Buruh dengan SDM rendah itu demo dan mogok kerja itu selain menjadi korban hasutan, juga lantaran tak berdaya oleh tekanan serikat buruh. Sebagian besar dari mereka diperalat dan dipaksa demo oleh organisasi buruh – untuk kepentingan politik tokoh pemimpin buruh. Ketika terjadi PHK massal, mereka cenderung lepas tangan . foto: suaracirebon.
OLEH DIMAS SUPRIYANTO
SEBUAH peristiwa dunia kerja dan usaha terjadi di Cirebon memberikan pesan penting bagi buruh di Indonesia. Alih alih mengikuti tuntutan buruh yang mogok, perusahaan asal China yang baru usaha dua (2) tahun itu justru memilih menutup pabriknya. Sehingga ribuan buruh kehilangan pekerjaan seketika.
Hal itu terjadi dengan pabrik PT Yihong Novatex Indonesia. Perusahaan yang bergerak di sektor sablon sepatu tersebut resmi menghentikan operasionalnya dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal sejak awal Maret 2025 ini – usai pabrik didemo pekerjanya selama empat hari.
Perusahaan asal China yang berlokasi di Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat menolak tunttan demo massal setelah aksi mogok kerja para buruhnya di sana. Total ada 1.126 pekerja yang terkena PHK massal.
Pihak manajemen menyampaikan perusahaan mengalami kerugian besar akibat aksi mogok kerja yang dilakukan selama empat (4) hari pada awal Maret lalu. Akibat demo itu, pabrik lumpuh tak bisa bisa penuhi pesanan. Keterlambatan pengiriman barang membuat para pembeli menarik pesanan. Demo dan mogok kerja itu konon dilakukan sebagai unjuk solidaritas akibat pemecatan yang menimpa tiga (3) rekannya.
Berbeda dengan insiden demo sebelumnya dimana perusahaan tak berdaya dan memenuhi tuntutan buruh, kali ini perusahaan melakukan hal sebaliknya. Memilih tutup usaha dan PHK
AKSI DEMO para buruh di sini memang semakin meresahkan. Serikat buruh bahkan sering memprovokasi untuk mogok dan demo sebagai senjata untuk menekan perusahaan dan pemerintah. Buruh menganggap itu hak, tanpa introspeksi pada kewajiban-kewajibannya. Tidak mensyukuri pekerjaan yang didapatnya. Secara berkala menuntut kenaikan upah.
Buruh dengan SDM rendah itu demo selain menjadi korban hasutan, juga lantaran tak berdaya oleh tekanan serikat buruh. Sebagian besar dari mereka diperalat dan dipaksa demo oleh organisasi buruh – untuk kepentingan politik tokoh pemimpin buruh. Sementara pengurus organisasi buruh sejahtera, mennggangi moge, kaum buruh sendiri keleleran. Ketika terjadi PHK, serikat buruh cenderung lepas tanggung jawab.
Di sisi lain, pada akhirnya perusahaan dan investor menyadari bahwa jika tuntutan itu dipenuhi, akan berlanjut dengan tuntutan dan demo demo berikutnya. Sehingga memPHK massal dan memindahkan lokasi pabrik – bahkan ke negeri lain yang lebih aman dan ramah investor.
MASALAH yang dihadapi pengusaha yang membuka pabrik di Indonesia tidak hanya aksi buruh. Melainkan regulasi pusat dan daerah yang tidak konsisten dan tidak tunggal. Pemerintah pusat menjanjikan kemudahan untuk investasi, namun dalam praktik lapangan banyak pungutan dan beban tambahan. Banyak jatah preman dan kutipan pejabat lokal.
Investor kemudian membandingkan dengan negeri tetangga, khususnya Vietnam yang benar benar membantu dan melindungi para investor. Pemerintahan negeri Komunis itu tegas dengan satu aturan di pusat dan daerah, dan efektif sehingga investor aman dan fokus mengelola usahanya.
Bandingkan dengan pemerintah “demokratis” di sini yang memberikan “otonomi daerah” dimana Pemda dan Pemkot suka suka hati bikin aturan sendiri, yang membebani investor.
Pemerintah daerah cenderung tidak melindungi investor karena investasi dianggap sebagai sumber pendapatan – sapi perah. Setelah pabrik pindah ke Vietnam, mereka kelabakan sendiri.
Belum lagi dengan ormas ormas lokal yang merasa punya hak mengutip ini itu – minta jatah keamanan dan jadi calo, ikut mengelola limbah, dst – atas nama wilayah mereka yang ketempatan pabrik.
Di luar negeri, khususnya Jepang dan Indonesia, pekerja asal Indonesia memberikan kesan positif karena rajin dan patuh. Sebagai perantauan, pekerja migran Indonesia (PMI) tak punya pilihan untuk ikut aturan perusahaan.
Berbeda dengan buruh yang tinggal di negeri sendiri di kampung sendiri. Mereka merasa bekerja sebagai haknya dan menekan pengusaha juga haknya. Sehingga bekerja sesuka hati. Tak puas dengan upah dan aturan pabrik, memprovokasi rekannya untuk demo dan mogok kerja.
Tak heran – alih alih mendapat simpati, netizen justru menyalahkan buruh pendemo PT Yihong Novatex Indonesia. “Pabrik di Cirebon yah? Selamat atas tuntutan kalian, pertahankan budaya mogoknya, dan catatlah dengan tinta mas atas keberhasilan perjuangannya!” ***



