Foto : Mustangjoe/pixabay
Memiliki pikiran, nilai, prinsip hidup secara positif adalah sebuah proses menjadi dan berkelanjutan. Bukan hal instan dan dapat dibeli sekonyong-konyong. Salah satu bentuknya adalah bisa tersenyum. Tersenyum karena jiwa terpesona dan mampu bersyukur, tersenyum karena mampu berterimakasih, ada pikiran bening waras, mampu mengelola emosi dan tubuh yang sehat. Pendidika sejak dalam kandungan oleh orangtua, proses pengalaman masa kecil, serta pendidikan rohani jasmani membentuk pribadi yang bermartabat akan membuat kita bisa tersenyum. Kualitas internal dan lingkungan sangat mempengaruhi sosok pribadi setiap orang untuk bisa tersenyum.
Lalu, ada yang jauh lebih sulit. Mampu membuat orang lain tersenyum karena kehadiran kita, peran karya Bhakti dan Amal kita. Persoalannya, jika diri sendiri tak bisa tersenyum sebagai ekpresi diri damai harmonis, bagaimana bisa mebeei, berbagi dan berkarya untuk membuat orang lain tersenyum bahagia?
Kita hanya bisa memberi dan membagikan apa yang ada dalam diri kita, antara lain memberikan senyuman tulus ikhlas kepada sesama. Renungan introspeksi tentang senyum itu, saya tuliskan dalam sajak:
Ketika Samudera Tersenyum
Mentari tak berhenti bersinar
Angin tak usai berhembus
Langit lestarikan sejuta bintang
Alam semesta terus bersabda
Aku, engkau, dia, mereka
Kita Putra-Putri jagat
silih berganti jadi generasi
digerakkan senyuman tak bertepi
dalam misteri Sang Ilahi
Aku coba menghitung
Berapa senyum yang telah merekah
pada bibirku yang keriput
Banyak senyum….
Tetapi
hanya sedikit ….
Jika kubandingkan jumlah senyum
dengan kata-kata ku
Keluh kesah berulang
Tipu muslihat berpinak
Membicarakan keburukan sesama
Ada caci maki berderet
serta sumpah serapah
Mengalir dari bibirku
Tersenyum….
tersungging dibibirku
ketika seleraku terpenuhi
kebutuhanku diperoleh
Kepentingaku bisa diraih
Dan
Aku merasa luar biasa
Tersenyum dan bangga
Tersenyum….
Pernah beberapa kali
saya membuat sesama tersenyum
Karena mereka diperhatikan
Karena mereka diakui
Karena mereka berharga
Karena mereka sesama saudara
Tersenyum
lahir dari hati sanubari
dalam suka dan dukaku
Tidak mudah kuhasilkan
Dan
Jauh lebih sulit lagi
saya membuat sesama senyum
Tersenyum karena dikasihi
Tersenyum damai bahagia
Aku ingin ke pantai
Menulis rindu di pasir
tentang damai dan harmoni
Mengukir damba di karang
tentang kasih sayang persaudaraan
Tebarkan jala bersama nelayan
bersihkan sampah peradaban
Membuat samudera tersenyum
Gelorakan gelombang cinta
hempaskan ombak selaksa makna
nyanyian abadi senyum semesta






