Omo!* Sungguh menantang untuk JOMO di antara FOMO!

Film Dr Strange dan KKN di Desa Penari tiba-tiba bersaing ketat di sinema layar lebar akhir-akhir ini. Bagi seorang Lynn, tak mengeposkan story atau status sudah menonton membuat jiwa FOMO-nya meronta-ronta. 

Sebagai pribadi yang dikenal FOMO- fear of missing out, Lynn memiliki kecemasan tak turut serta dalam euforia netizen akan kedua film itu; seperti halnya ketinggalan dengan trending topic di Twitter, postingan Facebook atau Instagram yang viral atau fyp (for your page) di TikTok. 

Sahabat Lynn, Mae sudah memberi friendly reminder bahwa baik film Dr Strange maupun KKN di Desa Penari bukan konsumsi anak-anak. Dr Strange untuk level kekerasannya, KKN untuk hal berbau seksual. 

Beberapa adegan Dr Strange seperti ketika mata monster gargantos ditusuk dengan tiang traffic light lalu berdarah-darah, atau adegan tubuh sinister strange jatuh dari lantai dua dan menancap pagar adalah sebagian di antaranya. 

Sementara meski adegan berbau seksual pada film KKN di Desa Penari hanya sekilas yang dilanjutkan berupa ASMR-autonomous sensory meridian response, bagi Mae hal itu tetap bukan konsumsi anak-anak. 

Lynn menanggapi dengan kesal. “Kan sudah lolos Lembaga Sensor dan bisa ditonton di publik, pasti baik kekerasan  maupun hal seksual ‘tipis-tipis’. Ga apa-apa deh kalau gitu sih. Di Netflix, YouTube malah banyak yang lebih dari itu.” 

Mae masih berusaha lagi. Sekali ini mengungkapkan efek buruk dari tereksposnya anak-anak yang menonton tayangan kekerasan

Seperti menjadi imun akan kengerian adegan kekerasan yang berdarah-darah, atau bahkan menjadikan kekerasan sebagai solusi dengan berperilaku yang sama seperti pelaku dalam film. Hal ini belakangan banyak ditiru pelaku perundungan di sekolah yang lalu sengaja merekam aksi tersebut untuk viral di media sosial. 

Lynn pun meradang. “Anakku enggak bodoh ya. Aku ‘kan selalu ingetin anak-anak juga bahwa hal itu hanya ada dalam cerita film, bukan sungguhan. Mereka tahu itu. Lagian separuh bioskop isinya anak-anak, kenapa kok aku yang jadi yang paling bersalah? Aku malah dampingi lho, enggak kayak anak lain yang dititipin sama kakak sepupu yang juga belum usia dewasa.” 

Karena Lynn ngotot membela diri, Mae pun tak mampu berkata-kata lagi. Yang dia tahu kemudian, seluruh story, post di berbagai media sosial milik Lynn berisi dirinya yang telah menonton kedua film itu.

Mengunggah foto tiket, opening film, kursi empuk bioskop, buket berisi popcorn yang menggiurkan, tanpa sedikitpun ada jejak kedua anaknya yang masih berusia SD ada di dekatnya. Mae berasumsi ada kecemasan juga bila foto anaknya tampil di postingan akan berujung munculnya komen yang mungkin memojokkan Lynn. 

Pertanyaannya kemudian, apakah Lynn adalah KITA? 

Yang sejak bangun hingga tidur kembali tak bisa lepas dari penggunaan gadget dalam mengakses segala hal yang sedang menjadi perbincangan di dunia maya? 

Yang demi konten pribadi, menutup mata akan efek buruk mengonsumsi konten viral yang berisi perundungan, kekerasan, pelecehan dan sejenisnya.

Untuk menjawabnya, mungkin kita bisa perhatikan beberapa gejala yang menurut Shoreline Recovery Center menunjukkan seseorang termasuk FOMO, yaitu : 

  • Seseorang yang bila dikecualikan dari suatu kegiatan bisa sangat terganggu pikiran dan perasaannya. Seperti juga yang merasa sedih bila kurang update dengan postingan di Facebook yang jadi perbincangan banyak orang.   
  • Mereka yang merasa dibiarkan berjuang sendiri bila terputus dari teman sebaya dan/atau kelompok sosialnya
  • Memiliki aktivitas media sosial yang relatif sangat tinggi 
  • Memiliki gaya hidup yang sangat cepat, beralih dari aktivitas satu ke yang lain, berpindah dari peran satu ke peran yang lain 
  • Sangat peduli dengan komentar orang lain ketika memunculkan foto di media sosial, baik pakaian, tatanan rambut dan style make up apa yang sedang hype, berat badan setiap saat, karir yang telah dicapai, latar belakang keluarga plus me time baik berupa olahraga yang dilakukan atau model liburan yang ditampilkan instagramable
  • Punya kecemasan berlebih dan gangguan tidur. Hal ini tentu dipicu terpapar sinar biru yang cukup lama ketika mengakses media sosial.

