Pasal Berlapis untuk Si Lois

Oleh SYAH SABUR

Di tengah peningkatan kasus Covid-19 yang terus terjadi, tiba-tiba muncul orang yang mengaku dokter yang tidak percaya pandemi yang tengah melanda seluruh dunia. Dalam sebuah talkshow yang dipandu pengacara Hotman Paris beberapa waktu lalu, dr. Lois Owien mengaku tidak percaya Covid-19. Dia pun menyebut tidak ada pasien yang meninggal karena Covid-19, melainkan karena interaksi obat yang berlebihan.

Lois tentu tidak tahu, banyak pasien meninggal sebelum mereka dirawat di rumah sakit, sebelum menerima berbagai obat. Bahkan tak sedikit pasien yang mendapat serangan mendadak. Hanya dalam hitungan jam, pasien langsung sesak nafas yang disusul kehilangan kesadaran. Akibatnya, dalam waktu kurang dari 24 jam, sang pasien pun meninggal. Kalaupun sempat makan obat, seperti yang dialami adik ipar dan kakak ipar saya, mereka hanya mengonsumsi obat batuk dan obat penurun panas. Apakah ada cerita obat batuk dan obat penurun panas mengakibakan kematian? Mungkin ada dalam imajinasi Lois.

Diundang oleh Hotman Paris Show, Lois Owien menyatakan bahwa yang meninggal di rumah sakit bukan karena virus Covid, melainkan karena obat. (Foto: Screenshoot Youtube)

Dalam wawancara lain dengan salah seorang Youtuber, Lois juga menyebut Covid tidak ada. Yang ada masyarakat yang kurang makan/kurang nutrisi. Maka, dia pun meminta agar pemerintah mengajak rakyat kurang mampu untuk ramai-ramai makan di pusat kuliner seafood di Muara Angke, Jakarta. Namun pernyataannya ini mengabaikan fakta bahwa korban tewas akibat Covid bukan hanya orang tidak mampu melainkan para pejabat juga selebriti. Tentu saja tidak ada cerita pejabat dan selebriti yang kurang makan.
Soal rujukan.

Dalam wawancara yang sama, Lois juga menyesalkan sikap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang selalu minta rujukan sebagai dasar ilmiah (diantaranya jurnal) saat dia bicara Covid. Soal rujukan ini sebenarnya hal yang basic dan sangat lazim di dunia ilmiah. Seseorang tidak bisa hanya bicara atas pendapat pribadi tanpa didukung pendapat ilmuwan lain yang tertuang dalam karya ilmiah seperti jurnal. Kalau soal basic saja tidak pahama, bagaimana orang lain bisa percaya bahwa dia seroang dokter.

Pendapatnya yang tidak masuk akal dan provokatif ini ternyata mendapat dukungan dari sejumlah kalangan, baik orang awam maupun Youtuber. Kalau dilihat dari beberapa grup WhatsApp, pendukung Lois umumnya para pendukung Prabowo di Pilpres 2019. Mereka sampai saat ini tidak rela Jokowi menjadi Presiden. Jadi apapun mereka gunakan untuk menyerang kebijakan Jokowi. Mereka seolah tidak peduli bahwa Covid bukan hanya menjadi masalah Indonesia melainkan jadi masalah dunia, baik negara Muslim maupun non-Muslim, negara miskin maupun negara kaya.

Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Media Survei Nasional (Median) yang menyatakan, sebagian besar pendukung Prabowo tidak percaya Covid.

Hasil survei yang dilakukan 21-26 Juni itu menunjukkan, mantan pendukung Prabowo-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 lebih banyak tak percaya vaksin Covid-19 ketimbang mantan pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Mantan pemilih Prabowo-Sandi lalu lebih sedikit yang percaya vaskin (35,7 persen) ketimbang pemilih Jokowi-Ma’ruf (62,2 persen),” kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun saat memaparkan hasil survei media sosial tentang Covid-19, Rabu (7/7/2021). Mantan pendukung Prabowo Rico juga mengatakan, mantan pendukung Prabowo-Sandiaga Uno lebih banyak tidak ingin mendapatkan vaksin Covid-19.

“Persentase pemilih Prabowo yang ingin divaksiansi lebih sedikit (48 persen) ketimbang pemilih Jokowi-Ma’ruf (67 persen), mantan pemilih Prabowo-Sandiaga Uno yang tidak ingin divaksin (32 persen) juga lebih besar ketimbang pemilih Jokowi-Ma’ruf (17,1 persen),” ujar dia.

Beberapa Youtuber menganggap Lois sebagai sosok penting yang harus diburu dan dijadikan narasumber. Bahkan, ada Youtuber yang melabeli kata “eksklusif” untuk wawancaranya dengan Lois. Seolah suatu kebanggaan dan prestasi bisa mewawancarai sang dokter. Padahal sang dokterlah yang senang bukan kepalang bisa tampil di mana-mana untuk menjual hoaks dan provokasinya. Para Youtuber ini tidak paham bahwa kata eksklusif hanya layak diberikan untuk wawancara dengan seseorang yang punya informasi penting dan orang tersebut sulit diwawancara media lain.

Dukungan juga diberikan oleh sejumlah anggota yang tergabung dalam grup WA. Mereka pun ramai-ramai memposting wawancara Lois karena merasa wawancara tersebut berisi kebenaran sejati. Mereka sepertinya tidak peduli bahwa pernyataan sang dokter hanya bualan dari seseorang yang mengalami masalah mental.

