Pernah Ada Ikan Goreng

Suatu kali, aku bersama istri, kondangan manten di luar kompleks perumahan kami.

Kami datang agak terlambat. Sedianya, sesudah memberi selamat, kami pulang. Tapi, tuan rumah sangat berharap kami menikmati hidangan.

Di meja, kami lihat hidangan sudah hampir habis. Telur sambal balado, tinggal beberapa potong. Putih dan kuning telur sudah ‘berprncar’, berantakan.

Capcay, tinggal kuahnya saja.

Ikan besar goreng (sepertinya dibumbu asam manis), tinggal kepala dan tulangnya. Tapi anehnya… tak disingkirkan. Seolah-olah tuan rumah ingin berkata bahwa: di sini tadi… pernah ada ikan goreng besooaar. Anda saja yang datang terlambat! Hahaha…

Ketika kami pamit, seolah-olah ingin menutupi kesalahan bahwa kami makan seadanya…. sang tuan rumah membekali kami: setandan pisang. Setandan… bukan sesisir.

Mau ditolak, tak enak.

Akhirnya aku membopong setandan pisang itu, diiringi senyum-senyum kerabat pengantin dan beberapa undangan yang masih bertahan.