Laba-laba

Seide. Suatu ketika seorang anak kecil, keponakan temanku, lengannya tersengat laba-laba hingga agak bengkak. Ibu temanku, neneknya, lalu menangkap, ‘menyampluk’ laba-laba itu dengan sandal, plook!. Laba-laba yang sudah mati dan gepeng itu dibalurkan ke tentang bengkak lengan cucunya.

Ajaib, tak lama kemudian, bengkak di lengan keponakan temanku itu mengempis. Aku bertanya secara berbisik:.. “Pssst, ..how come…?” Temanku mengangkat bahu. “Well, mungkin kebetulan, atau, bolehjadi juga ilmiah. Sengatan laba-laba itu, beracun. Nah, ibuku menganggap, jika demikian, pasti laba-laba itu juga punya anti racun di tubuhnya. Itulah logika sederhananya”.

Dunsanak, berapa jenis laba-laba yang dunsanak ketahui? 4, 5, 10, 20? Pasti ada yang bilang: “Wuiiih.., 10, 20?, .. banyak bangeeet. Mengingat dan menyebut 4 atau 5 aja, harus ‘mengorek-ngorek’ memori dulu”, .. hahaha. Setelah mengerahkan memori, rasanya cuma 4 jenis saja berkelebat. 2 jenis laba-laba rumahan, jenis tarantula dan black widow.

1 Laba-laba rumahan. Kerap terlihat di sudut atas lemari yang menempel pada dinding. Berwarna abu-abu tua bergaris putih. Orang Betawi menyebutnya Gonggo. Itulah Laba-laba yang menyengat lengan keponakan temanku. Jenis laba-laba ini jarang kita lihat menggelantung, lebih sering melompat, tubuhnya ringan sekali, seperti terbang.

Gonggo ini termasuk jenis laba-laba suka ‘keluyuran’ mencari mangsa. Tidak seperti laba-laba lain yang umumnya sabar menunggu mangsa terjerat di jaringnya.

2 Laba-laba ini kerap ujug-ujug bergelantungan dari langit-langit rumah. Jika kepergok oleh kita, sang laba-laba berwarna abu-abu hampir hitam, berubuh kecil itu, segera dengan cepat, memanjat ‘tali’ jaringnya.

3 Tarantula, bertubuh besar. Bisa hampir sebesar telapak tangan orang dewasa. Bisa menangkap belalang, jangkrik, bahkan burung kecil dan…tikus.

4 Black Widow. Ini jenis laba-laba terkenal. Disebut black widow, karena laba-laba cantik, berwarna hitam dengan bintik-bintik merah di bagian atas perutnya ini, kerap menyantap pejantan pasangannya, yang lelah setelah mencumbunya. Sepertinya laba-laba jenis ini yang menyengat si Peter (lengkapnya Peter Benjamin Parker) sehingga menjadi Spiderman.

4 jenis laba-laba yang aku blanyongkan itu pun, yang 2, tarantula dan black widow, tak pernah kulihat langsung, hanya dari tayangan Natgeo atau bacaan saja.

Ternyata jenis (species?) laba-laba di seluruh dunia ada… (siap-siap terkejut, ..tapi tak terkejut pun tak apa) sekitar 40 ribuan! Itu jenis lho, bukan jumlah ‘personalnya’ (haha). Nah, dari 40 ribuan jenis itu terbagi dari sekitar 100 lebih suku.
Suku? Yak, suku. Begitulah kata ilmuwan.

Dalam dunia serangga, konon ada istilah yg disebut: 3 bagian tubuh. Kepala, dada dan perut. Contoh yang mudah untuk diamati adalah semut. Tapi, laba-laba hanya mempunyai 2 bagian saja. Kepala yang menjadi satu bagian dengan dada, lalu perut.

Suatu kali, aku salah duga. Sekilas kulihat baik ukuran dan warnya, sangat mirip-rip, plek-ketiplek dengan semut rangrang. Setelah aku amati sang serangga melompat dan mengeluarkan serat, …wuiiih ternyata… laba-laba!

2 sungut di kepala ‘semut rangrang jadi-jadian’ itu adalah 2 kaki depan yang ‘jika dibutuhkan’ akan diposisikan sedemikian rupa sehingga posisinya berada di kepalanya. Semut memiliki 3 pasang kaki, sementara laba-laba, 4 pasang kaki. Pasti ada sebab dan gunanya mengapa laba-laba itu sampai menyamar jadi semut rang-rang? Mau bertanya, aku tak mengerti bahasa laba-laba atau bahasa semut rangrang. Biarlah para ilmuwan saja menjawab misteri itu.

Laba-laba, dari semua jenis itu berbisa. Ukurannya beragam. Mulai dari yang ukurannya kecil sekali, tak lebih besar dari wijen, sampai sedikit lebih kecil dari telapak tangan orang dewasa.

Eh, tahu ‘kan wijen? Ah, gak tahu, busyet.., Itu lho.., butiran yang menempel di kue onde-onde.

Semua jenis laba-laba, berbisa. Ada beberapa jenis yang bisa racunnya cukup berbahaya bagi manusia, tapi tak sampai mematikan. Bisa itu bukan digunakan untuk berkelahi, tapi untuk menyuntik serangga calon mangsanya.

Laba-laba tak punya gigi untuk mengunyah. Bisa yang disuntikkan ke tubuh serangga calon makanannya itu, selain racun, juga sekaligus menyemprotkan semacam enzim yang bisa membuat organ tubuh mangsanya meleleh.

Meleleh beneran buka meleleh istilah anak milenial yang artinya ‘klepek-klepek’ karena kagum atau naksir lawan jenis. Lalu, setelah meleleh, sang laba-laba tanpa sedotan, menyedot seluruh cairan saripati tubuh mangsanya.

Semua laba-laba, baik yang di pohon, di sudut-sudut rumah, di bangunan-bangunan tak berpenghuni, atau di lubang-lubang dalam tanah, semua bisa menghasilkan serat halus, tapi luar biasa kuat dan mempunyai semacam zat perekat untuk membuat jaring dan menjerat mangsa.

Serat-serat halus dan luar biasa kuat sehingga bisa membuat sang laba-laba menggelantung itu, sampai sekarang masih selalu membuat penasaran para ilmuwan. Dari ‘bahan’ apa, sang laba-laba ‘membuat’ serat-serat itu yang seperti tak habis-habis keluar dari perutnya?

Seandainya saja, para ilmuwan bisa meniru membuat semacam tali serat yqng luar biasa kuat mirip serat laba-laba itu, ..tentu sangat berguna bagi (ke)manusia(an).

Pendeknya, secara stereotype, laba-laba adalah karakter yang diam, cantik, agak menakutkan, misterius, sabar menunggu sambil mengamati dari suatu sudut sampai calon mangsa terjerat sarangnya. Tapi kenapa dalam komik, yang kemudian dibuat fim, manusia yang disengat laba-laba sehingga menjadi Spiderman, kok malah berkarakter pecicilan..?

(Aries Tanjung)

Adele