pada perempuan Afghan. Sepertinya, impi buruk bagi semua perempuan di Afghanistan bisa terjadi lagi. ( ms)






