Sahabat Sejati Itu Harta Terindah Dalam Hidup

Persahabatan itu ibarat dua sisi keping uang logam, kita diajak mempelajari ke dua sisinya agar saling memahami. Untuk selalu bersama, baik dalam suka maupun duka.

Tanpa ada keinginan untuk saling memahami satu dengan yang lain, hubungan itu hanya sebatas pertemanan biasa. Padahal untuk memperoleh sahabat sejati itu sulit. Kita seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Membangun persahabatan itu yang utama adalah berani bersikap jujur, saling mempercayai, dan kerelaan berkorban dengan ikhlas. Bukan seperti persahabatan yang dibangun berdasar untung dan rugi. Selama menguntungkan persahabatan tetap berlangsung, kalau merugikan cenderung mengorbankan sahabat.

Dalam menjalin persahabatan, baik suka maupun duka itu mengajar kita pada kedua sisinya. Ketika sedih atau berduka, kita belajar rasa sakit, kehilangan, atau kegagalan. Sahabat hadir untuk mengingatkan, menguatkan, menghibur, dan menyemangati agar kita bangkit kembali menjadi pemenangnya.

Begitu pula, ketika senang, kita belajar arti kemenangan, prestasi, pujian, dan perjuangan itu sendiri.
Kita jangan mudah terlena atau berpuas diri, sebaliknya agar kita semakin termotivasi, lebih berprestasi, dan rendah hati.

Jadi, makin jelaslah perbedaan antara pertemanan dan persahabatan.

Sahabat itu tidak mau menyalah-gunakan hubungan persahabatan untuk keuntungan sendiri atau hal negatif. Sahabat itu selalu hadir di saat kita sukses atau gagal. Ia siap membantu kita, kapan dan di manapun, karena yang menjadi fondasi dan perekat utama persahabatan adalah pengorbanan dan ketulusan hati.

Persahabatan itu juga tanpa syarat. Bisa terjalin di mana dan kapan saja. Tidak ada aturan yang mampu membatasi dimensi persahabatan, baik agama, usia, status, suku, bahasa, dan sebagainya.

Hubungan persahabatan semakin bernilai, ketika kita berani perbarui diri agar hidup semakin berkualitas ke arah yang lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita diundang dan diajak untuk menjadi sahabat sejati bagi yang lain. Persahabatan yang jauh dari egoisme dan mencari keuntungan sendiri.

Sahabat sejati selalu mudah untuk memaafkan sahabatnya yang khilaf atau berbuat salah, tanpa terlebih dulu ia meminta maaf.

Semoga kita mampu menjadi sahabat bagi sesama agar kita menemukan persaudaraan sejati. (MR)

Ketika Semua Serba Salah, Kita Mencari yang Benar

Ibu Sebagai Sumber Kehidupan

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang