Obrolan di Ujung Jalan – Catatan Halaman ke-94

Selamatkan Presiden Jokowi dari Para Pembisin yang Menjerumuskan

Penulis Jlitheng

Lampu merah bercerita sangat banyak tentang cara manusia me-makna-i hidup.

Ada lelaki muda mendorong seorang ibu (lebih tua) yang sepertinya buta, meliuk di antara celah sepeda motor dan mobil demi gopek atau dua ribu rupiah.

Ada ibu muda bersolo-usaha dengan botol air mineral kosong, yang diisi dua atau tiga batu kecil, untuk menimbulkan bunyi ecrek-ecrek. Ia menerobos sela di antara mobil – sepeda motor yang belum lama dilalui oleh lelaki pendorong ibu tadi.

Di lampu merah lain ada silver woman, silver bujang, dan silver gadis. Bertiga saja. Pasti membungkukkan badan dulu, hormat ala tentara, memandang ke langit dan… bergerak dengan trempolong kosong berharap ada yang tergerak hati merogoh kocek. Saya tergerak.

Semuanya demi sesuap nasi atau mungkin saja untuk tambah-tambah beli obat buat suami atau ayahnya yang tak berdaya karena stroke atau sakit lainnya.

Saya tak berani dan tak mau berburuk sangka terhadap mereka. Awalnya memang saya juga gregetan, kok hanya begitu mereka menjalani hidup.

Ada kisah lain. Tentang Pak Sujud, tetangga sahabatku yg tinggal di desa. Usianya sudah 63 tahun, namun masih bugar.

Dia tinggal seorang diri di rumahnya, di desa yang banyak sawahnya. Istrinya meninggal saat masih muda dan dua anaknya semua bekerja merantau di Jakarta. Untuk mengisi harinya, Pak Sujud merawat sawah dan kebun, juga mengerjakan beberapa pekerjaan pertukangan.

Jadwal Pak Sujud sangat rutin. Bangun pukul empat pagi, kemudian shalat Subuh di masjid desa. Usai shalat, dia membersihkan saluran irigasi yang mengaliri sawahnya. Kemudian lanjut dengan merawat sawah dan juga kebun yang tak jauh dari rumahnya.

Siang hari Pak Sujud melakukan pekerjaan pertukangan di rumah yang sedang dibangun. Keahlian sebagai tukang ini seringkali dimanfaatkan tetangga untuk membantu membereskan rumah saat ada kebocoran ataupun hal lain yang memerlukan keahlian Pak Sujud.

Seringkali kami, kata sahabatku, mendapatkan kejutan dengan datang sesisir pisang kepok dari Pak Sujud. Dia menolak bila kami hendak membayarnya. Cukup dengan membuatkan kopi pahit yang kental dan menemaninya ngobrol, itu sudah membuatnya bahagia.

Kejutan terjadi ketika Pak Sujud meninggal. Antrian pelayat mengular untuk memberi penghormatan terakhir. Banyak cerita indah tentang almarhum:

“Pak Sujud itu orang yang saleh dan baik hati. Dia selalu merawat irigasi untuk sawah kami semua. Setiap pagi.”

“Kalau tak ada Pak Sujud, kami pasti repot dengan rumah tua kami yang sering bocor. Pak Sujud adalah tetangga yang seperti saudara.”

“Sering Pak Sujud memberi kejutan. Membawa singkong kesukaan suami saya.”

Hidup Pak Sujud penuh makna, karena dibagikan, lebih dari hanya “mengoleksi”.

Salam sehat dan jangan jenuh berbagi cahaya.

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.