Rishi Sunak, Anies Baswedan, Satyagraha, Ahimsa dan Swadeshi

Rishi Sunak - Anies Baswedan

Setelah keturunan India bisa terpilih jadi Perdana Menteri Inggris, sebagian warga di Indonesia berharap Keturunan Arab-Yaman juga bisa menjadi “RI 1”. Tapi mereka bakal serangan balik ; Jika keturunan Cina tidak boleh jadi kepala daerah, kenapa keturunan Arab Yaman boleh? Bahkan dicalonkan memimpin negeri?

Oleh DIMAS SUPRIYANTO

KEMENANGAN Rishi Sunak, politisi keturunan India sebagai Perdana Menteri yang baru di Britania Raya, menggantikan Elizabeth Truss – memberi energi tambahan bagi pendukung Anies Baswedan di Indonesia.

Sama sama keturunan asing – yang berjuang di negara demokratis – Rishi, 42, telah memenangi kursi perdana menteri di negara liberal demokrat, negeri Eropa paling kesohor, sehingga mendapat hak menjadi orang nomer satu di Inggris Raya.

Dengan menanggung beban “dobel minoritas” ; keturunan India dan beragama Hindu – Rishi Sunak mampu melesat sebagai nomor satu di Inggris yang mayoritas kulit putih yang Kristen.

Lalu, mengapa keturunan Yaman Hadramaut di Indonesia tidak bisa? Begitu gugat para pendukung Anies Baswedan, yang sedang giat kampanye mempromo capres jagoannya, hari hari ini.

Inggris sebelumnya menjajah India selama 200 tahun, menguasai negeri raksasa tempat kelahiran epos Mahabharata dan Ramayana itu.

Kini seakan dunia sedang terbalik; ada anak keturunan India yang mengemudikan negeri Inggris.

Dalam pandangan filosofi Jawa, Inggris sedang memitik buah dari tingkah lakunya sendiri (“ngunduh woh ing pakarti”).

Bangsa bangsa Eropa, bersama bangsa kulit putih seperti Belanda, Spanyol, Italia, Prancis, Inggris selama 250 tahun telah menjajah banyak negara di seantero benua, melintasi benua.

Di negeri jajahan, mereka melakukan diskriminasi dan kebencian rasial, menerapkan politik adu domba (“devide et impera”) – superioritas kulit putih – untuk melemahkan kulit berwarna dan bangsa dunia ke tiga.

Kemenangan politik Rishi Sunak di kursi PM, seakan membalas penderitaan bangsa India, yang puluhan tahun terjajah, khususnya Mahatma Gandhi, yang 130 tahun lalu didiskriminasi oleh bangsa kulit putih. Dia pernah diturunkan paksa di stasiun kereta api karena berada di kelas bisnis, padahal dia kulit berwarna. Kelas bisnis hanya diperuntukkan bagi kaum kulit putih. Dia pun diturunkan paksa oleh petugas kereta, meski stasiun tujuannya masih jauh.

Peristiwa yang menyakitkan itu melahirkan semangat “Satyagraha” – gerakan perlawanan rakyat sipil. Pengertian sipil, dalam hal ini, juga mencakup pengertian ‘beradab’ dan ‘sopan’ atau “civilized”; tidak menggunakan kekerasan fisik, walau pada akhirnya para penganut Satyagraha, sebaliknya, harus menerima hukuman fisik dari kolonial.

Laku perjuangan “Satyagraha” juga mencakup sikap “non-kooperatif” atau menolak kerja sama dengan pihak lawan serta menolak tunduk pada ketidakadilan, dengan cara boikot ekonomi, penolakan pajak serta pemogokan kerja.

Selain “Satyagraha” senjata memerdekaan India dari Gandi adalah “Ahimsa”, yang artinya “tidak membahayakan orang lain”.

“Ahimsa” (Sansekerta), berasal dari ‘A’ yang berarti ‘tidak’ (sebagaimana kata ‘Agama’ dan ‘Asusila’ –pen.) dan kata ‘hims’ yang berarti membunuh. Maka “Ahimsa” berarti tidak memiliki keinginan untuk membunuh, tidak membahayakan diri sendiri, orang lain dan seluruh makhluk hidup di bumi.

“Ahimsa” merupakan salah satu prinsip religius yang lumrah ditemui dalam ajaran agama Buddha, Hindu serta Jainisme (salah satu aliran keagamaan di India Barat).

