Foto : Pexels/Pixabay
Kasus pembunuhan sesama, mengalirkan darah dan menciptakan korban, nyawa hilang melayang, terus terjadi mewarnai kehidupan. Para pelaku, individu atau berkelompok, atas nama apa pun, telah menghilangkan kehidupan sesama. Air mata kesedihan, semua upaya penegakkan hukum, bahkan pembalasan dengan mwmbunuh pelaku, ternyata tidak mengembalikan kehidupan korban. Darah, jazad, nyawa hilang. Lalu, sering pelaku berusaha membela diri dan bersembunyi dengan aneka cara, harta dan jabatannya. Merenungkan fakta itu, saya tukiskan dalam sajak:
Pelaku Pembunuhan Tak Bisa Bersembunyi
Ada darah tertumpah
Ada jazad terkapar
di tengah kota metropolitan
di tanah cendrawasih Papua
di berbagai wilayah Indonesia
di Amerika Rusia Ukraina
di Afrika dan Timur Tengah
dimana-mana sedang terjadi
tetes darah mengalir terus
jazad bisu korban bergelimpangan
Entah apa pun alasannya
Dengan alat senjata apapun
Namun yang pasti
ada nyawa sesama dihilangkan
Sejuta cara kisah cerita
bisa saja diciptakan manusia
Semua jabatan dan harta
dipakai untuk membenarkan dirinya
untuk mengamankan tindakannya
Namun
darah sudah mengalir hilang
jazad telah membisu lenyap
nyawa sudah pergi melayang
Alam semesta mencatatnya pasti
Sang Empunya Maha Melihat
Karena kita manusia
Hakikatnya sesama saudara
Maka
darah korban itu darah pelaku
Jazad korban itu jazad pelaku
nyawa korban menggugat mengadu
Waktu pasti mengadili
Waktu pasti memberi bukti
“Benar itu benar
Salah itu salah”
Pelaku tak bisa sembunyi
Darah mengejar hati sanubari
Jazad membayangi perasaan
Jiwa korban gentayangan
mengikuti setiap desah nafas
mengiringi seluruh detak jantung
Menggugat ruang pikiran pelaku
Menagih relung jiwa pelaku
Karena
korban adalah sesama saudara
sama harkat martabat kehidupan
Anugerah Sang Pencipta
Dan
hanya ada satu jalan
dengan sesal maaf ampun
jika sadari hakekat diri
berani sujud sepenuh hati
pada Sang Maha Rahim
Sang Empunya Kehidupan