Lois misalnya pernah menulis di Twitter seperti ini: Ada apa dengan Negeriku?? ‘Jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di Surga’ Semua terjadi seijin-Mu. Dunia ini sudah di kuasai oleh IB*IS. Tangga kapal Bahtera NUH sudah siap di angkat. Org2 yg menertawakan kebenaran sudah mulai panik melihat langit menghitam oleh awan tebal!!!

Kata-kata kasar

Dalam postingannya tanggal 9 Juli 2021, Lois menulis, “Masih ingat Patofisiologi kegagalan jantung kiri?? Jangan protes saya ‘Suara kebenaran’ Saya AntiHoax dengan penjelasan Covid19 paling ilmiah sedunia!! Yg salah akan tetap salah! Sy tdk pandang Bulu. Dokter yg TDK tahu patofisiologi asidosis laktat tidak pantas jd dokter!!”

Jika dia benar seorang dokter, yang otomatis seorang ilmuwan, tidak mungkin dia menggunakan kata-kata kasar dan mengagungkan dirinya. Seorang ilmwan itu selalu berpikir jernih, juga di saat marah. Dalam bio Twitter-nya, Lois secara terang-terangan menyebut Covid19 bukan virus corona.

Tak pelak, pernyataan Lois ditanggapi dengan sinis oleh Netizen: Bergelar dokter. Tdk pernah praktek. Tdk pernah melayani pasien tdk pernah kerja di Faskes.. berarti apa..dong.. Penjaga perpustakaan # kuis siapa dia…

Netizen lain menyampaikan permintaan kepada sang dokter, Kalo ga menular coba datang ke wisma atlet dok, minta izin baik² utk memeluk semua penderita covid yg sdg menjalani isolasi

Karena itulah, sontak pernyataan Lois itu menuai sejumlah kritikan, termasuk dari rekan sejawatnya, di antaranya dr Tirta Mandira Hudhi. Tirta malah membongkar sosok Lois yang ternyata sudah bertahun-tahun tidak ada dalam daftar anggota IDI.
Tak terdaftar di IDI

Dalam akun medis sosialnya, dr. Tirta menulis, “Ibu ini mengaku sebagai dokter. Setelah dikonfirmasi ke Ketua IDI Pusat, dr Daeng, dan saya konfirmasi ke Ketua MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, pen.), beliau mengatakan bahwa dr Lois tidak terdaftar di anggota IDI”.

Selanjutnya, Tirta menjelaskan, seluruh dokter di Indonesia harus tergabung dalam IDI. Oleh karena itu, ia mempertanyakan status dokter Lois. Apalagi Surat Tanda Registrasi (STR) Lois juga disebut tidak aktif sejak 2017. Selain itu, Tirta mengungkap fakta lain bahwa “Ibu Lois tidak menangani pasien pandemi, baik menjadi relawan atau pun praktik.”

Hal senada juga disampaikan Ketua MKEK IDI, dr Pukovisa yang menyatakan dr Lois Owien bukanlah anggota IDI. Artinya, keanggotaan dr Lois Owien di IDI sudah kedaluwarsa.

Semula MKEK akan memanggil Lois untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya di dalam sidang ilmiah. Bahkan, Tirta pun pernah mengundangnya untuk berdebat secara terbuka. Tapi udangan tersebut ditolak dengan berbagai alasan.

Untunglah polisi tanggap dengan segera menangkapnya dan belakangan menjadikannya sebagai tersangka. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menetapkan Lois sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyebaran berita bohong hingga membuat keonaran terkait Covid-19. Lois pun ditahan sejak Senin (11/7).

“(Dijerat pasal) Tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dan atau tindak pidana menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat,” kata Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto saat dikonfirmasi, Senin (12/7).

Pasal berlapis

Kemudian, dia juga diduga melanggar pidana menghalang-halangi pelaksanaan atau penanggulangan wabah dengan menyiarkan berita tak pasti. Polisi menyebut patut diduga berita hoaks yang disebarkan itu dapat membuat keonaran di kalangan masyarakat.

Agus menjelaskan, Lois dijerat pasal berlapis mulai dari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) hingga Undang-undang tentang Wabah Penyakit Menular. Jika merujuk pasal yang dijeratkan kepada tersangka, maka dokter Lois terancam hukuman pidana penjara hingga 10 tahun.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan membidik salah satu postingan Lois, yaitu “korban yang selama ini meninggal akibat covid-19 adalah bukan karena covid-19, melainkan diakibatkan oleh interaksi antar obat dan pemberian obat dalam enam macam”. Kalimat itu dinilai sebagai suatu kebohongan yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat.

Sepertinya Covid ini bukan saja menimbulkan banyak orang sakit tapi membuat sebagian orang kehilangan akal sehatnya. Mereka peraya saja pada bualan seorang Lois tanpa berpikir panjang.

Apakah seorang Lois lebih pinter dibanding semua dokter yg ada di IDI? Apakah Lois lbh pinter dibanding para dokter di dunia yang percaya covid? Apakah kita percaya Lois begitu saja sementara kita tidak pernah mendengar prestasinya? Susah memang, ketika sebagian orang mengingkari logika. Mereka tidak lagi ingin mendengarkan kebenaran. Mereka hanya ingin mendengar apa yang mereka yakini selama ini sebagai kebenaran, tanpa peduli benar atau salah. **

Avatar photo

About Syah Sabur

Penulis, Editor, Penulis Terbaik Halaman 1 Suara Pembaruan (1997), Penulis Terbaik Lomba Kritik Film Jakart media Syndication (1995), Penulis berbagai Buku dan Biografi