Menyaksikan festival tradisional ini, mungkin kita sejenak akan lupa bahwa Korea Selatan sudah menjadi negara maju yang bisa dilihat dari transportasinya yang sangat modern serta kemampuannya menyihir dunia dengan budaya K-pop dan drakor serta makanan
Oleh SYAH SABUR
Sebagian besar pertunjukan yang disajikan di Festival Danoje ini berasal dari dinasti Joseon. Dinasti ini berkuasa di Korea antara 1397-1897 dan paling sering diadaptasi dalam film serta drama Korea bertema kerajaan. Pada festival ini berbagai jenis permainan tradisional dan drama topeng dimainkan bersama ritual shamanisme yang berusia ratusan tahun.
Ada juga olahraga permainan seperti ssireum (gulat tradsional) dan geunaetagi (ayunan tradisional). Ada pula musik tradisional lagu-lagu rakyat odokddegi, drama topeng Gwanno, puisi naratif lisan, dan tentu saja beragam makanan.
Para penggemar drakor (drama Korea) tentu tahu beragam jajanan Korea ini yang juga bisa ditemukan di Indonesia. Misalnya teok (kue beras), nakji bokkeum (olahan laut yang terbuat dari gurita), tteokbokki (kue beras pedas), eomuk atau odeng (ikan yang telah dihaluskan dan dicampur terigu), twigim (berbahan dasar seafood, mirip tempura), bungeoppang (pasta kacang merah, cokelat, ubi manis dan lain-lain).
Selain itu, ada upacara ritual ketika kaum perempuan mencuci rambut dan wajah mereka dengan air yang direndam daun iris. Mereka percaya bahwa ritual tersebut bisa mengusir roh jahat. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat melihat sebagian dari berbagai pertunjukan tersebut.
Tradisi gotong royong
Yang juga menarik adalah tradisi yang mirip gotong royong di negara kita. Sebelum festival, warga lokal menyumbang beras untuk dibuat penganan dan minuman makgeolli, minuman dengan kadar rendah alkohol. Penganan dan minuman tersebut lalu dibagikan kepada pengunjung festival sebagai tanda syukur atas hasil panen yang melimpah.
Menyaksikan festival tradisional ini, mungkin kita sejenak akan lupa bahwa Korea Selatan sudah menjadi negara maju yang bisa dilihat dari transportasinya yang sangat modern serta kemampuannya menyihir dunia dengan budaya K-pop dan drakor serta makanan.
Jangan lupa juga bahwa pendapatan perkapita Korea Selatan sudah setara dengan negara-negara maju anggota G7, yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris.
Bank Dunia menyebutkan, pendapatan perkapita Korea Selatan mencapai US$33.790 pada 2019, sedikit di bawah Italia US$ 34.530.
Saking pentingnya festival ini, kadang ada perusahaan setempat yang membiarkan karyawan pulang lebih cepat. “Tujuannya, supaya warga bisa menonton festival bersama keluarga. Ini adalah waktu untuk menikmati kebersamaan dan kebahagiaan dengan keluarga,” kata Leo, guide Korea yang selalu mengantar rombongan dari Jakarta.
Festival ini juga menunjukkan kemampuan bangsa Korea menjaga warisan budaya mereka di tengah kemajuan zaman yang terus berubah. Tradisi terus dipelihara agar masyarakat tidak melupakan sejarah asal-usul kita. Traditions Stay Alive at the Gangneung Danoje Festival, demikian bunyi judul tulisan dalam media lokal, Hapskorea. ***