Setelah kemerdekaan, di tahun 1947, orang-orang India menjadikan Inggris sebagai tempat utama migrasi, baik untuk mengais rejeki maupun menggapai pendidikan tinggi. Mahatma Gandhi serta Jahwalal Nehru berhasil memerdekan negeri di Asia Tengah ini, 74 tahun lalu.

Kini posisi terbalik. Pendatang India menembus gedung parlemen dan kini menjadi Perdana Menteri.

Isteri Rishi Sunak, yaitu Akshata Murthy merupakan pebisnis kaya raya yang mendapat julukan “Bill Gates dari India”. Kekayaannya Rp. 12,8 triliun, dua kali lipat kekayaan Raja Charless III.

SEJAK KELUAR dari Uni Eropa (Brexit), perekonomian Inggris kocar kacir, rakyat Inggris kini menyesali, ternyata para politisi elite mereka salah arah, dan mengalami depresi berat, sehingga tidak mampu lagi mengontrol sirkulasi elite politik. Masa bodoh dengan apa yang terjadi di parlemen.

Dan fatal akibatnya. Bayangkan saja, jika ada orang Indonesia jadi Perdana Menteri Belanda?

Maka, kemenangan Rishi Sunak memberi semangat kepada pendukung Anies Baswedan, keturunan Arab-Hadramaut (Yaman), cucu Pahlawan Nasional AR Baswedan, yang diproklamirkan baru baru ini oleh Partai Nasdem yang diketuai Surya Paloh – didukung Jusuf Kalla dan konglomerat Harry Tanoe di belakangnya – sebagai kandidat presiden Indonesia 2024.

Akan tetapi pendukung Anies Baswedan lupa, dan abai bahwa mereka menaikkan jagoannya lewat politik identitas, di Pilgub 2017 lalu, dengan mengerahkan pendakwah Islam garis keras, kampanye ‘AntiCina’, ‘Anti Non Muslim’ – yang melukai mayoritas diam di seantero negeri.

Kini mereka harus siap melawan arus balik – tabur tuai – merenima balasan politik identitas, dari kaum nasionalis pribumi, yang merasa terancam akan terjajah, dengan munculnya keturunan Arab Yaman di panggung politik Indonesia.

Memangnya Indonesia sudah kehabisan orang pintar dari pribumi asli, untuk duduk di Istana Negara, sehingga politisi pembawa politik identitas, keturunan Yaman menguasai negeri ini? Kata mereka.

Selain orang Jawa dan Sunda, bukankah masih ada orang Aceh, Minang, Bugis, Bali, Ambon yang kompeten? Begitu dasar pemikirian arus anti Anies Baswedan.

Di Inggris, karir politik Rishi Sunak melesat karena berjasa mengatasi Inggris dari Covid-19, dan dia tidak meng-Hindu-kan Inggris. Tidak mengkafirkan kelompok pendukung politik lain. Hal yang menjadi andalan pendukung Anies.

Sedangkan Anies Baswedan tak punya prestasi membanggakan. APBD Rp80 triliun per tahun dari masa kerjanya yang empat tahun tak sebanding dengan hasilnya. Jakarta tetap banjir dan semrawut. Aparat Pemda masih korup dan kerja asal asalan.

Bahkan dalam penganggaran, terjadi “mis manajemen” dengan banyaknya kasus “kelebihan bayar”.

MEREKA yang menghebat-hebatkan Anies adalah mesin sektarian yang bekerja berdasarkan emosi, kesamaan agama, rasa minder sebagian pribumi, kaum islam nanggung, yang memuliakan keturunan Arab. Warisan budaya laten.

Mereka melawan Ahok yang keturunan Cina dan Kristen serta menghubungkan dengan dominasi ekonomi Cina, yang akan membawa Cina menjajah Indonesia. Dan kini mengunggulkan keturunan Arab Yaman.

Kini mereka waswas karena bakal menerima serangan balik.

Jika keturunan Cina tidak boleh jadi kepala daerah, kenapa keturunan Arab Yaman boleh? Bahkan dicalonkan memimpin negeri?

Keturunan Cina menunjukan kerja bersih, transparan dan profesional, sementara keturunan Arab kelebihan bayar, pandai mengolah kata, menghindari problem utama dengan sibuk mencari perhatian.

Selanjunya, Menunggu Penerus Jokowi

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.