Foto : Tim Hill/ Pixabay
Kehidupan setiap pribadi kita adalah kenyataan. Kebutuhan aneka ragam mendesak untuk dipenuhi. Pikiran perlu diperkaya dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengelola hidup. Sering terjadi, karena begitu sibuk dengan aneka perjuangan memenuhi kebutuhan, mengatasi masalah dan menghadapi tantangan, maka hampir selalu kurang waktu untuk istirahat dan berefleksi, agar mengasah kepekaan dan kesadaran. Kesibukan dan rutinitas sungguh menguras totalitas pribadi.
Setiap memulai hari, juga dalam melewati siang malam, perlu selalu ada ketenangan diri untuk bisa peka dan sadar akan berkat kehidupan. Selain rutinitas, perlu ada ruang dan waktu untuk memaknai hidup, perlu hening dan tenangkan diri. Dengan demikian, banyak hal luar biasa dan sangat penting bisa dialami, dirasakan karena disadari. Perjuangan untuk hidup dalam kesadaran itu, saya catat dalam sajak:
Cerita Lukisan Pagi
Kokok ayam nyanyikan pujian
singkap langkah hari baru
diiringi tarian hujan rintik
dan gemulai angin sejuk
Membelai wajah harapan ceria
menulis warna-warni waktu
Ada sebuah cerita pagi
dari relung hati sanubari
Melangkah mengitari halaman
Terlihat hijau pepohonan tersenyum
burung-burung ceria bersenandung
rerumputan segar menyapa
Perlahan sinar mentari pagi
menatap ramah seluruh alam
Pesona keajaiban misteri semesta
ketika jiwa raga bersyukur
nafas hidup masih berdesah
jantung kesadaran masih berdetak
Tidak selalu bisa kusadari
saat pikiran didera problema
saat rasa dirobek masalah
saat raga lara derita
saat nurani jiwa terkulai
saat hati buta warna
Untuk dapat lihat rasakan
keajaiban berkah alam semesta
pesona indah misteri Pencipta
dalam seluruh energi waktu
yang gerakan langkah pribadi
meramu keutuhan jiwa raga
merajut tenunan amal karya
menulis kata-kata bermakna
melukis kanvas kehidupan
Dengan pilihan keputusan bijak
Pujian bagi Sang Pencipta
Berkat bagi sesama saudara
Sahabat bagi alam semesta
Cerita Lukisan Pagi ini
ketika keajaiban bisa dialami
ketika keindahan bisa disyukuri
ketika mata jiwa raga mengagumi
ketika telinga sanubari mendengar
ketika kaki bisa melangkah
dan pikiran menyadari misteri
Nafas masih nyata berdesah
Jantung sedang normal berdetak
Dengan perasaan malu-malu
Kubuka lembar telapak tangan
Kubentangkan halaman kepapaan diri
kutuliskan sajak sederhana ini
“Ternyata jarang aku sadari
Kelimpahan berkah misteri
Keagungan ajaib Sang Ilahi
dalam diriku dan sesama
dalam alam semesta raya
Yang terjadi setiap detik
yang merangkul jiwa raga
Dan
sering lalai aku berterimakasih
sering lupa aku bersyukur”
Mengenang Sosok Seorang Pelayan Sahaja – Menulis Kehidupan 296





