Rafflesia Arnoldi: Bunga Era Kolonial yang Kontroversial

Seide.id – Bunga Rafflesia merupakan bunga terbesar di dunia yang berasal dari Indonesia.

Bunga tersebut sangat unik karena jenis ini hanya berupa kuncup atau bunga mekar, tidak ada batang, daun, dan akar.

Selain itu bunga rafflesia juga menarik untuk dikaji lebih dalam terkait sejarah penemuan dan penamaannya.

Bagaimana Sejarah Penemuan Bunga Rafflesia?

Mengutip dari buku “Rafflesia: Pesona Bunga Terbesar di Dunia” tulisan Agus Susatya, dikatakan bahwa pada abad ke-19 Dr. Joseph Arnold yang merupakan seorang dokter, pecinta alam serta penjelajah sangat takjub saat pertama kali melihat bunga raksasa selebar 110 cm di pedalaman Manna, Bengkulu Selatan pada tahun 1818.

Lokasi tempat penemuan bunga rafflesia oleh Dr. Joseph Arnoldi bernama Pulo Lebbar.

Sebuah tempat yang dicapai oleh ekspedisi pada jaman itu dalam waktu 2 hari perjalanan menyusuri Sungai Manna.

Sekarang tempat tersebut berupa desa dengan nama yang sama di kecamatan Pino Raya, sekitar 30 km dari Kota Manna, sedangkan sungai Manna sudah sejak lama tidak digunakan sebagai alur transportasi.

Kemudian, Dr. Joseph menulis surat pada temannya dalam bahasa Inggris:

“Here I rejoice to tell you what I consider as the greatest prodigy of the vegetable world to tell you the truth, had I should, I think i have been fearful of mentioning the dimensions of this flower, so much does it exceed every flower I have ever seen or heard of now for the dimensions which are the most astonishing part of the flower. It measures a full yard across”, (Mabberley,1985 dalam Beaman dkk.,1988).

Dr. Joseph Arnoldi meninggal dalam ekspedisinya akibat terserang penyakit malaria.

Bagaimana Penamaan Bunga Rafflesia?

Agus Susatya mengatakan bahwa proses penamaan pertama kali untuk jenis Rafflesia merupakan suatu cerita yang sangat menarik layaknya sinetron masa kini, proses yang melibatkan intrik, politik, dan ketamakan.

Tidak seperti yang diyakini masyarakat secara umum.

Sebetulnya orang asing yang pertama melihat jenis Rafflesia, bukannya Stamford Raffles ataupun Dr Joseph Arnold, tetapi Louis Auguste Deschamp, seorang dokter dan penjelajah alam berasal dari Perancis, yang pada akhir abad ke 18 berlayar ke Jawa. Sempat ditangkap oleh Belanda, tetapi oleh Gubernur Jendral Belanda saat itu yang bernama Van Overstraten, Deschamp tidak ditahan dan diminta untuk melakukan ekspedisi di Pulau Jawa selama tiga tahun dari 1791 sampai dengan 1794.

Meijer dan Nais menambahkan informasi bahwa Louis Auguste Deschamp kemudian secara aktif menjelajah dan mengumpulkan banyak specimen tumbuhan di pedalaman pulau Jawa, dan kemudian menulis draf awal

”Materials towards a flora of Java”. Deschamp pertama kali melihat, mengumpulkan spesimen, dan menggambarkan Rafflesia yang ditemukan di Pulau Nusakambangan pada tahun 1797 atau 20 tahun lebih dahulu daripada penemuan Dr. Joseph Arnold yang menggemparkan itu.

Setahun kemudian, 1798, Deschamp pulang ke Perancis dengan semua koleksinya.

Saat mendekati Selat Inggris, kapalnya ditangkap dan semua koleksinya dirampas oleh Inggris. Pada saat itu, setelah melihat rampasan koleksi spesimen, para ahli botani Inggris sadar bahwa Deschamp telah menemukan jenis yang sangat unik dan tidak pernah dilihat sebelumnya, dan ada semacam kompetisi rahasia antar ahli botani tentang siapa yang akan menerbitkan jenis yang sangat menakjubkan itu.

Mereka juga berpendapatan siapapun orangnya, jenis yang mencengangkan itu harus dideskripsikan atau dinamakan oleh orang Inggris, bukan Belanda apalagi Perancis.

Sehingga Raffles, yang saat itu sebagai Gubernur Jendral Inggris di Bengkulu,

memerintahkan William Jack untuk segera mendiskripsikan jenis yang ditemukan di Bengkulu Selatan.

Oleh: Khoirunnis Salamah