Legenda Pintu Bledeg Buatan Ki Ageng Selo

Seide.id – Kata “bledeg” merupakan kata dalam bahasa Jawa yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti petir.

Jadi, Pintu Bledeg jika dipamahi dari segi bahasa maksudnya Pintu Petir.

Pintu Bledeg sendiri saat ini berada di Museum Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, yang berada persis di sebelah Masjid Agung Demak.

Heine Geldern, seorang sejarawan sekaligus etnolog berkebangsaan Austria, menyebut Masjid Agung Demak terletak di pesisir utara Jawa, yang dikenal sebagai Pusat Kerajaan Islam di Jawa.

Geldern menyebut pula bahwa pemerintahan kerajaan itu mengandalkan kekuatan militer dan perdagangan melalui jalur maritim dan hubungan lalu lintas lewat laut merupakan sarana transportasi yang paling penting untuk menghubungkan kepentingan pemerintahan itu.

Dikisahkan, Pintu Bledeg dibuat oleh Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo merupakan murid dari Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo, yang membangun Masjid Agung Demak.

Berdasarkan data dari arsip Kantor Perpustakaan Daerah Grobogan, Jawa Tengah, Ki Ageng Selo memiliki nama panggilan lain yakni Kyai Ageng Ngabdurrohman.

Selain itu, ia juga dipanggil dengan sebutan “Den Bagus Sogum”.

Sebutan “Den” dilatarbelakangi oleh keluarga beliau yang masih keturunan raja yaitu cucu dari Bondan Kejawan atau cicit dari Prabu Kertabumi.

“Bagus” menandai paras Ki Ageng Selo yang rupawan, sedangkan “Sogum” merupakan nama lahir beliau.

Den Bagus Sogum dikenal memiliki kebiasaan bertapa. Ia bertapa dengan cara duduk bersila atau dalam bahasa Jawa disebut “Silo”. Karena itu, ketika dewasa ia dikenal dengan sebutan Ki Ageng Selo.

Ki Ageng Selo merupakan seorang petani yang memiliki tanah seluas kurang lebih 20 hektar.

Pada suatu hari, Ki Ageng Selo melakukan kegiatan sehari-harinya di sawah, yakni mencangkul.

Sebelum beliau istirahat siang, langit tiba-tiba mendung disertai kilat yang menyambar berulang kali. Hujan kemudian turun dengan derasnya.

Ketika Ki Ageng Selo hendak pergi meninggalkan sawah tersebut, tiba-tiba petir menggelegar. Petir dan kilat itu seakan ingin mengejar Ki Ageng Selo.

Berkat kesaktian yang dimiliki oleh Ki Ageng Selo, petir tersebut berhasil ditangkap.

Petir itu diikat pada sebuah pohon yang disebut Pohon Gandri.

Konon atas perintah Raden Patah, Ki Ageng Selo diminta untuk menggambar petir yang berhasil ditangkapnya ke dalam bangunan berbentuk pintu.

Pintu tersebut saat ini kita kenal dengan istilah Pintu Bledeg.

Pintu Bledeg dijadikan candra sengkala atau angka tahun yang menunjukkan berdirinya Masjid Agung Demak.

Candra sengkala yang terdapat pada Pintu Bledeg yaitu “Naga mulat saliro wani” atau dibaca menjadi 1388 tahun saka. Itu tahun Masjid Agung Demak diperkirakan berdiri.

About Khoirunnis Salamah