Lalu bagaimana dengan JOMO? 

Kristen Fuller seorang dokter yang banyak mendalami isu kesehatan mental mengatakan “JOMO” atau Joy of Missing Out secara esensi adalah antidot kecerdasan emosi dari FOMO. JOMO adalah tentang PRESENT dan merasa tercukupkan dengan apa yang sudah diperoleh dalam hidup.

Seseorang yang JOMO tak merasa perlu membandingkan hidup satu sama lain, tidak terintimidasi dan bisa memilah antara tuntutan keharusan dan keinginan, serta belajar tak mencemaskan sesuatu yang tak perlu dicemaskan.  

Dengan konsep JOMO seseorang tak merasa perlu tergesa-gesa, tak melulu harus bersaing terus dengan orang lain, tak mengapa bila tak ada sinyal atau WIFI, dan yang pasti sungguh menikmati dan merasakan suasana atau peristiwa di sekitarnya. 

Dengan membebaskan diri dari kondisi kompetitif dan pergerakan dunia digital yang sangat cepat, sesungguhnya seseorang punya kebih banyak energi, waktu dan lebih bisa passionate terhadap hal yang sedang dilakukan. 

Sepertinya hidup sebagai pribadi yang JOMO contoh hidup yang ideal ya?

Lalu, apakah kita yang terbiasa mencari nafkah secara online, selalu meng-update diri untuk belajar sesuatu atau terinteraksi dengan sahabat kecil, saudara dan kerabat lewat media sosial, mampu melakukannya?

Saya akan menjawab berdasar pengalaman sendiri.

Ketika waktu saya sebagai Ibu terbatas dengan interaksi di luar rumah dan lebih banyak melakukan pekerjaan domestik, mengakses media sosial adalah salah satu kegiatan yang sungguh menghibur dan meng-update ketertinggalan akan perkembangan dunia di luar sana. 

Masalahnya adalah apakah ketika saya berkesempatan berinteraksi di luar rumah, benak dan tangan saya masih saja tergoda mengakses hal-hal update atau merasa perlu memantengi pergerakan di dunia maya, yang sejatinya tak terkait dengan interaksi, situasi dan kondisi yang sedang saya hadapi?

Atau, apakah pertemuan saya dengan teman-teman di luar rumah justru saling membandingkan update-an masing-masing tentang skandal artis, trending topic, fyp dan hal lain yang viral saja? 

Kalau iya, jelas saya pun masih FOMO. Merasa wajib terus terhubung dengan segala pergerakan viral atau kekinian yang terjadi. 

Bukankah lebih ‘indah’ bila momen melepas kangen dengan teman-teman saat bertatap muka justru untuk bertukar kabar personal satu sama lain atau bila sampai menyinggung hal umum itu karena terkait dengan personal masing-masing. 

Bukankah juga, lebih baik saya FOMO dari momen interaksi dengan sahabat, momen kebersamaan dengan orang-orang terkasih, momen menertawakan memori lucu dan konyol, momen keriuhan bertukar makanan potluck. Dibanding FOMO film, lagu, postingan dan hal lain serupa yang sedang viral? 

Tak mudah sih, saya pun berupaya untuk hanya menggunakan ponsel ketika berinteraksi di dunia nyata, murni untuk dokumentasi atau saling bertukar kontak.

Tak perlu saya berusaha update saat itu diri sendiri sedang apa, atau untuk tahu dengan ‘mengintip’ peristiwa yang terjadi pada 10 menit terakhir. 

Tanpa kita sadari, menjadi JOMO dengan PRESENT dan merasa tak apa-apa terlewat mengetahui atau memahami apa-apa, justru merupakan privilege yang tak ternilai harganya. 

*Omo! = ya ampun! (bahasa percakapan Korea)

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta