Meski Bukan yang Terpenting, Seks dalam Perkawinan Harus Dipelihara

Seide.id – Seks memang bukan yang terpenting dalam perkawinan. Namun, tanpa seks, apalagi pada pasangan usia muda, perkawinan ibarat lauk tanpa garam, hambar.

Kenali penyebabnya
Penyebab gairah untuk berhubungan intim suami-istri berkurang atau hilang itu bermacam-macam, fisik maupun psikis.

Penyebab fisik berupa penyakit atau cedera tubuh bisa ditangani dengan pengobatan medis.

Yang teramat sulit untuk disembuhkan justru penyebab psikis. Contohnya, trauma atau sakit hati karena pernah dikhianati. Kendati sudah memaafkan, acapkali istri jadi enggan berhubungan intim lagi lantaran trauma akan ketidakjujuran suami.

Ingat, masalah seks bukan melulu hubungan badan, melainkan juga melibatkan emosi dan akal sehat.

Tidak bisa dinafikan pula, penyebabnya berupa rasa bosan antara suami dengan istri. Bisa juga salah satu pihak memiliki perhatian lebih besar alias tergila-gila pada hal tertentu, sehingga frekuensi berhubungan intim kian berkurang.

Nah, bila salah satu atau bahkan kedua pihak berfokus pada potensi-potensi lain yang ingin dikembangkan, antara lain karier dan bisnis, jangan heran bila potensi seks mereka jadi terabaikan.

Bisa dimaklumi jika mereka tak lagi fokus pada urusan seks. Bisa jadi kehidupan seks sebagai pasangan justru dianggap sebagai penghambat. Kalau sudah begini, pelan-pelan gairah seks memudar dan ranjang pun tak lagi hangat.

Seks memang cukup penting dalam sebuah perkawinan. Paling tidak, melalui seks, keturunan manusia dapat berlangsung.

Manusia dikaruniai gairah yang merupakan dorongan alamiah dan butuh penyaluran lewat aktivitas seksual. Tentu saja itu harus jadi perhatian serius dan dicarikan solusinya jika seks tak lagi menjadi kebutuhan mereka berdua, meski bukan satu-satunya kebutuhan.

Bila tidak, masalah yang satu ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak dan meluluhlantakkan semua aspek dalam rumah tangga.

Temukan solusi segera
Itulah sebabnya, jika ada masalah, terlebih jika salah satu pihak merasa dirugikan karena berkurangnya potensi seksual, haruslah cepat-cepat dicarikan jalan keluarnya.

Jangan ditunda-tunda, karena seks dan perkawinan tak dapat dipisahkan. Untungnya, kini ada begitu banyak lembaga psikologi terapan dan bimbingan konseling untuk masalah ini. Selain itu, ada pula dokter ahli seksologi yang bisa membantu menangani hambatan-hambatan seksual dalam perkawinan.

Hubungan suami-istri ideal jika masing-masing pihak tidak egois dan senantiasa bersedia mencari solusi atas permasalahan apa pun yang mereka hadapi.

Yang juga tak bisa dipungkiri, masalah seks merupakan masalah kepercayaan. Bukan sebatas naik ranjang lalu beres segalanya.

Seks bisa dibilang sebagai puncak dari relasi suami-istri. Namun, untuk menuju puncak, ada banyak hal yang harus dibereskan terlebih dulu.

Berusahalah selalu untuk menciptakan suasana kondusif. Terutama, karena pihak istri secara alami tidak bisa langsung bergairah tanpa conditioning.

Dengan kata lain, istri baru bisa bergairah bila sentuhan perasaannya sudah tune-in, bebas dari rasa marah, takut atau khawatir. (Puspayanti, kontributor)